Musik semakin keras pesta pun semakin meriah dan menyenangkan. Semua orang bersenang-senang sembari mengangkat minumannya begitu juga Meri.
"Mari sayang-sayangku kita nikmati ini! Yuuhuu," seru Meri sembari mengangkat minumnya.
"Dimana Candra ini hehe pasti dia sedang mencari Mounara," kata Hertanti nyengir kepada Mukti seakan senang.
"Maklum lah jeng, lagi falling in love biarin aja," jawab Mukti.
Mukti, Hertanti dan Farid tertawa lalu mengikuti Meri mengangkat minum mereka menyodongkannya juga ke gelas Meri.
"TOSS! HAHAHA,"
Teriak mereka bersamaan bahagia.
.
Riza semakin bingung dan takut, Candra pun tak kunjung datang. Dia pun terus mencari-cari Candra. Dia terlihat ling-lung.
"Dimana tuan Candra tadi? Kenapa dia ninggalin aku sendiri lama banget," cemasnya sembari mencoba berjalan.
Dia terus melihat dengan gelisah. Ternyata tak jauh dari belakangnya terlihat Mounara ingin melewati tempat itu.
"PRANKK!!"
Dia linglung tak terkendali dan tak sengaja tertabrak meja berisi banyak minuman dan minuman itupun tumpah berjatuhan hingga salah satu gelas di sana ada yang pecah. Semua orang di sana pun kaget dan melihat nya. Dia pun berteriak kaget setengah mati dan mengundurkan dirinya gelisah tak karuan dan...
"GREP!"
Dia menabrak Mounara hingga refleks menangkapnya sampai Mounara ingin terjatuh juga, ia memegangi tubuh Riza kuat. Riza pun mencoba menahannya dan akhirnya Riza berhasil mendekapnya. Kini mereka bagaikan sedang b******u romantis. Riza mencoba menghentikan paniknya dia kuat menggenggam pinggang Mounara. Mounara mencoba mengibaskan rambutnya agar tak mengenai wajah orang itu, ia pun melongo kaget kedua tangannya memangku leher Riza erat. Saat Riza membuka mata nya benar-benar. Barulah tersadar bahwa dia sedang mendekap wanita yang pernah menyiramnya. Betapa terkejutnya Riza melihat semua itu dia sangat kaget. Mounara pun terus membelalakkan matanya tak menyangka. Seakan ia mendapat kan tiba-tiba sesosok pangeran mendekapnya. Mounara terus melotot heran merapatkan bibirnya memandangi Riza, menatapnya tanpa berkedip dan seakan menyukai itu, Riza pun juga terus menatapnya penuh kekagetan. Mereka sempat terdiam beberapa saat.
Semua orang di sana tiba-tiba terdiam dan hening.
"TANTE?!"
"ELO?!"
Kedua kata itu secara bersamaan keluar dari mulut mereka masing-masing kaget dan merasa heran.
Riza pun mencoba bangun dan Mounara mencoba melepaskan dekapannya tak di sengaja itu.
"Elo? Elo ngapain di sini juga?" tanya Mounara kaget dan tak menyangka.
Riza pun juga tak menyangka bahwa Mounara bisa berada di pesta ini dan bertemu dengan diri nya bahkan tertabrak tak sengaja sampai sedekat tadi.
Riza hanya melotot heran sembari terus ternganga melihat Mounara.
"Makasih ya tante, Aku...," Riza mencoba menjawab Mounara tetapi dia tak sengaja berpaling wajah ke samping dan saat berpaling dia melihat Meri di situ dan terlihat sedang tertawa bersama dengan tamu lain mengambil gelas di situ. Betapa paniknya saat melihat penampakan semua itu.
"IT, ITU KAN IBU MERI?!!" paniknya dalam hati. Dia semakin takut lalu langsung ingin berlari tempat itu.
"HEY!! Lo kenapa?!" tanya Mounara heran melihat dirinya yang panik ketakutan sendiri seperti itu sembari mencoba menahannya.
Mounara pun mencoba melihat ke arah yang Riza lihat.
Riza semakin gelisah dia mencoba melihat ke arah Meri lagi dan Meri pun membalikkan tubuhnya ke arahnya dan terlihat berjalan mendekat ingin menuju tempatnya. Dia semakin kalang kabut dan mencoba melepaskan Mounara lalu berlari dari sana.
Mounara semakin terheran-heran melihatnya, ia bingung dan terus melotot mengerutkan keningnya memandang Riza.
Meri sekilas telah melihat Riza. Ia pun menghentikan minumnya dan mencoba berpura-pura mengambil minuman lagi di depannya agar tak dicurigai tamu-tamunya.
"Itukan Riza? Apa dia masih berani ke pesta ini setelah aku menculik kemarin?" gumamnya dalam hati menyipitkan mata melirik bertanya seakan tak percaya dan masih ragu.
Meri pun mencoba mengejar Riza, ia mengikuti kemana arah Riza yang ia sempat lihat. Ia memeriksa sekitar nya dan nyaris menemukan Riza, untung Riza sempat masuk ke ruang dalam sudah jauh sehingga Meri tak melihat nya lagi. Meri pun bingung sendiri.
"Hmm, apa aku tadi salah lihat saja ya? Mana mungkin dia berani lagi ke sini karena takut denganku," gumamnya lagi tak percaya.
Ia pun mengira diri nya hanya menghayal, Meri pun kembali ke tempat minum dan menghampiri Hertanti, Mukti lagi.
Terlintas di pikirannya ingin menanyakan Riza kepada Hertanti. Namun, ia mengurungkan niatnya itu karena takut dicurigai Mukti. Syukurlah Riza selamat.
"Kamu kenapa Meri?" tanya Hertanti sembari tersenyum.
Sepertinya ia sadar bahwa sejak tadi Meri seperti ada yang ia pikirkan. Meri pun membuyarkan lamunannya memikirkan hal tadi.
"Iya, dari tadi kek orang linglung aja happy dong pesta," sahut Mukti.
"Ohh hehe nggak papa, ini minum enak sekali," ucapnya sembari menyodorkan jus anggur itu kepada mereka. Mereka pun hanya saling pandang lalu tersenyum kepada Meri.
.
Riza terus berlari sembari terus melihat ke arah belakang gelagapan.
"PRANKK!!"
"PRANK!!"
Dia tak terkendali dan berteriak kecil menabrak semua yang dia lewati. Semua orang yang ada di sana pun nyaris memarahinya namun dia tidak perduli lagi sampai-sampai dia tersungkur. Sungguh kasihan pemuda ini. Dia kesakitan dan mencoba melepaskan sepatu nya. Dia seakan ingin menangis. Dia pun mencoba berdiri lagi agar bisa lari.
"Aku harus kemana ini ya Allah, aku di mana? Aku tak tahu ini di mana! Apa jangan-jangan anak buah Ibu Meri mau mengejarku? UGHH!"
Jeritnya gelisah panik tersungkur di sebuah karpet mewah ruangan itu sembari memegang kakinya yang terkilir karena berlari terlalu kencang.
Dia pasrah dan mencoba untuk berhenti sejenak sampai kakinya kurang sakit. Tiba-tiba tangan seorang wanita menepuk bahunya pelan.
"AAARGGH JANGAN!" teriak nya refleks panik sembari menjauh dari tangan itu.
"HEEY HEY HEY!!, INI GUA OKEYY TENANG," jawab Mounara melotot mengerutkan keningnya mencoba menenangkannya.
Ternyata Mounara mengikuti nya dari tadi karena Mounara sangat heran dan bingung kenapa pemuda satu ini seperti ketakutan kalang kabut seperti itu.
Riza pun tersadar bahwa itu bukanlah Meri, nafasnya ter engal. Dia pun mencoba sedikit menenangkan diri nya. Riza tetap membelalakkan matanya masih ter engal.
"Okee, lu tenang. TENANGG," sambung Mounara sembari mengeladahkan tangannya memerintahkan Riza agar tenang.
"TANTE MAU APA?!" tanya Riza panik.
"Enggak! Gua nggak mau apa-apa okey? Gua nggak ada niat jahat kok sama lu TENANG...?!" jawab Mounara meyakinkan.
Riza menatapnya sembari sedih, dia percaya bahwa Mounara hanya ingin menenangkan nya dan merasa bersalah karena kepanikannya itu.
Riza masih ketakutan dan terus melihat ke arah luar untuk berjaga-jaga kalau anak buah Meri mengejarnya.
"Okeyy lu tenang!, lu diam. Emang ada apa sih?" ujar Mounara terus bertanya kepadanya.
Riza kembali merasa cemas dan panik.
"Udah-udah okee, OKEE. lupain hal tadi. Gue cuman bawain sendal, sama nih... Minum," ucap Mounara sembari menunjukkan sepasang sendal jepit dan botol air minum kemasan kepadanya.
Riza hanya melototinya cemas masih belum paham.
"INI SENDAL, SENDAL..." Mounara terus menunjukkannya sembari mengangkat keningnya.
Riza akhirnya tersadar bahwa itu memang sendal, dia agak mendingan sekarang.
"Tan, tante dapat dari mana?" tanya Riza heran.
"Udah elo nggak usah mikirin itu, nih minum. Elo minum air ini biar nggak gelagapan lagi," perintah Mounara menyodorkan botol minum kecil itu ke Riza.
Riza tak menyangka Mounara ternyata orang yang baik dan dia salah menilai kemarin.
"Kenapa, tante ini mau nolongin aku?" gumam Riza dalam hati heran.
"Huh, iya tante makasih banyak ya. Aku bingung harus balasnya gimana," jawab Riza grogi.
Mounara senang mendengarnya.
Riza menerima apa yang Mounara berikan.
"Apa jangan-jangan anak buah Ibu Meri sedang mencoba menjebak aku dan menyuruh tante ini untuk membuat ku lama-lama di sini? Ahh tidak, aku harus pulang sekarang, YA HARUS PULANG!" ucapnya resah di dalam hati.
"Terimakasih banyak tante!"
Dia langsung memakai sendal jepit Mounara itu lalu bergegas kabur pergi dari sana.
"HEY!!"
Dia menutup wajahnya sembari lari kecil keluar dari tempat itu dan tak menyangka dia melihat Candra tak jauh dari situ sedang melihat-lihat tempat itu. Dia pun bergegas keluar agar tak kelihatan Candra juga dan berhasil dengan selamat. Mounara terus mengikuti nya dan ia berselisih dengan Candra, sayang sekali Candra tak melihat orang yang dia cari dari tadi.
"Heyy! Lu mau kemana lagi sih!"
Mounara terus mencoba menahannya menarik tangannya dan Riza membalas tarikan nya hingga mereka kembali terdekap dekat tak sengaja. Mounara pun membelalakkan matanya kaget tak percaya. Kini mereka bagaikan sepasang kekasih yang sedang berdansa romantis, Riza pun menatapnya dengan sangat dekat. Tak jauh dari sana Candra ada mencari nya. Dia pun berpaling arah ke tempat Riza dan Mounara berada. Dia seperti ingin memeriksa tempat itu. Habis lah kalau Candra melihat Riza sedang mendekap pujaan hati kesayangannya itu. Namun, syukur ternyata Candra tak jadi ingin ke tempat mereka. Dia terlihat masuk ke dalam dan melanjutkan pencariannya yang sebenarnya ada di dekapan Riza sekarang.
Mounara mencoba melepaskan tubuhnya dari Riza, Riza kaget juga merasa kikuk.
"Ma-maaf Tan," ucap Riza sedih.
"Ya, ini gua cuman mau ngasih air minum ini lagi, tadi yang lo ambil cuman sendalnya kan masih tegang nggak minum," sahut Mounara sembari menyodorkan minum itu ke Riza. Riza pun baru tersadar lagi bahwa dia memang hanya mengambil sendalnya. Dia tersenyum tipis ke Mounara. Namun, dia teringat lagi dengan Candra dan Meri. Dia pun kembali bergegas pergi dari tempat itu.
"Terimakasih banyak Tante! Nanti kalau kita ketemu akan aku ganti," ucapnya sembari lari.
Mounara melotot mengangkat keningnya melihat Riza pergi. Riza pun keluar dan bertemu dengan seorang paman ojek yang berada dekat sana. Dia pun langsung naik ojek itu tanpa perduli itu ojek atau bukan karena orang itu mau-mau saja mengantarkannya. Akhirnya Riza pun pulang.
"Dihh aneh banget tu berondong," ledek Mounara heran.
"Ngapain ya dia ada di sini juga? Kok bisa?" tanya nya heran masih tak percaya mengapa anak kuliahan dari kampus yang di pimpin nya dance itu bisa berasa di pesta Mamahnya juga.
"Woyy!! Rumahnya di mana? Ahh, udah jauh lagi lupa tanya tadi!" Gerutu nya kesal sembari berteriak mencoba memanggil Riza lagi.
"Huhh?! Kenapa dia panik banget gitu ya tadi, emang ada apa di pesta ini? Ahh sudahlah, emang aneh tu anak," gerutunya kesal.
Tiba-tiba, ia melihat sebuah jam tangan putih tergeletak di depannya. Ia pun mengangkat keningnya kaget lalu menghampiri jam tangan itu dan mengambilnya.
"Ini? Bukannya jam tangan dia tadi jatuh? Dia nggak sadar?" ucap Mounara sembari menatap jam itu.
"Hmm, gua simpen aja. Siapa tau nanti kalau gua ketemu dia lagi di kampus bisa gua sita buat tanyain dia kenapa dia juga bisa ada di pesta Mamah," ucapnya tersenyum setengah tanda puas dan senang. Ia pun membawa jam itu dan menyimpannya.
.
"Haduhh, Mounara di mana sih! Capek banget dari tadi kagak ada juga ketemu nyari dia," keluh Candra sebal memegang pinggul dengan kedua tangannya.
"Riza kemana lagi, hilang gitu aja! Udah gue bilangin tu anak jangan kemana-mana masih aja. Ahh nggak asik banget, percuma pesta meriah begini. Tapi enggak ada Mounara," ketusnya kesal.
Dia memutuskan untuk menghampiri Mamahnya.
"Ehhh sayang, baru aja keliatan. Dari mana aja sayang kamu tadi ha? Ini lo tante Meri sama tante Mukti pengen ketemu kamu juga," tanya Hertanti senang.
Candra terdiam lalu tersenyum kepada Ibunya dan juga kepada Mukti dan Meri.
"Hay Tan, apa kabar," sapa Candra sopan kepada Meri dan Mukti sembari mencium tangan mereka.
Mereka pun tersenyum simpul kepada pria dewasa itu.
"Iyaa sayang baik, kamu tadi kemana aja," jawab Mukti.
"Uhh Mamah tau, hehe. Pasti... Mencari Mounara..." ucap Hertanti malu-malu dan tersenyum lebar kepada Mukti dan Hertanti.
"Iya Mah, tapi dari tadi aku nggak ketemu sama dia kok," jawab Candra sedih.
Hertanti terheran, Candra menatap Mukti dan Meri.
Mukti hanya tersenyum sembari mengelus bahu nya. Candra malu lalu tak di sangka Mounara datang dan berada tak jauh darinya. Dia sangat senang dan melihat pujaan hatinya itu dari jauh.
"Mounara," gumamnya dalam hati senang sembari terdiam terpana melihat Mounara sangat cantik.
"Heh, percuma kamu mencari Mounara..."
Meri membuat Candra membuyarkan pandangan nya dari Mounara. Ia duduk menyandarkan tubuhnya dengan raut wajah yang kesal sembari menatap ke depan dengan tajam. Mounara berjalan menghampiri mereka dengan tersenyum simpul dan saat mendengar Meri berkata seperti itu, langkahnya terhenti.
Mereka terdiam dan hanya mengerutkan kening. Mukti tersadar dan merasa agak malu juga terdiam.
Mounara terdiam menatap Candra dan yang lainnya dan seketika menghentikan senyumnya.
"Eee, kenapa Meri? Apa Mounara sedang tidak ada?" tanya Hertanti heran.
Hertanti dan Farid merasa tak enak, seperti nya mereka merasa bahwa Meri kesal karena Mounara tak menghadiri pesta. Mereka saling pandang memandang. Candra yang sudah melihat Mounara ada di dekat mereka pun merasa cemas dan khawatir kepada Mounara, dia menatapnya dengan penuh iba.
"Percuma kamu mencarinya kemana-mana Candra dia nggak akan datang ke pesta ini! Padahal ini acara penting! PALING-PALING DIA LAGI NGUMPUL SAMA TEMAN-TEMANNYA YANG NGGAK JELAS! DIA MEMANG NGGAK BISA DIANDALKAN!" ucap Meri emosi sembari mengayunkan tangannya ke atas tanda marah.
Candra menatap Mounara dengan cemas, dia sangat kasihan dengan Mounara yang di tuduh Meri tak menghadiri pesta ini.
Mounara mendengarnya sangat jelas, ia merasa sakit hati. Ia terdiam dan membelalakkan matanya.