Memasangkan kembali tali sepatu yang baru dicuci kemarin sedangkan paginya bangun kesiangan lebih repot dari menyeimbangkan garis alis. Hilara menyampirkan tas di sebelah bahu dan melesat keluar apartemen mengenakan sandal. Sepatunya dia jinjing, berencana memasangkan talinya di dalam mobil saja. Sedangkan selapis roti dia gigit sepanjang jalan. Di depan apartemen mobil hitam terparkir apik. Bahar mengetuk-ngetuk jari pada stir, telah menunggu selama setengah jam. Salahkan Juna yang pulang subuh dalam keadaan mabuk menyebabkan Hilara kesulitan tidur. "Ma-haf, Om. Aku ke-siangahn," ucap Hilara kurang jelas dengan napas satu-dua. "Hm." Seperti biasa Bahar membalasnya dengan gumaman. Bicara soal Juna, tadi sempat keluar kamar sambil memegang kepala. Masih linglung, jalannya pun sempo

