"Darel sahabatku dari masa SMA, kami sangat akrab, jika bukan karena harus ke Finlandia, kami tidak akan berpisah, Maila." Suara Savina menggetarkan hati serta akal pikiran. Ia enggan melangkah pulang, menetap pun tak berteman. Baru kali ini ia merasa gelisah paling akut, khawatir tancapkan luka pada orang paling dekat. Savina. Ia bukan orang bodoh, jelas sekali Savina cemburu karena Darel mengajaknya makan. "Entah kenapa, setelah aku pulang dari luar negeri, sikapnya agak berubah padaku, mungkinkah itu karenamu?" tuduh Nina— Savina sahabat kecil yang paling rekat. Ia menemukan wajah lain dari aura Savina, kecewa paling akut, juga ketidakpahaman waktu yang merencenakan takdir semau diri. Neon kamar membasuh kekecewaan, tapi sunyi yang menjalar selebat hujan, membuat Savina tidak bisa mem

