Karu dan Riza pergi makan bersama di sebuah rumah makan.
Riza hanya memesan soto serta es jeruk saja karena dia tak ingin terlalu merepotkan Karu. Namun, Karu malah banyak memesankannya menu dari sop sumsum sapi,cumi goreng tepung, capcay dan ia dan memilih ayam bakar untuk menunya.
"Ya ampun Bu Karu, apa tidak apa-apa terlalu banyak begini?" lirih Riza merasa merepotkan.
"Enggak papa kok, emang aku yang mau. Kamu makan aja ya jangan nggak nanti sayang loh nggak habis mubazir aku nggak mau," sahut Karu sembari mengambil sendok dan garpu memulai makannya.
"Permisii," pelayan restoran itu menyodorkan jus sirsak dan melon lagi kepada mereka.
Riza kaget dan hanya membelalakkan matanya.
"Ah iya terima kasih ya!" ucap Karu tersenyum.
Riza hanya memandangi meja makan yang penuh makanan itu lalu menatap Karu sangat dalam.
"Ayo, makan," Karu membalas tatapannya sembari menguyah ayam dan nasinya.
Riza terbuyar dari lamunannya lalu mengangguk dan juga mulai makan. Karu tersenyum simpul.
"Makasih banyak ya Bu Karu, enak banget sotonya," ujar Riza senang dengan lahap memakan soto nya.
"Iya Riza sama-sama, iya maka dari itu aku milih tempat ini untuk kita makan," jawab Karu lembut.
Riza hanya tersipu malu. Mereka saling malu-malu kucing saja.
***
"Haduhh gue laper banget nih!," rengek Mounara meremas perutnya.
"Hedehh kenapa lho nggak makan dari pagi, suruh siapa?" sahut Surbhi sembari menyetir mobil.
Mounara hanya mengelas cemberut.
"Ya sudah, apa kita beli makanan dulu. Kami nggak mau lho pingsan dan kami ngangkat badan lo," ucap Nesa mendatarkan matanya tanda rese kepada Mounara.
"Nahh gitu dong jadi sahabat gue peka-peka sama gue, Surbhi pelan-pelan dong nyetirnya kita lihat rumah makan daerah sini!" kata Mounara tersenyum lebar sembari menepuk kursi Surbhi.
"Huhh oke-oke, gue juga laper nih," jawab Surbhi memperhatikan luar jendela mobil dan depan.
"Ehee gue juga udah gegara Monara kita ketuler laper Sur," Nesa menyandarkan tubuhnya.
Mereka pun tertawa dan sebuah rumah makan di depan mereka telah mengalihkan perhatian mereka.
"Eh eh! Nihh ada rumah makan guys!" teriak Surbhi gembira.
Mounara hanya bengong melongo.
"Ya ya! Di sini aja enak! Gue pernah makan sama Om gua di sini!" ucap Mounara tiba-tiba teringat sembari tersenyum lebar.
Nesa hanya mengangguk mantap tanda menyetujui saja apa yang Surbhi dan Mounara inginkan.
"Kita makan di sana aja ya? Atau bungkus aja?" tanya Surbhi.
"Hmm makan di sana aja deh, biar nggak ribet," jawab Nesa.
"Enggak ah, gue mau bungkus aja jadi sekalian pulang. Guys kita istirahat dulu habis ini. Malam kan pesta acara Mamah gue, nggak bisa nggak dateng gue kasihan Mamah, kalian juga awas nggak dateng," sahut Mounara.
"Ohh iya ya, ya ampunn lupa maaf ye bos hehe, ya udah deh kita bungkus aja ya Nes," jawab Surbhi nyengir sembari memelankan gasnya dan masuk ke halaman rumah makan itu.
Nesa hanya terus mengangguk dan meng iyakan.
Mereka parkir depan rumah makan itu. Dan rumah makan itu ternyata adalah tempat Karu dan Riza juga makan tadi. Mereka pun keluar mobil sembari membetulkan penampilannya lalu masuk bersamaan.
"Ehh guys, gue ke supermarket situ bentar ya, mau beli tisu sama minumnya di sana,"
Sayangnya Mounara tak ingin masuk dan malah pergi ke supermarket maka dari itu ia tak tahu bahwa pemuda yang pernah ia tumpahkan minuman itu padahal berada di dalam.
"Ohh iya sipp, kami nitip deh sekalian," jawab Surbhi sembari mengangkat kacamatanya ke atas.
"Iya, lho mau pesan apa Moun,"
"Umm gue sop Iga aja deh ya! Enak gue suka, okee?" sahut Mounara berfikir lalu tersenyum lebar sembari mengangkat jari telunjuknya ke hadapan Nesa.
Mereka mengiakan Mounara lalu Mounara pergi ke minimarket.
***
"Alhamdulillah sudah habis," ucap Riza bersyukur.
"Kenyang?" tanya Karu.
Riza tersipu malu lalu hanya menyengir. Karu pun tertawa melihatnya.
"Ya udah, kita makan sop ini lagi ni cumi capcay juga," tawar Karu sembari menyodorkan nya ke Riza.
"Aduhh Bu, aku udah kenyang kok," jawab Riza tertawa sembari mengerutkan dahinya.
"Ya udahh kita makan berdua ya," pungkas Karu sembari mengasih sendok ke Riza.
Riza terpaksa menerimanya meski merasa sangat malu. Mereka pun makan semangkok berdua. Riza mencoba mengambil sumsum itu dengan sendoknya namun sulit dan hanya dapat sedikit. Karu yang melihatnya terdiam bingung.
Tak jauh dari mereka, di kasir terlihat Surbhi dan Nesa melihat-melihat menu yang ada di sana sembari bertanya-tanya ke pelayannya.
"Hahaa kesulitan ya," ujar Karu lalu menertawai Riza memalingkan wajahnya sembari menutup mulutnya. Riza pun malu dan hanya menyeringai menggaruk tengkuknya.
"Bentar ya," ucap Karu sembari berdiri dari tempat itu.
"Kemana Bu?"
Karu hanya tersenyum kepada Riza dan pergi ke arah kasir.
"Ah permisi mba maaf, apa boleh minta sedotan buat sop sumsum?" minta Karu.
Surbhi dan Nesa yang sedang duduk di kursi belakang Karu itu pun menjadi tak sengaja memperhatikan Karu, mereka menatap Karu.
"Makasih ya," ucap Karu ramah tersenyum sembari berbalik arah. Kini Surbhi dan Nesa jelas melihat wajah Karu yang cantik dan manis itu meski Karu tak balas melihat mereka. Surbhi dan Nesa hanya melihatnya sedikit sinis sembari terus menatap mengikuti kemana Karu pergi hingga akhirnya Karu pun duduk kembali.
Mereka terkekeh saat seorang laki-laki yang berhadapan Karu yang berposisi membelakangi Surbhi dan Nesa.
"Eh Sur, coba lihat kayaknya wanita yang sepertinya seumuran kita tadi sedang berkencan sama laki-laki itu," ujar Nesa sembari menatap kearah Karu dan Riza kepo.
"Iya ya, tapi ya emang kenapa aneh lu," jawab Surbhi juga memperhatikan.
"Kayaknya kek masih bocah tu laki-laki," kata Nesa mengerutkan keningnya.
Surbhi pun menatapnya.
"Hah?" Ia pun lebih memperhatikan lagi.
"Ah iya ya," sahut Surbhi bergidik kaget.
"Ini Za," ucap Karu sembari menaruh sedotan itu bersebelahan. Karu malu karena ia memang ingin menyedot bersamaan dengan Riza.
Riza hanya menatap sop itu salah tingkah. Riza meneguk liurnya lalu tersenyum kepada Karu lalu menuruti Karu.
Dengan pelan mereka bersamaan menyedot sup itu. Mulut Riza dan Karu kini berdekatan, hidung mereka pun bersentuhan.
Karu mencoba menatap mata Riza pelan, Riza pun juga mencoba menikmati semua nya dan pelan menengok ke depan mata Karu. Betapa romantis itu. Mereka hanya tercengang. Karu mencoba menikmati sop itu sembari menikmati wajah Riza yang begitu dekat dengannya. Ia pun tersenyum simpul malu-malu, Riza jadi ikut tersenyum malu dibuatnya.
Surbhi dan Nesa pun menyaksikan hal itu.
"Idih buset dah tu orang romantis bener nyedot berdua!" julid Nesa sembari mengangkat separo bibir atasnya. Surbhi pun menengok lagi ke Nesa bilang. Surbhi pun juga mengangkat alisnya dan membesarkan matanya.
"Bener ya, emang dah tuh orang," sahut Surbhi terus memperhatikan.
"Permisi Bu maaf, ini pesanan kalian."
Pelayan itu mengalihkan perhatian mereka, mereka pun berhenti memperhatikan Karu dan membayar semua itu. Mounara pun memiscall mereka juga di w******p sepertinya ia sudah balik dari supermarket dan menunggu lama di luar. Surbhi dan Nesa pun bergegas keluar menyusul Mounara, mereka pun melupakan Karu.
"Haduhh lama banget sih," gerutu Mounara sebal.
Ternyata memang benar, Mounara lebih dulu selesai dan sudah lumayan lama menunggu Surbhi, Nesa.
"Ya karena masaknya lah Moun, mana antri lagi," jawab Surbhi melotot.
"Ya udah yukk cuss kita ke rumah," ucap Mounara senang sembari mengambil plastik di tangan Surbhi.
Mereka pun naik mobil dan pergi.
***
Riza menjadi salah tingkah dan menghentikan makannya, pipi nya merah dan dia sudah tak tahan lagi untuk melakukannya. Namun, sop mereka juga sudah hampir habis.
"Uhh sumpah Bu, saya sangat kenyang sekarang," ucap Riza nyengir tersipu malu.
"Haha, syukur lah aku senang kalau kamu kenyang,"
"Aku juga sangat kenyang," sambung Karu tersadar.
Riza menertawakan nya. Pipi Karu memerah di buatnya.
"Haha aku juga senang Ibu kenyang," seru Riza.
"Riza, aku dari tadi memperhatikan penampilanmu, seperti nya kamu lebih rapi ya sekarang. Kamu habis potong rambut?" ujar Karu memuji malu-malu.
Riza tak menyangka Karu memperhatikannya. Memang sangat rapi rambut pemuda itu dengan potongan style poni Comma hair membuat nya semakin seperti Oppa-Oppa Korea. Wajahnya memang mirip Korea maka dari itu banyak wanita seumurannya yang kadang menyebutnya Oppa namun dia hanya menganggapnya sebuah candaan.
"Ahh... Iya Bu, karena malam ini kita pesta jadi saya rapikan rambut saya," sahut Riza.
Karu memandangi nya lembut sembari tersenyum setengah. Ia lalu menundukkan wajahnya yang memerah.
"Umm? Apa saya aneh ya Bu?" tanya Riza heran melihat Karu begitu.
Karu pun tersadar lalu menatapnya.
"Hmm, enggaak... Kamu tampan kok," sahut Karu gagap.
Riza hanya melongo lalu tersenyum lebar.
"Ya udah Bu syukurlah kalau bagus dan cocok potongannya sama saya hehe," nyengir nya.
"Oh iya Bu, ayo lanjutkan makan Ibu. Biar Ibu bisa istirahat juga sebelum pesta," ucap Riza.
"Ahh iya ayo kita makan lagi," aja Karu.
Riza menolaknya dengan tertawa namun Karu membujuknya untuk memakannya lagi.
"Ya udahh makan," kata Karu sembari mengambil cumi goreng itu
"Kalau kamu nggak mau ini," sambungnya dan ingin menyuapkannya ke Riza.
Riza makin malu, Karu ternyata memang wanita yang ke ibuan dan sangat perhatian kepada Riza. Ia kelihatan nya benar-benar menyanyangi pemuda itu sekarang.
Karu memandangi dan hanya menatapnya sembari terus mengarahkan cumi goreng itu ke Riza. Karu memang wanita yang pandai modus diam-diam. Riza hanya tak menyangka dengan diri nya sendiri mengapa dia bisa membuat Karu suka pada nya. Riza pun menghargainya dan mau menerima suapan dari Karu meski dia jadi salah tingkah sendiri.
"Umm, Ibu juga harus makan!" ajak Riza membalas Karu.
