Pagi-pagi sekali, Chaerin ingin bangun karena kebelet kencing. Tapi, lengan besar itu enggan melepasnya. Chaca hanya bisa berbisik untuk bisa keluar dari Kungkungan lengan besar itu. “Ya’, aku kebelet pipis.” Bisiknya. Tanpa membuka mata, Satya melonggarkan pelukannya dan memberi Chaca akses untuk turun dari tempat tidur. Pernikahan yang terbilang masih baru tapi tak baru-baru sekali. Chaca sebagai seorang istri, sudah mengharapkan sebuah hasil dari percintaan panasnya. “Ah, negatif lagi.” Chaca kecewa saat melihat hanya ada satu tanda merah di benda yang ia celupkan pada urinnya. “Kita berusaha lagi, jangan menyerah.” Tangan besar memeluknya dari belakang. Suara serak nan menenangkan itu hampir setiap Minggu menyemangati Chaca agar tidak terlalu kecewa. “Ya’, apa aku punya masa

