Dukungan VIP

1625 Kata

Ivan segera membungkam mulutnya, wajahnya kaku karena malu dan penyesalan. Ia sadar betul betapa kasarnya ucapannya barusan. Widyawati sudah menatapnya dengan ancaman yang jelas. 'Habis kamu kalau macam-macam sama Fatma! Widyawati kembali memfokuskan perhatiannya pada Fatma, mengabaikan Ivan seolah putranya adalah perabotan. Ia mengelus lembut tangan Fatma yang masih menggenggam erat. "Maafkan Ivan, Sayang. Dia tidak bermaksud begitu. Dia memang terlalu serius, maafkan ucapannya," kata Widyawati, suaranya dipenuhi ketulusan. Fatma berusaha tersenyum, tetapi matanya berkaca-kaca. "Nggak apa-apa, Ma. Saya mengerti. Itu memang kedengarannya konyol, mencari makam tanpa petunjuk." "Tidak konyol, Fatma! Itu tulus," tegas Widyawati. Ia menoleh ke Ivan. "Ivan, kamu dengar Mama? Fatma butuh ba

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN