Rustam sampai di kota yang sama. Sebuah kota kecil yang meninggalkan kesan tersendiri untuknya. Saat ia turun dari kapal sebuah senyum mengembang di bibir seorang anak perempuan. Anak itu menghambur pada Rustam dan langsung memeluknya. Rustam pun merentangkan tangan dan meraih tubuh anak berusia enam tahun itu lalu menggendongnya. Sesekali Rustam mengecupi pipi anak perempuan itu dan mencubit pelan hidungnya. Seorang perempuan dengan rambutnya yang lurus berjalan mendekat dengan senyum bahagia. “Dia sudah tidak sabar ingin bertemu,” ujarnya. Rustam menoleh ke arah anak perempuan itu, “kau rindu padaku, anak cantik? Aku juga sangat merindukanmu,” katanya. Anak perempuan itu mengeratkan pelukannya dan menyandarkan kepalanya ke bahu Rustam. Tampak sekali ia sangat bergantung pada Rustam.

