Siang itu memang terasa dingin karena hujan deras sejak jam sepuluh pagi. Tapi, bagi orang di kamar hotel nomor dua belas kosong delapan, sangat panas. Chaca dan Satya melepas hasrat di saat jam makan siang tiba. Keduanya memadu kasih, menyalurkan kehangatan masing-masing. “Cha, apa seharusnya aku kembali ke perusahaan?” Tanya Satya yang tidur di samping Chaca. “Ya’, kamu sudah lama tidak berkumpul bersama keluarga. Perusahaan keluargamu jauh lebih besar dari perusahaan ku. Tenang saja, Ya’. Aku bisa menghadapi orang itu.” Chaca tidak ingin suaminya ikut campur untuk mengalahkan pamannya yang licik itu. “Tapi Cha, kamu belum begitu tau....” “Meremehkan aku? Kamu saja bertekuk lutut di hadapan ku.” Sombong Chaca. “Itu dua hal yang berbeda, sayang.” Kata Satya bangkit dari tidurnya.

