Sepuluh

1004 Kata
Jake spontan menoleh gelagapan. Mulutnya terbuka-tertutup seraya melirik posisi Yik tidak bergeming sedikit pun dari sana. Kenapa dia nggak langsung pergi sih tadi? Sekarang gimana cara gue ngejelasinnya coba. Dewa batin Jake berbisik setengah kesal setengah gugup. “Woi! Lo kenapa dah?” Pancaran mata Jay detik berikutnya berubah horor. “Lo—lo, jangan jangan lo kesurupun. Heh, siapa lo, pergi dari tubuh temen gue. Gue tahu dia orangnya emang nyebelin, tapi lo nggak boleh ngerasukin dia. Hush-hush pergi lo!” Jay mundur selangkah seraya mengibas-ngibaskan telapak tangannya di depan muka Jake. “Apaan sih, gue nggak kerasukan.” Pergerakan Jay terhenti, tapi ia masih tampak sangsi. “Bener?” Jake kontan memutar bola matanya malas. “Emang lo pernah ngeliat orang kerasukan sewaras ini?” Jake menyahut sewot. Jay menggaruk-garuk kepalanya. “Ya, nggak sih.” Lalu dia mendelik. “Terus kenapa tadi lo ngobrol sendiri kalau bukan kerasukan?” “Itu….” “Tenang saja, Jake.” Yik yang entah kapan bergerak, karena tahu-tahu kini ia sudah berdiri di antara dirinya dan jay. “Dia tidak bisa melihat dan mendengarku.” Jake seketika menganga, merasa to-lol sekali. Bagaimana bisa ia lupa mengenai fakta yang satu itu. Jake kemudian kembali menatap Jay. “Gue tadi lagi latihan.” Sebelas alis Jay naik. “Hah? Latihan apa? Latihan kerasukan atau latihan jadi orang gila.” “Bukan.” Jake menyahut malas. “Gue kepikiran mau coba casting, jadi pemain film. Kan artis lumayan duitnya.” Jake tidak peduli kalau alibinya sekarang terdengar sangat ngawur. Mendengarnya, rahang bawah Jay kontan terjatuh. Pancaran matanya memandang Jake lebih horor dari tadi. “Apa kata lo tadi? Lo mau casting jadi artis?! Lelucobn macam apaitu wahai anak muda?” Jake mengedikkan bahunya. “Lagian lo kenapa bisa di sinni? Bukannya tadi lo udah ngorok?” tanya Jake berusaha mengalihkan pembicaraan. “Tadi kebelet pipis. Eh lonya ga ada di samping gue. Jadi lah gue nyariiin lo, takutnya kan lo ilang.” Jake meraih senternya diatas meja. Yik kini berdiri di sebelahnya. “Alasan. Bilang aja lo takut, kan ditinggal sendiri?” ejek Jake. “Ya itu juga sih. Tapi kan itu juga gara-gar alo yang ngomong ngawur.” Jay lantas tiba-tiba mendelik. “Heh lo jangan coba mengalihkan pembicaraan ya? Tadi apa lo bilang? Lo mau coba casting jadi artis, yang serius?” Jake melenggang pergi, seraya menyahut, “Biasa aja kali. Apa salahnya juga? Lo jadi temen nggak suprtif banget. Kemaren aja bilangnya lo mau bantuin gue.” Jay menyusul Jake. “Ya, bukan gitu maksud gue. Cuma kaget aja, tiba-tiba banget gitu lo tertarik ke dunia hiburan kayak gitu.” Jake menyahut tak niat. “Gue juga kepikirannya tiba-tiba. Sekarang isi pikiran gue tuh cuma, gimana caranya biar gue bisa ngasilin duit yang banyak.” Bohong besar. Sejak semua keajaiban yang menimpanya pikiran Jake sudah campur aduk. Lalu di tambah dengan semua pernyataan yang Yik sampaikan, dengan fakta-fakta di depan matanya yang masih coba ia sangkal. Tepukan di bahu Jake membuyarkan lamunanya. “Yah, enak juga sih bisa punya temen artis. Lumayan nanti gue bisa numpang tenar.” Jake tak mengiraukan. Lalu, ada suara yang lain yang muncul dari sisi sebelah Jake. “Aku dan Yok akan berada di sini sampai besok pagi. Kau tidak usah khawatir karena kami tidak akan merusak.” Jake memandangi Yik sebentar sebelum akhirnya mengangguk. Ia tak memiliki pilihan lain selain mengizinkan makhluk ini untuk tetap tinggal. Tanpa Jake sadari, ia sudah menaruh setitik kepercayaan pada makhluk asing tersebut. Jake dan Jay terus melangkah menuju kamar mereka, sementara Yik sudah tak terlihat sejak mereka melewati ruang tamu tadi. Jake pun langsung merebahkan dirinya di atas ranjang, setelah sebelumnya menyimpan senter di atas nakas. Hall serupa juga dilakukan oleh jay. Kepala Jake menoleh ke arah Jay berbaring, meski percuma karena kegelapan tak bisa membuatnya melihat pemuda itu. Namun Jake terkejut seewaktu Jay tiba-tiba berkata. “Lo ngeliatin gue ya, Jake?” “Kok lo tahu?” “Insting,” jawab Jay singkat. “Ngapain lo ngeliatin gue padahal nggak bisa? Jangan bilang lo lagi merencanakan perbuatan iya-iya ke gue?” Jake dapat merasakan ranjang tempatnya berbaring, bergejolak. “Jake, plis tolong jangan. Gue nggak mau keperawanan gue harus di ambil sama sesama pisang.” Jake mengayunkan telapak tangannya sembarang ke arah Jay, yang ternyata pas mengenai wajah pemuda itu. Yang menimbulkan pekikan dari Jay. “Adoow! Kok lo mukul sih?” “Nggak usah ngasal, makanya. Mikir lo kejauhan. Gue nggak segila lo ya,” sungut Jake tanpa merasa bersalah sedikit pun. “Tadi tuh gue cuma mau nanya sama lo.” “Nanya apaan?” sahut Jay, dengan nada suara yang masih terdengar sebal. Jake terdiam. Ia masih tak yakin. Harus kah ia menanyakan hal seperti ini pada Jay juga? “Woi! Malah diem.” Jake mengembuskan napasnya perlahan. “Lo… percaya sama adanya dunia pararel nggak?” Kini giliran Jay yang terdiam. “Woi! Lo denger gue nggak? Kok malah diem.” “Gue lagi mikir, tahu,” sahut Jay. “Dunia pararel, ya? Hmm… gue percaya aja sih. Soalnya gue juga percaya dunia ini bukan cuma milik kita. Di luar sana, pasti ada kehidupan lain yang nggak pernah kita tahu. Kenapa emangnya lo tiba-tiba nanya gitu?” Jake harusnya sudah bisa menebak kalau Jay bakal menjawab demikian. Sebab orang absurd pasti juga memercayai hal-hal absurd. “Nggak. Bukan apa-apa, pengen aja nanya.” “Apaan dah. Lo aneh banget sih hari ini. Tadi tiba-tiba bilangnya pengen casting main film, sekarang dunia pararel. Kayaknya gue perlu ngajak lo ke psikolog, takutnya da yang salah sama otak lo.” “Otak lo yang salah bukan gue.” Jake kembali merasakan ranjangnya bergerak. Lalu, tahu-tahu sebuah lengan memeluknya, di susul suara Jay tepat di sebelah telinganya. “Jake gue tahu lo baru aja ngalamin hal-hal yang sulit. Tapi gue mohon jangan jadi gila. Lo sahabat gue satu-satunya,” ujar Jay dramatis. Jake mengernyit, memberontak dari pelukan Jay tang terasa menggelikan. “Apaan sih! Nggak usah peluk-peluk lo dasar Jay sinting!!”  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN