Bab 14

2062 Kata
Beberapa hari tak terasa telah berlalu. Riza seperti biasa berangkat kuliah, dia sangat semangat hari ini.  "Widihh bro, sekarang sobat kita pacaran sama bos!" sorak Saidi. Riza tersedak nasi yang dia suap keluar semua tak beraturan. "Hah bener kah? Wah wah apa jurus lu sih bro kok bisa! Bagi-bagi jurus nya dong hiri gw!" rengek Rian iri. "HEH! Apaan sih kalian?" pungkas Riza sembari memukul meja. "Ituu, w******p nya semangat ya Riza kuliahnya, jangan lupa sarapan jiaakhhh keciduk lu," tunjuk Saidi memonyongkan mulutnya ke arah ponsel Riza, betapa terkejutnya Riza saat mereka melihat w******p dari Karu masuk dan tak sengaja di lihat oleh mereka. Riza langsung mengambil ponselnya lalu menghapus notifikasi itu. "HAAHAHAHA! Ketahuan kan lo," ciduk Saidi tertawa. Riza merasa malu bukan kepalang, dia tak percaya Karu memberinya semangat seperti itu sekarang. "Enggak! Kalian sok tau aja, beliau cuman bilang gitu kok ya wajar sama karyawannya. Lagi pula kami enggak ada hubungan apa-apa kok dih," tolak Riza menjelaskan kepada mereka agar mereka tidak menuduhnya lagi. "Yeaah masa lu kagak mau bro tante-tante kaya, mana cantik lagi, body bagus langsing. Betapa enaknya broo sadar broo sadarr...!" "Udah lu aja sono gebet," pungkas Riza sembari berdiri meledek Saidi lalu pergi membeli minum. Rian menahan tawanya dan Saidi pun kesal. "Lah ikhlas dia?" tanya Saidi heran. "Dahlah, nggak mau juga dia sama gw, maunya sama lu Za," ketus Saidi manyun. Riza pun hanya menertawakan nya. "Rian!" seorang cewek bertubuh mungil memanggil Rian. Riza dan Saidi menengok ke arah suara berasal, ternyata cewek itu memang dekatan Rian dan sepertinya mereka memang sudah jadian. "Ehh Dinda? Kenapa kok kamu enggak masuk latihan dance?" tanya Rian. Ternyata ia adalah anak latihan Mounara, Riza pun membuka mata nya lebar saat mendengar dance. "Dance?" tanya Riza. Saidi menatap melototinya. "Kenapa, kamu pasti ingat tante pelatihnya kemarin kan?" ucap Saidi nyengir. Rian dan Saidi menertawakannya karena ingat Mounara melempar minuman terkena dia jadi basah kuyup. Riza pun kesal juga malu dengan mereka. "Hah? Kamu juga kenal ya sama Tante Mounara?" tanya Dinda kepada Riza dan memandang Rian, Saidi. "Jadi, pacar lu ikut dance sama mereka Yan?" tanya Riza seakan tak percaya. "Iya Za, Dinda kan emang dari kemarin kata nya ikut," jawab Rian mengangkat keningnya sebelah. "Iya, emang kenapa sih?" tanya Dinda heran. Riza pun merapatkan bibirnya malu. "Haha, dia pernah dilemparin minuman sama Tante Mounara Din," ucap Rian sembari tak bisa menahan tawanya. Saidi pun menepak meja dan ikut tertawa mengingat nya. Betapa malu nya Riza dengan Dinda saat itu, dia terlihat dendam dan sebal kepada Rian dan Saidi. "Hah? Hahaha? Masa sih kok bisa?" ucap Dinda ikut tertawa sembari menutup mulutnya. "Ya karena dia juga sih duduk di dinding tanaman kaca piring depan tempat duduk halaman kampus kita sana Din, jadi Tante Mounara buang deh tu minuman kecantol ma dia," jelas Saidi mengingat semua kejadian itu. "Ya nggak ada akhlak emang tu tante! Untung laptop gw lumayan jauh dari situ jika tidak," rengek Riza. Dinda pun tertawa mendengar hal itu. Riza melotot ke arah Rian dan Saidi. "Udah-udah ah kalian! Gua malu nih sama Dinda," ketus Riza sebal. "Eh emang kenapa kamu nggak masuk?" tanya Riza