BAB 3. Menghilangkan Barang Bukti

1021 Kata
"Ini tidak mungkin!" jerit Karla tertahan, jemari lentiknya menutup erat mulutnya yang terbuka lebar. Matanya melotot menatap layar CCTV yang memperlihatkan Damian yang sedang keluar dari kamar hotel. "Sial, ternyata laki-laki itu Damian Wijaya!" makinya dengan raut kesal. Gagal sudah rencananya untuk menjatuhkan Sinta dengan cara memperlihatkan rekaman CCTV keburukan kakak tirinya itu pada sang Ayah. Jika dia tetap nekat, maka dia akan dihabisi oleh penguasa dari perusahaan Wijaya Group itu karena telah berani menyebarkan skandal yang pastinya akan menjatuhkan nama baik perusahaan mereka. Namun, ada hal yang paling menakutkan bagi Karla, yakni kebahagiaan Sinta. Kalau sampai Karla tetap memperlihatkan rekaman video itu, maka ada kemungkinan Sinta akan menikah dengan Damian. "Ah, Tidak! Tidak! Itu tidak boleh terjadi!" Karla menggeleng kuat. Rencana awalnya adalah ingin menghancurkan masa depan Sinta, bukan membantunya menjadi istri dari lelaki yang digilai kaum hawa, termasuk dirinya. "Lebih baik, aku menghapus semua rekaman dari kejadian semalam!" Karla pun langsung menghapus semua rekaman itu tanpa ada yang tersisa. Setelahnya, dia mengeluarkan amplop tebal dari dalam tas kemudian memberikan pada seorang lelaki yang di dadanya tergantung sebuah ID card yang bertuliskan Seno Dermawan. "Jangan sampai ada yang tahu tentang apa yang terjadi semalam kalo tidak ingin hidupmu berakhir di penjara!" ancam Karla pada lelaki yang bertugas sebagai pengawas di ruang CCTV itu. "Beres, Non. Saya akan menjaga rahasia ini dari siapa pun." Seno tersenyum senang. Baginya, uang di tangannya itu lebih dari apa pun. Karla rela mengeluarkan uang berapa pun juga agar Sinta tidak menggantikan ayahnya sebagai CEO Syailendra Grup selanjutnya karena tujuan terbesarnya selama ini adalah menguasai perusahaan milik papa tirinya itu. Tidak lama setelah Karla keluar dari ruangan itu, Hanna melangkah masuk. Wanita itu bebas melakukan apa saja karena hotel itu memang di bawah naungan perusahaan ayah Sinta. Sementara Sinta sendiri menjabat sebagai salah satu direktur di perusahaan itu. Dalam melakukan pekerjaannya, Hanna selalu teliti, begitu pun kali ini. Saat tengah serius, tiba-tiba ponselnya berdering. “Iya, Nona Sinta, ada apa?” sahut Hanna saat menerima telepon dari atasannya itu. “Hanna, kamu sudah mengurus semua CCTV itu, kan?” “Iya, sudah, Nona. Saya sudah menghapusnya secara permanen untuk di data keamanan, tapi untuk berjaga-jaga dan demi penyelidikan ke depannya saya sudah menyalin hard copy-nya.” Sinta tersenyum puas. Seperti biasanya, Hanna selalu memberikan hasil terbaik tanpa dia suruh atau ingatkan. Sinta benar-benar beruntung memiliki sekretaris sepertinya. “Kalau begitu, aku juga ingin kamu mengurus semua video CCTV yang merekam Karla,” titah Sinta kemudian. “Karla?” Hanna terdengar sedikit terkejut dan heran di waktu bersamaan saat tiba-tiba saja atasannya itu menyebut nama adik tirinya karena tidak biasanya Sinta membahas soal Karla. “Memangnya kenapa saya harus mengurus semua rekaman CCTV Karla juga?” tanya Hanna penasaran. Dia tidak mengerti. Apa Karla melakukan hal buruk, seperti mabuk misalnya? Jika iya, maka ia tidak akan peduli pada gadis menyebalkan itundan akan membiarkan rekaman CCTV-nya beredar begitu saja. Terdengar jahat memang, tapi itu dikarenakan gadis itu tahu betul bagaimana Karla berpura-pura baik pada Sinta. Maka dari itu, Hanna begitu membenci sang adik tiri. “Hm, kalau kubilang ... dia menjebakku semalam, kamu mau apa, Hanna?” seloroh Sinta dengan santainya. Hening. Dalam beberapa saat Hanna terdiam cukup lama hingga kemudian ia pun kembali bersuara dengan teriakannya yang lantang. “Apa?! Jadi si Karla menjebak, Nona?!” Sinta seketika menjauhkan ponselnya dari daun telinganya karena suara teriakan Hanna yang begitu nyaring dan nyaris membuat indera pendengarannya berhenti berfungsi. “Y-ya ... begitulah,” jawab Sinta kemudian. “Tapi aku masih belum tahu pasti, siapa saja dalang di balik rencananya itu. Aku curiga kalau dia sudah mencampurkan minumanku dengan obat perangsang,” terang Sinta panjang lebar. “Apa?!” Hanna kembali berteriak. “Obat perangsang?! Apa dia sudah gil4?!” bentaknya, tetapi sesaat kemudian, wanita itu tersadar dengan sikapnya. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri, untung saja dia sendirian di sana. “Ah, maaf, Nona Sinta. Saya tidak bermaksud berbicara seperti ini pada Anda dan bukan bermaksud mengatai Anda juga, saya hanya—” “Iya, aku tau, Hanna. Tidak apa-apa. Kamu pasti terkejut mendengarnya. Jadi, itu wajar menurutku. Pokoknya, jangan lupa semua yang aku perintahkan tadi! Selidiki semua hal tentang Karla dan simpan baik-baik semua rekaman CCTV yang menunjukkan apa yang dilakukan Karla semalam,” kata Sinta dengan ekspresi wajahnya yang kembali terlihat serius. “Baik, Nona. Saya akan melakukannya.” “Oh iya, Hanna. Aku juga ingin kamu menyelidiki satu hal lagi,” ujar Sinta kemudian. “Ya, tentu, katakan saja Nona.” “Aku juga mau, kamu menyelidiki seorang pria.” “Seorang pria?” “Ya.” Sinta mengangguk dengan ekspresi wajahnya yang semakin mengeras. “Pria yang sudah tidur denganku semalam.” Hening. Hanna kembali terdiam di ujung sana. Seakan-akan kesulitan untuk mencerna apa yang baru saja dikatakan oleh atasannya itu. “Ehm ... maksud Nona, apa?” tanya Hanna terheran-heran. Dia jelas belum mengetahuinya karena Sinta belum menceritakan secara detail apa yang sudah terjadi kepadanya tadi malam. Akhirnya, Sinta mengatakan alasan kenapa tadi malam dia tidak ada di dalam kamar hotelnya sendiri dan malam berada di kamar VVIP lainnya. Pada akhirnya, Sinta tidak punya pilihan lain, selain menceritakan semua terjadi pada Hanna. Setelah mendengarkan semua cerita itu, Hanna pun berusaha mati-matian untuk tidak meledak dalam amarahnya. Bahkan, saking kesalnya, dia sampai meneteskan air mata. “Karla b******k! Wanita penyihir! Dia sangat menjijikan!” hardik Hanna kesal. Dia benar-benar emosi setelah mendengarkan apa yang terjadi pada Sinta semalam. “Harusnya Anda mencekik lehernya, Nona!” Sinta tersenyum mendengarnya. “Berhati-hatilah! Ingat! Karla adalah anak kesayangan Papa dan kita belum punya bukti yang kuat.” “Dia hanya beruntung saja bisa jadi anak kesayangan Tuan Rendra. Seandainya dulu Tuan Rendra tidak jatuh cinta pada Nyonya Kalina, tidak mungkin Karla ada di posisi saat ini!” gerutu Hanna semakin jengkel. Dan sekali lagi, Sinta merasa bersyukur memiliki Hanna karena wanita itu selalu bisa mewakilkan perasaan Sinta yang tak dapat tercurahkan olehnya secara langsung. Tanpa Hanna sadari, ada dua pasang mata yang sedang memperhatikannya dari ruangan lain. "Hana ... kamu begitu membela tuanmu, tapi lihat saja nanti, aku pasti akan membuatmu merangkak menjauhi tuanmu itu!" Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN