Debat Sengit

1717 Kata

Saat berjalan menghampiri Mas Aksya kembali dari arah dapur, tak terlihat lagi sosok Demian di sana, yang ada hanya suamiku seorang. Kemana laki-laki menyebalkan itu pergi? Semoga tidak perlu balik lagi. Aku berharap kalau kami ada di rumah ini, laki-laki itu memilih pergi, jadi aku dan dia tidak akan ketemu. "Mas," panggilku pelan sembari mengguncang lembut bahunya. Suamiku dalam posisi rebahan di sofa dengan mata terpejam. Sepertinya dia lelah. Seharusnya Mas Aksya langsung pergi ke kamar saja, tidak perlu istirahat di sini, di ruang tamu. "Hm," jawabnya bergerak pelan, bangun dari rebahan. "Mas seharusnya ke kamar saja, sepertinya Mas kelelahan," ujarku seraya mengangsur segelas air mineral ke arahnya. Mas Aksya tersenyum. Entah dia memang murah senyum, atau hanya kepadaku saj

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN