Cahaya ruangan menembus masuk retina Maila. Ia mengerjabkan perlahan. Kelopaknya bergerak-gerak menyeimbangkan penglihatan. Suara hening merayap di dinding ruangan. Sebuah TV LCD tergantung berkawan seekor cicak yang tengah meracau. Maila berhasil membuka mata. Entah sejak kapan selang oksigen telah menyumpal ke dua lubang hidung. Ia merasa jauh lebih baik. Leher digerakkan menoleh, pintu ruang dengan cat serupa tubuh tanah liat tertutup rapat. Malam berdetak pada jantung sunyi yang pekat. Tak ada tanda-tanda ada aktivitas manusia di luar pintu. Lorong rumah sakit seperti bangunan tanpa nyawa, senyap membawa gigil dari jalanan. Pupil mata Maila berpindah pada seorang pemuda yang menyandarkan kepalanya di sofa. Ia terpejam, tangan terlipat di depan d**a. Kemeja putih digulung sampai siku.

