Sembilan

1269 Kata
Kini jake dan Yik tengah duduk berhadap-hadapan di meja makan di dapur, dengan sebuah senter tergeletak di antara keduanya sebagai penerangan. Mereka memutuskan pindah ke sana demi terhindar dari gangguan polusi suara yang di timbulkan oleh Yok. “Dunia ini tidak bekerje sesederhana yang kau pikirkan, Tu—“ “Jake.” Jake memotong Yik yang baru saja mulai bicara. Tadi ia memang melarang makhluk itu untuk memanggilnya Pangeran, karena hal itu benar-benar menggelikan sekaligus membuatnya risih. Tapi sekarang Yik malah menggantinya dengan memanggilnya Tuan. Itu tidak jauh beda. Jake merasa seakan-akan dirinya ini lelaki tua berumur setengah abda alih-alih seorang remaja dewasa. “Cukup panggil aku, Jake.” Yik terdiam sebentar. Terlihat sedikit dongkol dengan Jake yang bisa secerewet itu hanya karena panggilan. “Baik, Jake.” Namun Yik memilih menuruti permintaan Jake ketimbang memperpanjang hal sepele itu. “Di dunia ini kau tidak berpikir hanya mereka yang terlihat yang hidup bukan?” Jake berpikir sejenak. Ia pernah mendengar teori-teori tentang adanya kehidupan di luar umat manusia di luar sana, serta sesuatu yang lainnya mengenai dunia pararel. Akan tetapi semua itu cuma teori tak berdasar tanpa bukti. Jadi Jake tak peduli tentang itu. Jake berujung mengedikkan bahunya saja. “Konsepsi dunia ini jauh lebih rumit dan luas dari yang bisa kita bayangkan. Di luar kehidpuan yang sedang berlangsung di sini, di ruang dimensi lain ada kehidupan lain juga yang sedang beroperasi.” Yik diam sejenak untuk melihat reaksi Jake. “Para manusia di dunia ini menyebutnya sistem dunia pararel.” Jake memijit pangkal hidungnya yang mendadak terasa pening. “Gue tahu itu. Gue pernah mendengarnya. Jadi yang seperti itu benar-benar ada, ya?” pertanyaan itu bersifat retoris, tetapi Yik tetap mengangguk sebagai jawaban. “Dan lo bilang, lo adalah penghuni dari dunia lain itu?” Yik kembali mengangguk. “Dari sekian banyak pararel yang ada, ada sebuah dunia dengan lima negeri besar. Salah satu negeri itu bernama, I Land. Dan dari sana lah aku, Yok… dan juga kau berasal.” Sembari berbicara Yik menggambar pola-pola imajiner di atas meja menggunakan jari telunjuknya. Yik menatap Jake intens, yang tampak masih sangsi dengan penjelasannya. “Tidak sembarang orang mengetahui cara membuka portal antar dunia pararel, apalagi sampai menyebrang. Di dunia kita, hanya orang-orang terpilih dari keturunan keluarga Savetery yang memiliki kemampuan tersebut. Itu pun tidak banyak yang mengetahuinya, karena hal tersebut sangat dirahasiakan.” Yik memberi jeda sejenak. Sengaja memberi Jake waktu untuk mencerna semuanya. Sorotan pemuda itu lurus menatap senter yang berada di antara mereka berdua. Setelah di rasa cukup, Yik pun melanjutkan, “Dan kau Jake, adalah keturunan keluarga Savery.” Pernyataan itu menarik perhatian Jake, sehingga kini pandangan mereka beradu. “Ayahmu adalah pemegang kunci pintu portal pada perputaran kali ini.” “Tunggu dulu.” Sebelah alis Jake naik sebelah. “Tadi lo bila pemilik kemampuan membuka portal itu sangat dirahasiakan? Lalu bagiamana caranya lo bisa tahu hal itu?” Yik menelengkan kepalanya. Mengulas senyum lebar sampai garis matanya menutup, sesuatu yang terlihat sangat menyebalkan di penglihatan Jake. “Bukan itu sudah jelas,” sahut Yik dengan sedikit nada jumawa di dalamnya. “Itu berarti aku adalah orang terpercayanya. Itu juga alasan kenapa aku bisa ada di sini sekarang. Mengemban misi penting darinya untuk menjempumu kembali.” Kening Jake terlipat-lipat. Berusaha mempertahankan kewarasannya di tengah-tengah situasi nyaris tidak masuk akal yang harus ia alami sekarang. “Lalu, apa alasan orang itu mengirim gue ke dunia ini? Bukan kah gue ini Pangeran? Bukannya itu berarti gue harusnya tinggal di istana? Atau apa pun itu.” Nada Jake agak terdengar tidak yakin saat mengatakannya. Jujur ia sendiri sangat geli saat menyebut dirinya sendiri pangeran. Yik tersenyum, ia sudah mengira kalau Jake akan mempertanyakan hal tersebut. “Itu dia. Karena kau adalah seorang Pangeran, makanya Yang Mulia memutuskan mengirim ke dunia yang tidak ada satu makhluk pun akan mengenal mu di dalamnya. Sebagai seorang Pangeran yang akan menggantikan posisi Raja, keselamatan seorang pangeran selalu terancam. Raja mengirim mu kemari demi keselamatan mu sendiri, Pange—maksud ku Jake.” “Tunggu dulu, apa tadi yang lo bilang?” Bola mata Jake membulat lebar. “Gue? Gue akan menjadi Raja?” Yik mengangguk pasti. “Sesuai hukum kerajaan yang berlaku, kau yang paling berhak menjadi Raja menggantikan pendahulu mu.” Jake menganga lebar. Rahangnya hampir jatuh rasanya menyadari kenyataan tersebut. Belum selesai ia memproses semua ketidak masuk akalan ini, sekarang ia akan menjadi raja katanya?! Yang benar saja?! Memimpin suatu kelompok saja Jake tidak ada becus-becusnya. Lalu nanti ia di minta memimpin sebuah negeri? Jake tak mau membayangkan akan sehancur apa negeri itu nanti. Melihat ekspresi Jake yang tegang bercampur syok, sukses menggelitik Yik untuk tertawa. “Kau tidak perlu khawatir, Jake. Lagi pula masih akan sangat lama untuk saat itu tiba. Selagi Yang Mulia masih bisa memimpin kerajaannya, ia akan terus menjadi pemimpinnya.” Yik lantas memajukan wajahnya ke arah Jake, yang tampak masih frustasi. “Jadi bagaimana, Jake? Sekarang kau sudah percaya ‘kan?” Jake tak langsung menjawab. Pancaran matanya ketara sekali kalau ia masih sangat sangsi. Lagi pula siapa yang akan percaya dengan mudahnya, dengan seluruh rangakaian penjelasan yang justru lebih terdengar seperti dongeng. “Sedari tadi lo ini cuma mengoceh. Lalu lo berpikir aku bisa percaya hanya dengan cerita cerita lo itu?” Jake mengangkat sebelah alisnya, menantang. “Gue perlu bukti. Bukti konkret yang bisa mengatakan kalau lo memang dari dunia lain.” Yik melipat tangannya di atas meja. Lalu ia menunjuk dirinya sendiri. Menggerakan tangannya itu dari atas kepala hingga kaki. “Apa wujud ku yang berbeda dari makhluk di dunia ini tidak cukup menjadi bukti? Apa jangan-jangan kau masih berpikir kalau ini adalah kostum?” Jake menarik bibirnya ke samping. Kini bola matanya bergulir memindai wujud Yik lebih detail dari sebelumnya. Tubuh Yik itu cuma setinggi pinggang Jake saja, dengan warna kulit coklat serta tekstur kulit menyerupai kulit kayu. Membuat Jake berpikir, kalau makhluk ini bisa saja berkamuflase sebagai sebuah batang pohon. Manik matanya sehijau lumut, dengan pupil hitam yang sangat kecil. Seperti setitik pulpen di atas kertas. Hidungnya yang besar dan mancung, lalu daun telinga yang sangat kecil, sampai-sampai Jake nyaris berpikir kalau makhluk itu tak memiliki telinga, di tambah keberadaannya lebih sering tertutupi oleh rambut gimbalnya. Kemudian pandangan Jake beralih ke jemari-jemari yang tampak padat, dengan kuku berwarna hitam. Jake menghela napas. Sebenarnya tanpa ia harus memerhatikan wujud Yik yang sedetail itu, siapa pun yang melihat makhluk seperti Yik bisa langsung tahu kalau Yik bukan manusia, atau pun makhluk hidup dari dunia ini. Sebagian orang bisa saja mengiranya alien. “Bagaimana, Jake? Sudah selesai menelitinya?” Jake melempar tatapan ke arah lain seraya mendengus. “Wujud lo ini nggak cukup menjadi bukti. Wujud lo barangkali aneh, tapi itu bisa aja karena itu hasil eksperimen lo yang gagal.” Jake mengedikkan bahunya tak acuh. “Siapa tahu. Jadi gue mau bukti lain.” Melihat Jake yang tetep kekeuh pada pendiriannya. Yik pun menganggukan kepala. Ternyata Jake ini lebih rumit dari yang ia kira. Kewaspadaan pemuda di depannya ini memang tidak tanggung-tanggung. Yik menyukainya, karena itu berarti Jake bukan jenis orang yang mudah di hasut. “Baik. Aku akan memberi bukti yang kau mau. Tapi tidak hari ini. Tapi besok pagi. Datang lah ke atap gedung tempat kita pertama kali bertemu. Aku akan menunjukkan semuanya di sana.” Jake mengernyit, tampak tidak setuju. “Kenapa? Kenapa harus ke sana dulu, dn besok pagi? Kenapa nggak detik ini juga di sin—“ Perkataan Jake terpotong oleh sorot senter yang datang dari belakang tubuhnya, diikuti sebuah suara yang sangat ia kenali. Siapa lagi kalau bukan Jay. “Jake? Lo ngomong sama siapa?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN