BAB 4. Mulai mencari tahu

1423 Kata
Setelah kejadian di malam itu, Sinta pun mulai kembali disibukkan dengan segudang pekerjaannya di kantor. Menjabat sebagai salah satu Direktur di perusahaan ayahnya membuat Sinta tak dapat membuang waktunya dengan percuma. “Ini teh-nya, Nona.” Hanna meletakkan secangkir teh hangat di atas meja Sinta. “Terima kasih.” Senyum Sinta sambil menoleh padanya sekilas, lalu kembali fokus pada tumpukan laporan yang harus dia segera periksa dan tandatangani. Hanna pun mengangguk, tapi tak kunjung bergerak dari posisinya yang berdiri di hadapan meja kerja Sinta sehingga membuat sang bos mau tidak mau, jadi beralih menatapnya. “Ada apa, Hanna? Kamu ngapain terus berdiri di sana?” tanya Sinta sembari tersenyum. Ia sudah sangat mengenal sekretarisnya ini. Jika Hanna sudah bersikap seperti ini, pasti ada yang dikhawatirkan oleh gadis tersebut. “Anda, baik-baik saja kan Nona?” tanya Hanna kemudian, terlihat khawatir. “Ya, tentu saja. Aku tidak apa-apa. Aku bisa menerima kenyataan buruk ini, nggak usah terlalu dipikirkan,” kata Sinta dengan santai. “Ah, lalu, apa kamu sudah mendapatkan yang aku minta kemarin?” lanjut Sinta bertanya. “Ah, soal itu...” Hanna lantas merogoh saku blazzernya dan mengeluarkan sebuah USB berukuran kecil, lalu meletakkan benda tersebut di atas meja. “Seperti yang Anda minta, saya sudah menghapus semua video yang merekam Anda di malam itu. Saya juga sudah menyalin semua cctv di malam itu ke dalam USB ini untuk penyelidikan lebih lanjut, dan soal Karla ... saya rasa, dia sudah menyuruh seseorang untuk menghapus lebih dulu semua bukti rekaman cctv yang menunjukkan dia keluar dari hall room hotel atau pun ketika dia mengantarkan Anda ke lift,” terang Hanna panjang lebar. “Ah ... jadi, dengan kata lain, dia pasti sudah merencanakan semuanya ‘kan?” sahut Sinta, dan Hanna pun tampak mengangguk singkat. “Dan saya rasa, Karla bukan satu-satunya yang terlibat dalam rencana kotor di malam itu,” ucap Hanna. Sinta mengangguk setuju lalu mendesah berat. “Kamu benar. Aku yakin, anak itu tidak mungkin merencanakan semua hal sematang ini tanpa bantuan seseorang. Tapi, masalahnya siapa? Siapa orang yang ingin mencelakaiku sampai-sampai membuat jebakan menjijikan seperti itu?” ucap Sinta sambil memegangi ujung pelipisnya yang mendadak terasa berdenyut. “Anda tidak perlu khawatir, nona Sinta. Saya akan terus menyelidiki semua kejadian ini, sampai kebenarannya terungkap,” tekad Hanna. Semenjak dia tahu, kalau Sinta sudah dijebak oleh Karla-adik tirinya sendiri, Hanna bersumpah akan menguak kebenaran di balik kejadian tersebut. Hanna bahkan sempat tak bisa mengontrol emosinya ketika mengetahui hal mengerikan tersebut terjadi kepada orang yang sangat dia pedulikan di dunia ini. “Terima kasih, Hanna. Aku tahu, kamu satu-satunya orang yang bisa aku andalkan,” puji Sinta tulus. “Nona. Anda banyak bilang begitu! Ada banyak orang di luar sana yang juga peduli pada Anda, termasuk Pak Rendra, ayah Anda,” tukas Hanna. Namun, Sinta hanya tersenyum menanggapi ucapan sekretarisnya itu. Mungkin, orang-orang berpikir kalau Rendra Utama Syailendra adalah sosok yang begitu peduli dan menyayangi semua anggota keluarganya. Tetapi kenyataannya tidak seindah itu. Sinta tahu, jika sang ayah lebih mengutamakan perusahaannya serta nama baik keluarga yang dimilikinya di atas segala-galanya. Rendra Utama Syailendra tidak akan pernah bisa memaafkan siapapun yang sudah membuat nama baiknya tercoreng, bahkan kepada anaknya sendiri. Karena itulah, Sinta selalu berusaha semaksimal mungkin agar ia bisa menunjukkan hasil terbaiknya kepada sang ayah. “Dan nona ... soal identitas pria itu ...” Hanna tak melanjutkan kalimatnya. Lidahnya mendadak terasa kelu saat dia harus kembali membayangkan kejadian di hari itu, dimana saat Sinta menghabiskan malamnya dengan seorang pria yang tidak sempat ia lihat wajahnya dengan jelas. Sementara itu, Sinta yang memang sebelumnya pun sudah sempat meminta Hanna untuk menyelidiki tentang sosok pria asing yang ‘tidur’ dengannya di malam itu, terlihat tidak sabar menunggu penjelasan Hanna. “Gimana? Apa sekarang kamu sudah dapat identitasnya? Siapa pria itu? Apa dia ada hubungannya dengan Karla?” Sinta memburu Hanna dengan berbagai pertanyaannya. Namun, bukannya memberi jawaban, Hanna malah terlihat menundukkan wajahnya, lalu berkata, “Maafkan saya, Nona. Tapi ... saya tidak bisa mendapatkan identitas pria itu.” “Tidak bisa?” Kedua alis Sinta seketika bertautan. “Maksudnya?" “Menurut pihak hotel, pria itu masuk ke dalam list tamu VVIP, dan tidak ada yang dapat mengakses informasi tentang pria tersebut, selain ... ayah Anda sendiri,” terang Hanna. “Ah ..." Sinta jelas tak dapat menutupi rasa kecewanya ketika mendengar penjelasan tersebut. Padahal, dia berpikir, jika pria tersebut ada hubungannya dengan Karla, dan mungkin saja, pria itu bisa menjadi ‘kunci’ dari rencana yang sudah dibuat adik tirinya tersebut. “Tapi saya rasa, pria itu tidak ada hubungannya dengan Karla,” lanjut Hanna kemudian. Sinta lantas kembali mendongak, menatap Hanna dengan kening berkerut. “Gimana kamu bisa yakin?” “Karena saya pikir, orang seperti Karla tidak mungkin memiliki koneksi dengan pria itu. Saya rasa, pria itu memiliki status yang sangat tinggi, sampai-sampai Anda sendiri tidak bisa mengakses datanya ‘kan?” terang Hanna lagi. Sinta terdiam sejenak, tampak berpikir. Apa yang dikatakan Hanna memang masuk akal. Sejauh ini, Karla memang memiliki banyak koneksi, tapi tidak ada satupun dari mereka yang tidak dikenal Sinta. Terlebih lagi, kalau membahas soal koneksi, Sinta jelas jauh lebih di atas Karla. Sampai-sampai, hal ini pun sempat dipermasalahkan Karla yang berpikir kalau Sinta sudah menghalangi dirinya untuk masuk ke dalam circle para petinggi penting di luar sana. “Tapi meskipun begitu, saya akan sebisa mungkin tetap mencari tahu tentang pria itu. Anda tidak perlu terlalu memikirkannya,” tambah Hanna, ia tidak ingin membuat Sinta bertambah stres dengan masalah yang sedang dihadapinya itu. Sinta kemudian mengulum senyum dan mengangguk padanya. “Oh iya Hanna, sepertinya aku ingin kamu menyelidik satu orang lagi,” kata Sinta lagi. “Akan saya lakukan, Nona. Siapa yang ingin Anda selidiki?” tanya Hanna penuh minat. Ekspresi di wajah Sinta seketika berubah muram. “Kalina Fernandes. Aku ingin