Dia menyodorkan cumi itu untuk Karu, Karu hanya tertawa dan tak menyangka Riza membalasnya. Ia pun dengan senang menerima suapan dari Riza, dengan lembut nya ia menyuap cumi itu sembari menggenggam lengan bawah Riza. Riza hanya tersenyum senang dan menertawakan nya.
Riza pun agak menyadari perasaan Karu sekarang, dia bingung harus bagaimana dan berharap semoga dia hanya kegeeran saja karena dia tak ingin Karu memiliki perasaan terhadapnya karena baginya dirinya sangat tidak pantas bersanding dengan Karu.
"Ya ampun apa aku sudah kelewatan? Maafkan aku Bu Karu, aku tidak bermaksud untuk memaksa Ibu untuk menyukai dan menghormati ku," gumamnya dalam hati merasa bersalah sembari menerima suapan dari Karu dan menatap Karu dalam.
Dia memegang tangan Karu, Karu pun terdiam. Ia merasakan sentuhan lembut Riza, menatapnya dengan penuh kenyamanan.
Mereka saling suap-suapan, sungguh keharmonisan manis yang pernah Karu buat. Karu memang tipe wanita romantis dan kalem, maka dari itu banyak juga laki-laki mengejar nya. Namun, tak ada yang bisa menaklukkan hatinya seperti Riza. Ternyata hati nya hanya bisa di buka oleh pemuda sederhana yang berhati polos dan lugu ini.
Tak terasa ternyata mereka sudah menghabiskan semua makanan itu. Mereka tertawa bersama seakan tak percaya.
"Oh iya, Ibu punya kerja sampingan sebagai model kan?" tanya Riza sembari merapikan meja itu agar pelayan nya tak terlalu repot membersihkan nya nanti.
"Lho, kok kamu tau? Tau dari mana?" jawab Karu heran.
"Hehe, iya dong. Kakak saya kan temenan sama temen Ibu, jadi saya tau. Lagi pula saya sering kok lihat Ibu di majalah-majalah stylish," jawab Riza tersenyum.
Karu pun mengangkat keningnya.
"Iya, lagipula saya pernah kan. Hampir ketabrak Ibu waktu di hotel Mega Atlantik," ucap Riza malu-malu mengingat hal itu.
Karu pun teringat itu dan membayangkan lagi kejadian itu. Ia pun tersenyum lebar sembari menunduk.
"Ohh iya ya lupa, iya Za. Pemotretan itu saat aku di panggil saja kalau ada menyuruhku untuk mempromosikan produk mereka," sahut Karu menyeringai.
"Iya, Ibu memang cocok dan pantas jadi model dimana-mana, soalnya Ibu itu sudah cantik body bagus lagi," puji Riza.
Karu malu dibuatnya, anak muda ini memang selalu pandai membuat Karu salah tingkah. Maka tak salah kalau Karu baper dengannya.
"Hmm kamu bisa saja, karena itulah dulu aku dan ayahku tak saling bicara karena dia tak ingin aku menjadi model," jawab Karu.
Riza pun kaget dengan hal itu.
"Hmm, ya sudah lupakan saja. Kamu mau pulang? Kerjaan kantor sudah beres kan tadi, jadi kamu boleh pulang dan bersiap malam tadi pergi ke pesta Ibu Hertanti," sambung Karu mencoba mengalihkan pembicaraan nya agar Riza tak lagi bertanya tentang ayahnya. Karena ia malas untuk mengingat ayahnya. Ya Karu memang wanita yang kurang akrab dengan ayahnya maka dari itu ia menjadi wanita yang kalem dan dewasa dan menjadi dingin karena sejak kecil ayahnya cuek dengannya.
Riza hanya terdiam dan melongo heran lalu menganggukkan kepalanya agar Karu tak marah..
"Kamu nanti aku jemput ya?" ucap Karu menawarkan.
"Ah nggak usah Bu nggak usah. Saya pakai motor saya aja Bu bisa kok,"
"Nggak papa, jangan pernah bilang diri kamu bahwa kamu nyusahin aku," pungkas Karu sembari tersenyum.
Riza terdiam dan bingung merenung. Karu membayar semuanya lalu mereka pulang kembali ke kantor.