"Bagaimana jika Papa sampai tahu semua ini? Bagaimana reaksinya nanti? Ah, dia pasti akan sangat kecewa dan marah besar padaku!" Sinta merasa panik ketika teringat akan ayahnya. Ia tahu betul jika ayahnya–Rendra Utama Syailendra, selalu mengutamakan nama baik di atas segalanya.
Sinta menggeleng kuat. "Nggak! Jangan sampai Papa tahu kejadian ini! Aku harus menyimpannya rapat-rapat," ucap Sinta sambil mengusap air mata di wajahnya.
Wanita itu lantas segera membersihkan tubuhnya yang terasa sangat lengket karena keringat Damian sepertinya juga berbaur dengan keringannya. Nasi sudah menjadi bubur sekarang. Sinta tidak bisa terus-menerus menangisi apa yang sudah terjadi.
Selesai mandi, Sinta menelpon asistennya untuk membawakan pakaian ganti. Dengan mengenakan bathrobe, ia berdiri menatap ke luar jendela. Wanita berbibir tipis itu berusaha mengingat kembali apa yang terjadi semalam.
Awalnya dia biasa-biasa saja. Namun, saat bersama dengan Karla, ia merasa saat itulah semua mulai terasa aneh. Ia merasa sudah tak lagi sadar sepenuhnya.
"Apa ini ada hubungannya dengan Karla?" batin Sinta curiga. Sinta bukan bermaksud menuduh adiknya itu, tetapi entah kenapa, pikirannya langsung tertuju pada Karla.
Lamunan Sinta langsung buyar saat mendengar suara bel pertanda ada yang sedang menunggu di depan pintu kamar untuk masuk.
Saat pintu dibuka ternyata asisten pribadi sekaligus sahabat Sinta yang bernama Hanna datang membawa pakaian ganti yang berupa blouse berwarna biru dongker serta celana linen hitam dan juga blazzer berwarna senada.
“Hanna, aku perlu bantuanmu sekarang!” kata Sinta sambil mengenakan pakaiannya.
“Iya, Nona Sinta, katakan saja!” sahut Hanna tanpa ragu.
“Aku ingin, kamu hapus semua rekaman CCTV tadi malam dan juga pagi ini, terutama jika ada aku dalam rekaman itu. Hapus semuanya!” perintah Sinta tanpa menjelaskan alasannya.
Hanna menatap bosnya dengan mengernyitkan kening, tetapi beberapa detik kemudian ia berkata, “Baik, Nona! Saya akan ke ruang keamanan hotel,” jawab Hanna sambil mengangguk.
“Satu lagi, cepat selidiki apa yang sudah terjadi tadi malam di pesta! Dan, pastikan juga, tidak ada satu orang pun yang tahu soal kejadian pagi ini! Jika ada orang yang tahu soal kejadian semalam, buat mereka tutup mulut! Kamu mengerti apa yang aku maksud, ‘kan?” ujar Sinta dengan raut wajah yang tampak serius itu.
Hanna pun terlihat kaget karena merasa aneh dengan permintaan Sinta, tetapi sebagai bawahan, ia paham akan posisinya untuk tidak bertanya apa pun. “Saya mengerti, Nona.” Wanita muda itu mengangguk singkat, kemudian berbalik dan pergi meninggalkan kamar tersebut untuk melakukan semua perintah yang sudah Sinta berikan.
Sementara itu, Sinta kembali berdiri di depan jendela kamar hotel yang menampilkan pemandangan jalanan pusat kota Jakarta. Ia kemudian melipat kedua tangan di depan d**a dengan sorot mata tajam.
Wanita cantik itu berusaha mengingat kembali semua hal yang terjadi sebelum akhirnya dia berakhir di kamar pria asing itu. Sinta ingat jika semalam, dia tidak menyentuh sedikit pun minuman beralkohol yang ada di pesta perayaan hari jadi pernikahan ayah dan mama tirinya, kecuali minuman yang diberikan oleh Karla.
Lalu, kenapa dia mendadak tidak sadar sepenuhnya? Apa yang membuatnya berakhir di kamar pria asing itu? Apakah karena minuman yang diberikan oleh Karla?
"Ya Tuhan, apa sebenarnya yang direncanakan Karla? Jika itu benar ulahnya, apa dia sengaja melakukannya?”
***
Di tempat lain, sosok pria tampan bertubuh tinggi tegap dengan bahunya yang lebar serta otot perutnya yang membentuk sixpack sedang berjalan keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggulnya.
Tetesan air yang mengalir dari ujung rambutnya yang masih basah itu, seakan menambah aura sexy dalam dirinya. Dia begitu sempurna, dia pasti akan membuat wanita tergila-gila padanya.
Pria itu tak lain adalah Damian Wijaya. Di usianya yang masih tergolong muda, 33 tahun, Damian telah menjabat sebagai seorang CEO. Tentu saja, ada banyak wanita di luar sana yang siap merangkak ke atas tempat tidurnya dan berharap kalau mereka bisa menjadi pendamping hidup dari seorang CEO Wijaya Group itu.