kepo. "Katanya sih tante Mounara nggak bisa ngajar minggu ini, soalnya dia ada pekerjaan lain dan sibuk," jawab Dinda. Riza menyipitkan matanya sebelah. Meledek Mounara seperti sok sibuk. "Oohh pantes aja nggak ada yang rame biasanya rame kan ngumpul di depan nunggu tante Mounara itu," sahut Rian. "Iya, Tante Mounara emang cantik banget sih! Mana kece lagi aku suka banget sama gayanya! Terus dia itu baik banget loh sama kami dia bisa banget bercanda lucu!" ucap Dinda memuji Mounara. Rian dan Saidi mengangguk tanda setuju, hanya Riza yang masih kesal dengan Mounara. "Nggak sombong deh pokoknya padahal dia kaya raya kan," sambung Dinda sembari tersenyum senang. Riza tak menyangka dengan hal itu, dia kira Mounara adalah tante-tante yang judes dan sombong karena wajahnya kemarin dan gayanya saat dia pertama kali bertemu dan ketika menegur geng pembully waktu itu. "Ya udaahh, kamu udah makan belum? Dance-dance mulu," rayu Rian sembari menarik lengan Dinda untuk duduk. Saidi dan Riza meledek mereka karena ingin bermesraan tanpa mengingat bahwa di antara mereka berdua ada Riza dan Saidi. "Heh hehh, jadi obat nyamuk hidup deh kita Za," gerutu Saidi sembari mundur. Dinda merasa malu dan mengurungkan niatnya untuk duduk sembari menahan tawa. "Iya, ya udah kita makan di sini aja Di," jawab Riza sembari mengambil piringnya tadi. Rian hanya menggaruk-garuk tengkuknya karena salah tingkah bersama Dinda. Riza dan Saidi bisa memahami mereka dan hanya tertawa dari jauh. Riza dan Saidi pun melanjutkan makannya. Riza membuka pesan dari Karu tadi, dia tak percaya Karu sebaik ini. Dia pun membalas pesan dari Karu. "Iya terimakasih Bu, Ibu semangat juga ya, jangan aku aja di suruh semangat," tulisnya lalu dia kirimkan ke Karu.                                                          *** Karu yang sedang memeriksa berkas di ruangannya pun mendengar notif dari w******p nya. Dilihat nya Riza lah yang membalasnya. Betapa senangnya hati wanita itu. Ia tersenyum sumringah sembari menatap langit-langit. Lalu ia menatap ponselnya kembali. "Aku tak menyangka bisa jatuh cinta sama anak ini, aku benar-benar melihat ketulusan nya, kepolosan nya dengan ku, dia memang laki-laki yang jujur dan baik. Bahkan tak pernah laki-laki seumuran ku yang pernah menemuiku sedewasa diri nya," gumam Karu sendiri sembari membayangkan Riza.  "Hmm, aku tak perduli kamu masih belum mapan atau kuliah. Karena bagi ku, kau adalah pria yang baik dan sudah dewasa, terima kasih Riza selalu ada untukku, aku yakin suatu saat kau juga akan menjadi pria yang mapan," puji nya sembari menatap room chatnya dengan Riza. "Ibu suka komik horor juga ya?" tanya Riza saat Karu istirahat.  Karu mengingat pertama kali Riza masuk kerja bersamanya. Karu pun menatap nya. "Iya," jawabnya datar. Ia masih sangat cuek saat itu, ia lalu melanjutkan membaca nya. "Hehe, maaf ya Bu, kemarin saya juga tak tau bahwa Ibu juga ingin mengambil komik ini," sambung Riza nyengir sembari mengelus tengkuknya. Karu hanya menyeringai, lalu terus membaca komik itu. "Ibu tau nggak, hantu ini berasal dari daerah saya Bu," lanjut nya terus meski Karu selalu menghiraukannya. Karu pun melihat diri nya, Karu seperti nya juga penasaran. "Benarkah? Apakah ini memang ada?" tanya Karu. "Iya, di sana dia adalah makhluk jadi-jadian yang sangat jahat untuk wanita hamil, wanita hamil di sana sangat bahaya Bu, jadi wanita-wanita orang kami saat hamil di sana selalu membawa barang penangkal untuk tidak di ganggu hantu itu Bu," ujar Riza menjelaskan serius. Karu agak takut mendengar nya. "Memang, ia juga memakan bayinya?" tanya Karu terlihat takut namun penasaran. "Iya Bu, konon katanya dia akan memakan habis janin wanita itu dan menghisap darahnya sampai tewas, maka dari itu kami di sana percaya bahwa benang ijuk, bawang merah tunggal, juga gunting dan membuat gelang kaki dari benang hitam untuk menangkalnya agar dia tak bisa memangsa," sambung Riza semakin serius. Karu melotot semakin merinding mendengarnya. Maka dari itu sampai sekarang ia masih belum siap menikah, karena ia masih takut dengan semua resiko kehamilan. Mendengar itu Karu semakin takut hamil. Karena memang ia sendiri yang menyukai cerita-cerita horror karena penasaran dan seru, padahal ia juga takut. Karu melototi Riza menghayati cerita dari Riza tadi, ia ketakutan keningnya berkerut seakan mengelas. Dengan refleks ia memegangi perutnya. Riza melihatnya dan melongo, Riza melihat tangan Karu memegang perutnya kuat dan meneguk air liurnya seakan ia sedang hamil sekarang dan ingin di serang kuyang. Riza pun merapatkan mulutnya lalu tertawa melihat hal itu. Karu tersadar mengerutkan dahinya dan mengedipkan matanya lalu membuang pandangannya dari Riza dan melepaskan tangannya dari perutnya. Ia menghentikan membaca dan menutup komik itu kikuk, Riza semakin lucu dengannya. "Hahahaa, maaf ya Bu, Ibu jadi takut ya," ucap Riza tertawa. Karu menyipitkan matanya lalu membuang pandangannya. "Tenang Bu, itu cuman ada di Kalimantan kok lagian juga bagi Ibu hamil dan Ibu nggak hamil kan? Di Jakarta enggak ada lah, lagian itu waktu dulu juga kok sekarang juga di Kalimantan udah enggak ada kata Tante saya di sana hihihi," sambung Riza nyengir. Karu mendengus kesal, ia mencoba untuk tak takut lagi. "Kamu memang bisa menjelaskan dengan detail," ujar Karu meliriknya. Riza hanya tertawa lalu menjinjit telinganya sendiri mencandai Karu sembari meminta maaf. "Okee maaf ya Ibu Karu, saya cuman memberi tahu Ibu karena kan Ibu sama dengan saya suka cerita horor," katanya senyum dengan nada yang polos. Sejak saat itu lah, saat Karu menatapnya kesal, Karu malah tertarik dengannya namun ia masih tak sadar. Riza terus mencandainya begitu dan tersenyum polos dan Karu terus memandangnya. Ketika mengingat itu Karu jadi tertawa sendiri di ruangannya. "Oh iya ya, malam ini kan pesta. Aku nggak sabar melihat Riza jadi pangeran," ucapnya dalam hati seketika terpaku.  Ia menatap jam lalu kembali bergegas melanjutkan pekerjaannya.                             *** Waktu pulang telah tiba, dosen sudah keluar dan tanda boleh pulang dan mengerjakan tugas. Riza pun keluar kelas. Dia berjalan cepat. "Bro, kayaknya gua duluan aja ya maaf nggak bisa ikut mau masuk kerja soalnya," kata nya menepuk bahu Saidi dan Rian lembut. Saidi dan Rian mengiakannya lalu berpamitan. Meski Riza sebenarnya sudah lelah. Namun dia tetap semangat ingin ke kantor, dia juga senang kalau bertemu dengan Karu meski dia masih belum tahu perasaan Karu dengannya. "Astagaa ah iya ya bukannya malam ini pesta itu diadakan? Ya ampun bagaimana ini, apa mungkin Ibu Meri ada juga di sana? Ahh ya Allah lindungilah hamba mu ini dari marabahaya