"Aku mampir ke rumahmu!" Tulis pesan chat Darel lalu dikirimkan ke kontak Savina. Perjalanan dimulai. Ia mengungsikan diri dari keramaian kota. Meliuk-liukkan roda pada tanjakan dan turunan tajam. Pohon-pohon perindang jalan menyaksikan mobilnya melesat sendirian di jalan raya. Pada jalan trotoar bisa dilihat puluhan langkah anak-anak sekolah menyandang ransel melangkah pulang menjauhi kepenatan di atas bangku-bangku peradaban. Sawah-sawah mengheningkan cipta saat padi mulai sepakat merundukkan diri. Pegawai-pegawai bumi melepas tudung kepala, membiarkan terik menciumi kulit pipi. Traktor menghela napas, obyek penolong perserikatan petani-petani zaman modern tersebut duduk menyendiri di pinggiran lahan yang telah dibajak. Darel terus melaju kencang, meski pendorong gerobak bakso kaget

