Bab 16

2053 Kata
"Naah, sudah cakep banget adek gw sekarang!"  Shella memegang kedua bahu adik sepupunya itu sembari tersenyum lebar menatap cermin di hadapan mereka. Sungguh tampan Riza sekarang dengan baju kemeja putih dan jas berwarna biru malam dilengkapi dasi kupu-kupu hitam di bawah lehernya. Memang sangat cocok sekali Riza memakai pemberian Candra itu bahkan Candra yang pemilik awalnya pun seperti nya akan terlihat lebih baik Riza yang memakainya. Riza masih ragu dengan dirinya dan seakan tak percaya dengan pujian kakaknya itu. "Apakah aku benar-benar bagus kak? Nggak aneh?" tanya nya takut. Shella tertawa lucu sembari memukul bahunya. "Ya iyalah nggak, aneh! Tampan banget loh malahan," sahut Shella meyakinkan. Riza mulai bisa tersenyum dan mulai percaya. "Aku yakin Nona Karu nggak akan menyesal menjemputmu," sambung Shella nyengir. Riza mengerutkan keningnya lalu menggelengkan kepalanya mendengar perkataan kakaknya itu. "Hehe kakak bisa aja," jawab Riza malu. "Maaf ya Za kakak nggak bisa ikut, bilangin aja nanti sama mereka kalau kakak sedang ngurus skripsi. Sarah juga nggak bisa kan Nona Karu tau aja kok,"  Shella memang hampir lulus maka dari itu ia tak bisa lagi berleha-leha untuk skripsi nya maka dari itu ia tak bisa untuk pergi ke pesta itu. "Iya kak tenang aja nanti aku sampaikan kok," jawab Riza sembari tersenyum simpul. "Ya udahh, kamu Banggain kakak ya di sana," ucap Shella nyengir mencandai Riza. Riza menatapnya sinis sembari tersenyum simpul membalasnya. Mereka pun tertawa. Terdengar seperti suara remote mobil dari luar. Karu pun datang menjemput nya. Betapa panik dan gugupnya Riza saat Karu telah sampai di depan rumahnya. "Waduh tu Non Karu udah dateng. Udah kamu keluar sana. Tenaangg kamu sudah bagus kok Riza," ucap Shella menenangkannya. Riza menggigit bibir bawahnya masih gugup mencoba rileks lalu mengangguk dengan Shella. Shella tersenyum bangga kepadanya. Karu keluar dari mobil biru tua gelapnya. Betapa cantiknya wanita itu dengan memakai dress berwarna cream dengan gaya lengan bahu berlubang yang begitu anggun dengan dirinya. Anting panjang nya menjuntai di telinga kirinya. Rambut panjang hitam bergelombang nya yang berkilau semakin membuat cantik wajah kalemnya itu. Dengan make up yang sangat natural membuat wajah cantiknya tidak berubah.  "Permisi,"  Shella dan Riza sigap membuka pintu. Betapa terkejutnya Shella melihat Karu sangat cantik. Ia ternganga dan melongo. Riza juga terbelalak terdiam seribu bahasa. Dia tak percaya Karu begitu cantik seperti itu. Kakak beradik itu hanya ternganga dan terdiam kaku di depannya. Karu juga terpana melihat penampilan Riza sekarang, matanya tak bisa berkedip melihat pemuda tampan bak pangeran itu. Karu pun tersenyum manis sembari terus menyapa mereka.                             *** "Ahh, apa Mamah sudah terlihat bagus Candra?" tanya Hertanti sangat berkelas, ia sudah bersiap dengan gaya CEO nya. Aura pemimpin Hertanti terlihat jelas saat Hertanti memakai pakaian begitu. "Bagus! Cantik banget kok Mamah kesayangan aku ini," jawab Candra membelai pipi Mamahnya. Candra juga begitu tampan dengan jas abu-abu nya yang juga memakai dasi kupu-kupu seperti Riza. "Hehe syukur laah kamu ini bisa saja, anak Mamah juga terlihat sangat tampan dan gagah!" balas Hertanti membelai bahu anak kesayangannya itu. Tak lama lampu terang dari mobil besar datang menghampiri di depan halaman mereka yang ternyata itu adalah calon suami dari Hertanti. Dia adalah bos minyak yang juga kaya raya sebanding dengan Hertanti. Ternyata dia akan mendampingi Hertanti di pesta itu. Dia keluar dari mobilnya dengan gaya juga berkelas. Candra juga sepertinya lumayan menyukai calon Ayah tirinya itu karena terlihat baik hati. "Hayy sayang, halo Candra sayang," sapanya dengan gagahnya. Meski sudah tua dia masih terlihat sangat perkasa karena memang kaya raya. "Iya halo om," jawab Candra. Hertanti tersenyum bahagia melihat dua orang yang dicintai nya sudah bersiap. "Ahh kita akan bersama dengan Karu dan Riza, kita menunggu mereka dulu ya karena mereka belum datang," ujar Hertanti. Candra agak sebal mendengar itu. Namun, dia tetap menuruti Mamah kesayangannya itu. Dia mengutak-atik ponselnya dan mencari kontak Mounara. "Aku nggak sabar pengen ketemu dan melihat kamu malam ini Mounara," gumamnya senang di dalam hati sembari menatap foto profil Mounara yang begitu cantik. Dia menatapnya sembari tersenyum manja lalu mematikan ponselnya mengalihkan pandangan dan menaruhnya di kantong jasnya. Tak lama kemudian Riza dan Karu pun datang. Mereka lalu menghampiri Hertanti dan Candra. "Haloo Rizaa, apa kabar nak. Bagaimana? Kamu suka aja pakaiannya?" sapa Hertanti mencoba ramah kepada Riza agar Riza tak merasa malu saat berkumpul dengan mereka. Riza sangat malu dan merasa minder karena melihat Karu, Hertanti, kekasih Hertanti dan juga Candra yang baru saja ikut nimbrung dengan mereka. Namun, dia terus mencoba agar tetap ramah dan membuat Hertanti tak marah padanya. Karu terus memandangi Riza, ia tak juga tak menyangka Riza adalah ternyata pemuda yang sangat tampan. Dalam hatinya berdecak kagum dan tersipu malu. "Ahh, iya Bu. Suka sekali Bu," jawab Riza tertatih-tatih. Kekasih Hertanti pun menyapanya dengan ramah dan terlihat juga suka dengan sikapnya. "Salam kenal nak, Om ini calon suaminya Ibu Hertanti nama Om Om Farid. Jadi kamu tak usah sungkan-sungkan ya sama Om," ujar Farid sembari tersenyum dan menjabat tangan Riza. Karu tertawa melihatnya, Riza merasa sangat senang dan malu. Dia membalas jabatan Farid dengan gemetar. Candra hanya memandanginya sinis. "Iyaa nih kamu kenalan juga sama Candra, kalian bareng aja ya di mobil karena sama-sama cowok. Biar Mamah sama Karu dan Om Farid pakai mobilnya sendiri," ucap Hertanti mencoba memperkenalkan anaknya itu agar mau berteman dengan Riza. "Sayang, kamu pakai saja mobil kamu ya aku bersama Karu saja," saran Hertanti, Farid pun meng iyakan apa yang Hertanti katakan. Riza mengangguk tanda setuju meski Karu agak sedih dengan itu karena ia tak lagi bisa bersama Riza. Candra semakin kesal namun dia tak mau menolak apa yang dikatakan Mamahnya itu. Dia pun mau pergi bersama Riza. "Candra," "Riza Tuan,"  Mereka saling bersalaman, Riza pun tersenyum ramah kepadanya meski Candra menatapnya datar lalu Candra menyuruhnya untuk masuk ke dalam mobilnya. Mereka bersamaan masuk mobil masing-masing lalu mulai menggas dan pergi. . Riza agak gugup dan canggung saat bersama Candra. Candra terus fokus menyetir mobilnya. Riza pun mencoba agar suasana tak terlalu kaku. "Makasih ya tuan, udah beri pakaian ke saya," ucap Riza malu. Candra menatapnya lalu menyeringai. "Iya, sama-sama. Nggak papa kok aku emang mau beri kamu karena kamu udah mau nolong Mamah aku," jawab Candra tersenyum. Riza sangat senang ternyata Candra ramah dengan diri nya. "Kamu bukan asli sini?" tanya Candra juga mencoba mendekati nya agar Mamahnya tak kecewa padanya. "Iya tuan, saya asli Kalimantan. Saya ke sini bersama kakak sepupu saya karena kami lulus tes dan dapat beasiswa," jawab Riza nyengir. "Ohh, Kalimantan mana?"  "Kalimantan Selatan Tuan," jawab Riza ramah. "Ohh jauh juga ya, jadi kamu di sini nge kost ya, juga berseling kerja di kantor Mamah aku?" ujar Candra memuji Riza. Riza merasa malu lalu tersenyum kepadanya. "Hehe iya tuan, saya bersebelahan sama kost kakak sepupu saya karena kakak sepupu saya perempuan," sahut Riza. Candra menaikkan alisnya lalu mengangguk tanda mengerti. "Oke, semangat ya kuliah nya. Dan semoga kamu betah aja kerja di perusahaan Mamah aku ya," kata Candra tersenyum simpul. Riza sangat senang dan sangat bahagia. Dia mengangguk mantap dengan apa yang Candra katakan. "Iya Tuan pasti betah karena tuan sama Mamah tuan itu baik banget, Ibu Karu juga," puji Riza. Candra menyengir lalu tersenyum kepada Riza, Riza pun membalas senyuman nya ramah. Tak terasa di perjalanan mereka pun sampai di tempat tujuan. Hotel yang sungguh mewah memang diperuntukkan untuk pesta meriah itu. Tak main-main Hertanti meresepsikan acara itu dengan besar-besaran.  Mereka pun keluar dari masing-masing mobil. Riza melongo dan ternganga seperti orang linglung saat keluar melihat hotel tinggi menjulang juga luas itu. Kelap-kelip lampu hias menghiasi luar hotel itu untuk menyambut para tamu. Tamu juga sudah lumayan banyak berdatangan dan terlihat ramai sekali. Riza semakin melongo di buatnya. Riza sudah tak sadar lagi dan bertingkah seperti orang yang memang benar-benar baru pertama kali datang ke tempat semewah dan seramai itu.  Karu pun menatapnya dengan lucu. Candra juga mencoba agar Riza tak jauh-jauh darinya agar Riza tak kebingungan di sana. "Ayo Riza kita masuk," ajak Candra sembari melangkah duluan membimbing Riza. Karu terus memandangi Riza dan Riza pun bilang pamit dengan diri nya. Mereka sekarang terpisah karena Karu memang harus menjamu para distributor yang datang sembari mempertanyakan pekerjaan di sana. Maka dari itu ia tak bisa bersama Riza sekarang dan harus mengikuti perintah Hertanti itu. Candra memperhatikan kanan kiri nya. Dia terlihat seperti mencari sesuatu. Riza sadar dengan tingkah Candra. "Tuan, tuan mencari siapa?" tanya Riza. Candra terdiam dan memperhatikan sekitar karena dia sedang mencari Mounara. Dia pun tak ingin bilang kepada Riza tentang masalah pribadinya itu. "Ahh, enggak kok. Mari kita terus Za," jawabnya mencoba rileks. Riza hanya mengangguk bingung sembari terus mengikuti Candra. "Aduhh Tuan, saya beneran bingung. Tempatnya besar banget juga ramai, apa orang seperti saya nggak papa berada di sini tuan," keluhnya merasa tak pantas sembari menengok planga-plongo tempat yang mewah dan ramai itu. "Hmm nggak papa kok, kamu tampan dan rapi aja kok tenang," jawab Candra datar sembari menyipitkan matanya ke Riza agar Riza tak merasa diri nya lusuh dan meyakinkannya bahwa Riza memang sangat tampan sekarang. Candra terus melihat dan memperhatikan sekelilingnya dan mencoba memperhatikan semua sudut kalau-kalau ada Mounara. "Ahh benarkah Tuan makasih banyak tuan, soalnya... Hehe saya nggak pernah ke pesta semeriah ini tuan," lirih Riza malu sembari memainkan jari-jarinya canggung.  "Ya ampun, besar sekali dan meriah sekali pesta ini. Ibu Hertanti benar-benar orang yang sangat kaya," gumamnya dalam hati melongo takjub terus memandangi tempat itu. "Tapi... Apa jangan-jangan Ibu Meri juga sudah ada di sini? Aku harus hati-hati!" Gumamnya cemas. Dia semakin memperhatikan sekelilingnya dengan cemas. Hertanti berjalan masuk dan bertemu dengan Mukti lalu berjabatan tangan, berpelukan dan saling cipika-cipiki ramah. Mereka sangat terlihat senang dan gembira bisa bertemu. Karu pun menyapa Mukti dengan sopan lalu berpamitan dengan mereka ke lain tempat. Farid pun dengan setia menemani Hertanti mengikuti Mukti ke dalam. Ternyata di dalam sudah ada Meri yang menanti mereka dengan makanan dan minuman yang bermacam-macam di atas meja. Mereka pun bersalaman dengan Meri, Hertanti juga memeluk Meri senang. Mereka duduk bersama dan mulai mengobrol.  . Di luar terlihat seorang wanita yang terlihat lebih menarik dari yang lainnya. Ia terlihat kebingungan lalu memalingkan wajahnya. Ya ia adalah Mounara. Mounara sangat cantik dan paling bergaya di antara lainnya. Rambutnya yang panjang lurus agak bergelombang di bawah dan sedikit pirang membuat cantiknya semakin bertambah dengan memakai gaun berwarna peach muda dengan gaya lengan bahu turun ke bawah. Ditambah anting tusuk putih nya membuat tampilan nya sangat elegan dan feminim serta make upnya yang natural tak mengubah paras cantik imutnya. "Aduhh di mana sih Surbhi sama Nesa? Katanya tadi udah di sini, aduhh hp gw ketinggalan di kamar hotel lagi sial!" gerutunya kesal sembari menengok sana sini. Ia mencoba berjalan menjauh dari tempat itu dan seperti nya ingin mengambil handphone nya di dalam. "Umm Riza, kamu tunggu di sini bentar mau ya? Bentaar aja kok aku mau ke luar dulu soalnya," perintah Candra memohon. "Tapi tuan, saya bingung," "Udah nggak papa, kamu di sini aja diam nggak usah kemana-mana oke bentar aja kok," pungkas Candra meyakinkannya. "Tapi tuan?!," Candra tetap meninggalkannya dan kembali mencari Mounara, karena Candra sangat ingin bertemu dengan pujaan hatinya yang sangat cantik itu apalagi di dalam pesta seperti ini, dia tak akan melewatkan Mounara dan terus berusaha mencari nya agar ketemu. Riza semakin bingung dan takut kalau tiba-tiba Meri atau anak buahnya melihatnya bahwa dia tetap datang ke pesta ini. "Ahh semoga saja, perusahaan kita bersama akan semakin maju. Dengan kerja sama ini ya Mukti, Meri." Hertanti sangat senang dan bangga. "Iya Hertanti, kami akan menawarkan produk mu juga ke Kanada karena di sana pabrik kami juga berjalan dan pasaran produk kalian juga pasti akan bertambah," sahut Mukti dengan senang dan meyakinkan Hertanti. "Iya Ibu Mukti, saya senang sekali. Kami juga akan mengajak distributor kami untuk memasarkan produk kalian, karena produksi kita sama tetapi anda lebih berwawasan dan luas," jawab Hertanti memuji mereka. Meri dan Mukti tersenyum lebar dengannya. "Iya semoga saja kerjasama kita akan semakin membuat sukses kita bersama," kata Mukti. "Kami juga akan menyediakan bahan baku yang selalu ready untuk kalian yang akan kami impor dari pabrik kita di luar, jadi kalian tenang saja kalau bahan baku habis dan tidak tau seperti apa," jelas Meri memberitahukan. Mukti mengangguk tanda menbenarkan adiknya itu. Hertanti sangat senang dan terus tersenyum kepada mereka tanda setuju. "Baik Bu Meri, Bu Mukti. Haha tak sia-sia pesta ini kita rayakan untuk perayaan kerja sama kita!" jawab Hertanti tertawa senang membelai lembut bahu Mukti. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN