Sarah bungkam. Sesaat perhatiannya tertuju pada bola mata indah milik Hilara yang kerap mengingatkan dia pada seseorang. Sayang, orang itu paling dihindarinya. Bahkan diam-diam Sarah mengharapkan orang itu tidak pernah muncul lagi. Kejam memang, tapi Sarah juga ingin merasakan sesuatu yang sejak awal miliknya. "Aku ... mau tahu ibuku siapa. Ayah menyembunyikan semua tentang asal-usulku. Mama udah meninggal ya, Tan? Atau pergi ninggalin Ayah dan aku? Atau ...." Hilara menelan kasar saliva yang bergumul. Dia mendadak takut dengan pertanyaannya sendiri. "Atau mamaku adalah Tante Sarah?" Sarah tersenyum kecut. Batinnya menjawab, "Andai saja begitu, Hilara." "Kenapa Hila mau tahu soal Mama, sih? Ayah, Tante, Bahar di sini nggak cukup, ya?" "Aku--" Hilara bingung juga harus menjawab apa.

