Pagi itu, Chaca terlihat sangat pucat sekali. Awalnya Satya sangat khawatir sekali, tapi mengingat istrinya begitu manja belakangan ini. Membuat dirinya sedikit berpikir positif. “Cha, kamu lagi apa?” Tanya Satya melihat istrinya hanya berjongkok di depan bathub yang terisi air penuh. “Ya’, aku kau mandi, tapi kok dingin ya rasanya.” Kata Chaca terlihat pucat. “Kamu sakit? Atau mau aku siapin air hangat? Ingat sekarang adalah saatnya akuisisi perusahaan Prisma Permata.” Kata Satya mengingatkan Chaca setelah sekian bulan melawan Dwipa untuk hak istrinya. “Karena itu, Ya' aku harus mandi, tapi dingin.” Kata Chaca masih di posisi yang sama. Tak sabar lagi, Satya mengambil gayung hati untuk menyendok air di bathub. Chaca masih diam saja tak bergerak, padahal Satya sudah mengguyur Chaca

