Dua Puluh Enam

3975 Kata

• "Ucet dah. Abis ngeronda di mana lo. Muke lo udah kayak terong busuk." Demikian lah komentar Kia waktu pertama kali melihat wajah Kama, di pagi hari yang cerah ini. Kama bungkam. Saraf kelopak matanya yang membuka layu, berkedut-kedut. Si pemuda terduduk tegak di tengah-tengah sofa. Memandang kosong selayaknya orang kerasukan, ke hadapan layar televisi yang dipenuhi ribuan semut abu-abu bersuara berisik. Tergambar jelas bentuk setengah oval berwarnah hitam yang menghiasi bawah matanya. Bagian putih pada bola matanya, memerah. Sebuah tanda umum yang akan muncul apabila seseorang, tak memperoleh masa lelap berkecukupan. Rambutnya pun tak mau kalah eksis, dengan tatanan mirip sarang berang-berang diterjang banjir bandang, rambut Kama berhasil memperindah gaya sang empunya. Kama menguap

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN