Maila meletakkan tas ke dalam loker. Hanya ponsel dan kartu anggota yang ia bawa. Siang ini ia pulang lebih awal. September berakhir, deadline mengenai Dapodik tuntas. Lembaga-lembaga di bawah naungannya semua telah mengirimkan data kecuali sekolah Bu Rumi, dipaksa bagaimanapun sekolah itu tetap akan diberhentikan, sebab uang muka pembayaran tanah telah diterima Kepala Desa. Harapan kandas, kecuali ada keajaiban datang di tengah-tengah musim pancaroba. "Mbak Maila," sapa petugas perpustakaan. Ia meletakkan beberapa lembar uang di atas meja peminjaman buku. "Kata pengunjung ini uang Anda, kemarin tertinggal di ruang baca." Astaga! Pemuda menyebalkan itu selalu memperpanjang alasan untuk bertemu. Maila menelan air liur getir. Ia gemas, mengulum senyum manis tanpa ketulusan, kemudian menga