malam nanti ya Allah. Aku nggak mau mengecewakan Ibu Hertanti kalau tidak datang,"  "Huh!,"  Keluhnya panik dan stres, semua itu menghentikan langkahnya karena teringat dengan undangan Hertanti, mau tak mau dia harus datang karena Hertanti sangat membujuk nya untuk datang. Meski dia sangat takut bertemu dengan Meri lagi namun dia yakin bahwa dia akan bisa menghindari Meri kalau dia bertemu. "Ahh kalau saja ada Ibu Meri, aku pulang saja bagaimana pun caranya. Karena aku sudah berusaha juga datang dan ada di acara itu nanti walau tidak sampai selesai kan?" celotehnya mendapatkan ide. Dia pun agak senang dengan ide nya sendiri itu. "Ya yaa, aku akan begitu. Tetapi semoga saja Ibu Meri tidak bertemu denganku, ya." Dia gembira lalu melanjutkan langkahnya dan pulang dengan hati yang agak tenang. . Dia akhirnya sampai ke kantor dan bergegas menemui Karu. "Selamat pagi menjelang siang Bu," sapa Riza. Karu memberikan senyuman yang manis saat melihatnya. "Iya selamat pagi menjelang siang juga Riza," jawab Karu dengan nada yang bercanda. Riza membesarkan matanya agak heran dan lucu Karu berbicara seperti itu. Dia tertawa. Karu hanya menunduk malu dan menyeringai. "Ibu sudah makan? Kalau belum apa mau aku belikan?" tanya Riza sembari membereskan lemari nya yang lumayan berantakan. Karu sangat tak percaya Riza se peka itu padanya. Ia pun mencoba sekali-kali modus kepada Riza. "Um, be belum Za," jawabnya gagap. Riza membalikkan badannya dan menghentikan pekerjaannya itu. "Ya ampun kenapa Ibu kok belum makan nanti magh loh kaya saya, ya sudah saya belikan ya Ibu mau apa?" sahutnya khawatir. Karu semakin salah tingkah di buatnya. "Eee enggak papa kok cuman karena..."  Karu memainkan jarinya malu-malu. "Ibu lupa bawa dompet? Nggak papa kok Bu biar saya belikan saya bawa uang juga kok," ucapnya. "E enggak kok Riza, saya ada aja kok. Kamu, kamu selesai in aja kerjaan kamu itu dulu ya," sahut Karu mengelak. Riza hanya mengangkat keningnya dan terlihat bingung. "Iya udah, nggak papa kan? Saya selesai in dulu ya Bu sebentar," kata Riza meyakinkan. Karu mengangguk senang. "Iya, jadi setelah kamu selesai. Kita makan sama-sama di luar ya?" ajaknya malu-malu. Riza mengerutkan keningnya, dia menoleh ke arah Karu dengan heran. "Ahh enggak usah Bu, saya sudah makan kok Ibu nggak perlu repot-repot, saya mau belikan Ibu aja ya nanti," "Riza, kamu enggak merepotkan kok. Kan saya yang ngajak, mana mungkin kamu bikin repot saya," potong Karu mengelak sembari menatap Riza lembut. Riza hanya terpaku dan bingung, dia akhirnya mau menerima ajakan Karu untuk makan di luar bersama. "Beneran nggak papa kan Bu? Tenang aja kok Bu, saya bawa uang sendiri kok Bu,"  "Enggak usah, kamu simpan aja nanti uang kamu," pungkas Karu sembari tersenyum. Riza semakin merasa tak enak dan tak punya harga diri. Dia sebenarnya malu karena dia laki-laki dan mengapa Karu yang mentraktir nya. Namun, Karu terus menolaknya saat dia yang ingin membayar. Riza pun akhirnya pasrah dan menganggap itu memang rezeki untuknya. Dia pun berterima kasih kepada Karu. "Makasih banyak ya Bu, lain kali nanti akan saya balas," jawab Riza tak enak. Karu senang modusnya berhasil dengan lancar. Ia berhasil mengajak Riza makan berdua dan menghabiskan waktu bersama berduaan nanti. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN