Gilang duduk di depan lobi perpustakaan. Ia tak kunjung keluar. Sedari tadi memoles-moles laptop membaca layar ponsel. Berita mengenai seorang bintang iklan sedang naik daun, memenuhi ruang-ruang publik, menjadi perbincangan di sela-sela meja makan, hingga menyelinap ke pikiran Gilang. Bibirnya tetiba tersungging sinis. Kejayaan-kejayaan yang membuat seorang lupa pada tanah ia terlahir. Gilang mengepalkan tangan di atas bangku panjang, ia memukul meja tanpa sepengetahuan pengunjung. "Cantik yang dijadikan senjata," gumamnya tiba-tiba. "Siapa yang cantik?" tanya Maila sambil menutup loker. Ia baru mengambil tas dan jaket. "Bukan sesiapa, hanya figur murahan!" Lantas senyum mengembang. "Oh kirain aku cantik, hehehe." "Kau tidak cantik, Maila," suara Gilang terdengar lirih. "Oke bu