Sayangnya, tidak banyak orang yang tahu jika hati sang pria tampan yang dikenal bersifat dingin itu rupanya sudah ada yang punya.
Ah, tidak! Lebih tepatnya, Damian baru saja mengalami patah hati setelah mendapati kekasih yang sangat dicintainya ternyata berselingkuh dengan pria lain. Karena itulah, Damian berakhir di hotel itu karena mabuk. Namun, siapa yang menyangka jika dia akan kedatangan seorang wanita yang membuatnya seketika lupa akan perbuatan mantan kekasihnya itu.
Tidak hanya membuatnya lupa dengan sang mantan, bahkan wanita itu berhasil membuat Damian mencapai kepuasan yang luar biasa. Hal itu tidak pernah didapatnya dari wanita mana pun yang sudah ditidurinya.
Segurat senyuman tipis pun tampak muncul di sudut bibir Damian saat suara desahan gadis itu kembali terdengar menggema di dalam pikirannya.
Meski samar karena lampu yang temaram dan dalam pengaruh alkohol, Damian masih bisa mengingat dengan jelas bagaimana wanita itu memohon dan mendesah di bawah pelukannya. Napas yang terengah-engah, bibirnya yang basah, serta dadanya yang naik-turun, memperlihatkan bagaimana ia benar-benar menginginkan Damian.
Baru membayangkannya saja sudah membuat “adik kecil” milik Damian di bawah sana kembali terbangun dan berdiri dengan tegaknya. Hal ini membuat Damian segera melempar tatapannya ke atas ranjang, berharap wanita tadi masih berada di sana.
“Ah, Sial! Kenapa aku jadi memikirkan wanita itu?” umpat Damian sambil melempar handuk kecil yang ia gunakan untuk mengeringkan rambutnya.
Sesaat kemudian Damian tertegun. Seingatnya, semalam ia tidak meminta Devan–sekretaris pribadinya untuk mengirim seorang wanita ke dalam kamarnya. Dia bahkan meminta sekretarisnya itu untuk tidak mengganggunya.
Lalu, siapa wanita itu? Apa mungkin, salah satu saingan bisnisnya yang mengetahui Damian datang ke hotel itu dan diam-diam mengirimkan wanita itu?
Damian mengingat semua hal tentang wanita itu, entah bagaimana dia pertama masuk ke kamarnya sambil melenguh dan mengatakan dirinya sangat kepanasan. Lalu, Damian juga ingat, bagaimana suara gadis itu yang mendesah sexy di ceruk lehernya, dan aroma tubuhnya yang terasa sangat memabukkan.
"Jika dilihat dari caranya masuk semalam, sepertinya dia salah masuk kamar," gumam Damian sembari menaiki tempat tidur kemudian menarik selimut yang menggulung di atas ranjangnya itu. Namun, gerakannya tiba-tiba terhenti saat sudut matanya tidak sengaja menangkap noda merah yang membekas di atas sprei ranjangnya. Damian terdiam sejenak, dia menyadari noda merah apa yang ada di atas ranjangnya itu.
Dia teringat kalau semalam dia kesulitan membobol pertahanan wanita itu. Jadi, darah itu pasti berasal dari kewanitaan yang telah direnggutnya semalam, Damian pun seketika meragukan pemikirannya yang mengira kalau wanita itu adalah wanita bayaran yang sengaja dikirim untuknya, tetapi jika dia memang bukan gadis bayaran, lalu siapa dia sebenarnya? Kenapa gadis itu tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya dan menggodanya?
"Jangan-jangan, ada orang yang mencoba menjebakku?" pikir Damian curiga. Sebagai seorang CEO, Damian tentunya memiliki banyak saingan di luar sana yang dapat melakukan apa pun demi menjatuhkan reputasi dan menghancurkan hidupnya.
Dan, bukan tanpa sebab pula Damian berpikir seperti itu karena sebelumnya, hal serupa pun pernah terjadi padanya. Ada seorang wanita yang tiba-tiba berusaha mendekatinya dan menggodanya setengah mati.
Wanita itu pun selalu muncul di mana pun Damian berada dan selalu berusaha untuk bisa 'tidur' dengannya. Setelah diselidiki, rupanya wanita itu adalah suruhan dari salah satu saingan bisnis Damian.
“Tapi ... kalau memang wanita itu adalah orang suruhan dari salah satu sainganku, lalu ... kenapa dia pergi?” gumam Damian heran. "Bukankah seharusnya wanita itu tetap tinggal dan terus menggodaku? Atau ini cara baru mereka untuk menjatuhkanku?” Pria itu pun berusaha memutar kembali ingatannya tadi malam, dia memang mabuk tetapi dia masih dapat mengingat jelas bagaimana wanita itu tiba-tiba masuk kamarnya dan mengeluhkan soal dirinya yang kepanasan.
"Astaga! Semalam aku kan tidak pakai pengaman. Bagaimana kalau dia sampai hamil?" Ingatan itu seketika mengusiknya. "Kalau wanita itu memanfaatkan kehamilannya untuk meminta pertanggungjawabanku bagaimana? Sial! Sepertinya aku harus mencari wanita itu secepatnya!” gumamnya dengan kedua matanya yang berkilat terang.