kamu menyelidikinya.” Hanna pun seketika diam tertegun di tempatnya. Gadis itu jelas tampak sedikit terkejut dan bingung dengan permintaan Sinta. Pasalnya, selama ini, meskipun hubungan di antara Sinta dan Kalina tidak begitu baik, tapi Hanna tahu betapa Sinta sangat peduli dan menyayangi ibu tirinya itu. Bahkan, ketika dulu, Hanna pernah mengatakan jika Sinta tidak boleh terlalu percaya pada ibu tirinya itu, Sinta sempat memarahinya dan memperingati Hanna untuk tidak bicara buruk tentang ibunya tersebut. Namun, apa yang terjadi sekarang? Kenapa tiba-tiba saja, atasannya ini menyuruh Hanna untuk menyelidiki tentang wanita paruh baya itu? “Maksud Anda ... Kalina ... ibu Anda?” tanya Hanna memastikan. “Ya.” Sinta mengangguk dengan perasaan berkecamuk di dalam hatinya. Di satu sisi, dia tidak ingin mencurigai ibunya, tapi di sisi lainnya, Sinta juga tidak dapat mengabaikan begitu saja kecurigaan yang timbul di dalam hatinya. Jadi, mau tidak mau, dia harus mencari jawabannya sendiri atas kecurigaannya itu, dan gadis ini berharap, kalau mama Kalina tidak terlibat dengan rencana apapun, seperti yang ditakutkan oleh Sinta saat ini. “Baiklah, Nona Sinta. Saya akan melakukannya,” jawab Hanna. Pada akhirnya, Hanna kembali ke hotel untuk mencari sesuatu yang berhubungan dengan musibah yang menimpa bosnya. Di lorong hotel wanita itu melangkah cepat dan tegap, sesaat kemudian ia mengangkat lengan kirinya lalu menatap jarum jam yang baru menunjuk ke angka sembilan, dia merasa yakin saat ini aman untuknya memasuki ruang CCTV dikarenakan para pengurus Hotel Syailendra berkemungkinan masih sibuk di ruang kerja masing-masing. Saat Hanna melihat jam tangannya, dari arah berlawanan seorang lelaki berpakaian rapi membawa paper bag sedang berjalan tergesa-gesa sambil menatap layar ponselnya. Karena sama-sama tidak melihat ke depan akhirnya keduanya bertabrakan dan hampir terjatuh. "He! Kalau jalan pakai mata!" teriak Hanna kesal sambil berusaha kembali berdiri tegak. Kemudian ia menepuk-nepuk baju dan roknya yang tadi mengenai lelaki di hadapannya. "Jalan itu pakai kaki bukan pakai mata!" balas lelaki itu ketus. Ketampanan wajahnya sesaat membius Hanna tetapi ucapannya yang kasar membuat kekaguman wanita itu seketika sirna. "Iya, jalan itu memang pakai kaki, tapi mata itu buat melihat supaya tidak menabrak orang!" sahut Hanna jengkel. "Eh ... Anda yang menabrak saya, Nona!" Lelaki Itu tidak mau kalah. Mata Hanna melotot tidak terima dengan tuduhan lelaki egois itu. "Sembarangan! Kamu yang menabrak saya, ya!" Keduanya saling melotot dengan tatapan mengintimidasi, keduanya merasa benar dan tidak mau disalahkan. Akan tetapi keduanya menunduk serempak karena dering ponsel yang kebetulan hidup bersamaan. "Ya, Non." Hanna langsung melanjutkan langkahnya sambil menerima telpon dari Sinta. Sementara lelaki itu melebarkan langkah karena bosnya meminta untuk mendapatkan informasi secepatnya. "Ya, Pak Damian. Saya sudah di Hotel Syailendra," jawab lelaki yang ternyata Devan asistennya Damian. Dia kembali ke hotel Syailendra untuk mencari jejak wanita yang telah tidur dengan bosnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN