Hertanti hanya menyeringai pelan tanda tak enak. Candra terus memandangi pujaan hatinya bingung sedih mau berbuat apa.
Mata Mounara berkaca-kaca ia terlihat kesal dan merasa tak dihargai sama sekali. Ia terus terdiam sembari mengepal tangannya. Mukti hanya sedih sembari membetulkan kacamatanya juga bingung mau berbuat apa.
Mounara menatap sinis ke arah mereka, Candra pun semakin prihatin melihatnya, ia pun pergi berbalik arah meninggalkan mereka tak jadi menghampiri. Candra membelalakkan matanya, tangannya seakan ingin Mounara namun tak bisa. Meri masih tak mengubah posisinya dan masih melotot ke depan tajam. Candra merasa sangat sedih sekali dia pun ikut berkaca-kaca.
Mereka hanya menundukkan kepala bingung juga apa yang harus dilakukan.
Mounara berjalan cepat keluar meninggalkan tempat itu. Saat ia kesal ia berselisihan dengan Karu hingga nyaris tertabrak. Namun, Mounara seakan tak perduli dengan hal hingga ia terus berjalan tanpa melihat Karu. Karu pun agak kesal dengan itu.
"Siapa dia?" tanya Karu dalam hati kesal hampir terjatuh karena menghindari tabrakan Mounara. Mounara terus menjauh.
Karu menatapnya sinis. Namun, ia tak ingin memperpanjang urusan ia pun melupakan Mounara lalu meneruskan langkahnya menghampiri mereka.
"Permisi?" sapa Karu yang membuyarkan ketegangan mereka. Mereka pun agak tenang sekarang.
"Ehh halo Karu, kamu sudah selesai bicara sama yang lainnya?" tanya Hertanti senang.
Karu agak heran dengan mereka yang sepertinya ada sesuatu yang membuat tegang suasana.
"Emm, ada apa ya?" tanya Karu mencoba ingin membantu.
"Enggak apa-apa kok Karu, mari bergabung dengan kami," sahut Meri mencairkan suasana sembari menyodorkan segelas sirup merah ke Karu.
Ia mencoba melupakan ucapannya tadi. Mukti, Hertanti, Candra serta Farid pun tertawa kecil lega.
"Ohh, hehe iya Tante terimakasih. Iya Tan saya sudah bicara kepada mereka dengan kerjasama kita ini dan mereka sangat menerima dengan antusias," jawab Karu tersenyum manis.
Mereka pun bangga mendengar hal itu. Mukti memandanginya karena ia melihat wanita itu seperti seumuran saja dengan anaknya.
"Kamu manajernya Hertanti ya?" tanya Mukti tersenyum.
Karu pun mengangguk sopan kepada dirinya.
"Iya Tan saya Manajer di tempat Tante Hertanti," jawab Karu.
Mukti hanya tersenyum mendengar nya. Mereka kembali bersenang-senang.
***
"Eh beb, lu dari tadi ada ketemu sama Mouna nggak sih?" tanya Surbhi sembari celangak-celunguk tak jelas.
"Enggak, aah udahh yang penting kita datang ke sini. Siap tau dia lagi ngumpul sama keluarganya membahas kerjaan Sur," jawab Nesa santai sambil menikmati minuman.
"Bener juga ya, ya udah kita tunggu aja kali ya sampai dia nelpon," sahut Surbhi.
Tak berapa lama Karu keluar dan menjadi sorotan wartawan. Karena Karu memang seorang model yang lumayan dikenal ia pun menjadi sasaran wartawan atau paparazzi yang mengenalinya.
Surbhi dan Nesa terheran siapa yang sedang disorot flash-flash putih banyak itu. Mereka mencoba memperhatikan agak lebih dekat lagi dan ternyata mereka ingat siapa yang sedang dikerumuni orang-orang itu.
"Eh buset, itu kan yang ketemu kita lagi pacaran di rumah makan kemaren," seru Surbhi menggoyang-goyangkan bahu Nesa agar melihat. Nesa pun kaget dan mengingatnya
"Lah iya, kok dia ada di sini juga? Apa dia kerja di perusahaan yang ingin kerjasama sama perusahaan Mounara?" tanya Nesa heran.
"Bisa jadi, tapi kok kek model gitu sok banget," julid Surbhi
"Mungkin aja dia emang model," jawab Nesa meledek.
Mereka hanya mencibir Karu.
"Di mana ya Riza? Kok sejak kami kepisah tadi aku nggak lagi ketemu sama dia?" tanya Karu dalam hati heran sembari terus tersenyum kepada semua kamera yang memoto nya.
***
Riza sampai di rumah dengan selamat, dia menghembuskan nafasnya sangat lega dan bahagia. Dia pun merebahkan tubuhnya ke kasur empuknya. Tiba-tiba dia malah teringat dengan Mounara tadi saat tak sengaja tertabraknya dan sangat dekat. Dia terbayang wajah Mounara yang sangat cantik berada di depan wajahnya dekat sekali.
Dia melongo mengingat semua tadi, seakan terpana tak menyangka.
"Kenapa aku malah ketemu sama tante itu nggak sengaja lagi tadi? Ternyata dia memang kaya raya seperti yang Dinda bilang," kata Riza tak percaya.
"Siapa dia sebenarnya? Kenapa dia ada di di situ juga?" tanyanya panik.
Dia pun mencoba menebas semua pikirannya itu lalu bangun dan mengganti bajunya.
.
.
.
"Kemana ya Riza malam kemarin, kenapa anak itu seperti hilang ditelan bumi begitu saja," ucap Hertanti heran bertanya kepada Candra heran.
"Aku juga nggak tau mah, padahal aku tinggal sebentar aja kok eh malah udah nggak ada," jawab Candra sembari mengunyah sarapannya.
"Mungkin dia malu Mah, lalu pulang duluan dia kelihatan kikuk gitu sih kemarin aku lihat pokoknya kayak kampungan gitu deh, katanya emang baru pertama kali Mah dia ikut pesta kayak kita malam tadi,"
"Husst, kamu nggak boleh ngatain orang sayang," tegur Hertanti.
Candra mengelak tuduhan Mamahnya.
"Enggak kok Mah, aku nggak ngatain kok. Emang dia yang jelasin ke aku malam tadi," pungkas Candra meyakinkan Mamahnya.
Mamahnya tersenyum simpul.
"Mah, aku kasihan sama Mounara malam tadi," kata Candra.
"Iya sayang, dia nggak datang kan ke pesta maka dari itu Meri marah padanya."
"Enggak Mah, dia ada kok. Tapi saat dia ingin menghampiri kita. Tante Meri malah bilang begitu, alhasil dia malah sedih dan pergi Mah nggak jadi nyamperin kita," pungkas Candra.
Hertanti terkejut saat mendengar pernyataan dari anaknya itu.
"Hah? Yang benar saja nak? Kenapa kamu nggak bilang ke Mamah?" jawab Hertanti mengerutkan dahinya tak percaya.
"Iyaa, aku nggak enak aja soalnya takut juga Mah kalau Mounara marah juga," sahutnya.
"Jadi, aku niat mau temuin dia hari ini Mah, buat ngehibur dia. Aku yakin hatinya sakit saat tante Meri berkata seperti itu dan dia mendengar," saran Candra.
Hertanti pun menyetujui anaknya dan langsung mengizinkan. Karena Candra memang sudah mendapatkan restu juga dari Mukti untuk mendekati Mounara.
"Iya sudah benar, kamu temenin dia Candra kasihan. Lagipula ini hari Minggu juga kok," jawab Hertanti mantap.
Candra pun senang, dia pun bergegas menghabiskan makannya lalu pergi menghampiri Mounara. Dia pun berpamitan dengan Hertanti lalu pergi dengan mobil mewah pribadinya.
***
"Sayang, Maafin Mamah yah Mamah kira juga kamu malam tadi nggak datang ke pesta," ucap Mukti memohon saat Mounara sudah mau keluar dari kamarnya.
Mounara pun tersenyum kepada Mamah tercintanya.
"Mamah yakin, anak Mamah ini nggak mungkin kecewain Mamah," sambung Mukti berkaca-kaca.
"Hmm, iya Mah. Aku nggak marah kok sama Mamah, aku cuman sakit hati aja tante Meri nuduh aku nggak dateng dan ngata-ngatain aku di depan Ibu Hertanti dan keluarganya kayak malam tadi," jawab Mounara menyeringai sembari mengusap pipi Mamahnya lembut.
Mukti sangat bahagia mendengarnya.
"Terimakasih sayang, ya udah kamu sarapan sana." Mukti mengelus lembut rambut Mounara.
"Iya Mah, Mamah duluan aja. Aku mau mandi dulu deh ya," jawabnya.
Mukti menganggukkan kepalanya senang dan membiarkan Mounara pergi mandi.
Saat Mounara sedang mandi Candra pun datang menyapa Mukti dengan sopan ia pun dipersilahkan Mukti untuk masuk.
"Ehhh Candra, ayo duduk dulu."
"Ehee iya Tan, makasih. Mounaranya ada?" tanya Candra sembari duduk di sofa empuk berwarna cream itu.
"Ohh ada dong, dia lagi mandi tu. Tunggu aja ya," jawab Mukti menyengir.
Candra pun malu lalu menganggukkan kepalanya sembari tersenyum. Mukti pun meninggalkannya ke dalam dan Mpo Siti membuatkannya minum.
"Terimakasih ya Mpo," ucap Candra.
"Iyaa sama-sama Tuan, mari silahkan diminum Tuan."
Mpo Siti tersenyum lebar kepadanya.
Mounara keluar dengan handuk kimono putihnya serta handuk yang melilit rambut di kepalanya. Dengan santainya ia berjalan dan membetulkan handuk di rambutnya tanpa mengetahui bahwa Candra ada di depannya. Dia terlihat seksi saat mengangkat kedua tangannya itu juga handuk kimono nya yang di atas lutut dan agak terbuka di bagian dadanya karena memang habis dari mandi.
Candra membelalakkan matanya dan jadi salah tingkah sendiri. Mounara pun tersadar dan langsung melihat ke arah Candra duduk. Betapa kaget dan malunya ia saat tersadar tahu bahwa Candra ada duduk di depannya.
"HEH?! Elo?!! Ka, kapan lo dateng ke sini?!" ucapnya panik sembari membetulkan handuk kimononya rapat-rapat.
"Ma,maaf Moun. Gua baru dateng kok," jawab Candra kikuk.
Mounara melotot ke arahnya. Dan memeriksa bagian dadanya lalu menutupnya rapat-rapat malu.
"Yaa, bentar ya. Gua mau ke kamar dulu," katanya malu sembari mempercepat langkahnya lewat dari Candra lalu masuk ke dalam kamarnya.
Candra hanya tersenyum lebar dan terdiam kaku tak bersuara. Dia terlihat seperti tak enak kepada Mounara dan salah tingkah sendiri. Mpo Siti yang melihatnya hanya menertawakannya sambil menutup mulutnya agar tak ketahuan Candra.
"Krek,"
"Haduhh, ngapain dia ke rumah gue pagi-pagi begini. Nggak peka apa kalau gue mau santai di rumah," keluh Mounara sebal menutup pintu kamar.
"Huhh, tak apalah. Sekali-kali gue temenin dia jalan, kasihan juga dari kemarin gue tolak."
Ia pun bergegas memakai baju dan berdandan.
Setelah selesai, ia keluar. Betapa cantik Mounara ini, memakai pakaian modis membuat Candra melongo terpana melihat dirinya saat keluar dari kamar. Mounara membetulkan tas selempang manisnya.
Betapa terpananya Candra melihat itu. Dia terlihat sangat senang dan bahagia. Matanya berkedip lembut memandangi pujaan hatinya itu meski Mounara tidak pernah membalas perasaannya.
"Kita makan dulu, Mamah tadi nyuruh sarapan sih. kamu udah makan?" tanya Mounara.
"Ahh nggak usah, kita makan di luar aja ya. Gua beliin," jawab Candra menatap Mounara dalam.
Mounara hanya melotot, ia akhirnya mau menerima tawaran Candra itu karena tak tega menolak.
"Ya udah, enggak papa kan? Gua nggak mau ngerepotin elo," sahut Mounara meyakinkan.
"Iya iyalah Moun, gua nggak pernah ngganggep lu ngerepotin gua. Karena..."
Mounara mengangkat keningnya.
Candra hanya menatapnya salah tingkah, dia pun mencoba untuk tak membuat Mounara ilfiel lagi.
"Ahh udahlah ayo, kita pergi. Pamit sama Mamah dulu ya," pungkas Candra tersenyum simpul.
Mounara semakin heran dengannya tapi ia mengiakan saja apa yang Candra inginkan. Mereka pun pergi kencan.
***
Riza pergi ke sebuah cafe bersama Saidi dan Rian untuk menenangkan dan merefreshing dirinya melupakan semuanya. Dia mencoba untuk tetap tenang dan terus melupakan Meri.
"Bro! Ayo join mabar juga nggak asik banget lu," ajak Saidi
"Enggak, kalian aja. Gua nggak bisa main begituan nggak suka juga," sahut Riza.
"Alahh cowok apaan lu bener kata Saidi nggak asik banget," ledek Rian kesal.
Riza hanya menyeringai. Riza memang lelaki yang dewasa, dia memang tidak seperti kebanyakan seumuran dengannya karena memang berasal dari keluarga yang keras.
"Dia emang nggak bisa bro, bisa nya mainin cewek," ucap Rian nyengir.
Riza melotot ke arahnya. Saidi pun menertawakannya.
Saat Saidi, Rian sedang asyik mabar
Tiba-tiba saat Riza, Saidi dan Rian sedang asyik bercanda dari kejauhan seseorang pria paruh baya berpakaian kaos rapi terlihat sedang ingin berdiri dari kursi. Semua orang yang tadi duduk bersamanya kini telah pergi meninggalkannya satu persatu. Namun, saat yang lain sudah pergi dan tinggal dia sendiri. Dia tiba-tiba memegangi d**a kirinya seolah-olah merasakan sakit di bagian itu. Ternyata dia adalah suami Meri, Angga Om dari Mounara. Dia ternyata sedang mengadakan pertemuan mendadak yang terpaksa dilaksanakan di hari libur dan cafe itu menjadi tempatnya. Namun, serangan jantung yang memang di idapnya tiba-tiba kumat.
"UUGHH, Ya Allah. Sakit sekali bagaimana ini," rintihnya sumbang sembari terus mencengkram dadanya menahan sakit.
Saat Riza mencoba melihat sekitar dia pun tak sengaja melihat Angga, dia memperhatikan pria tua itu dan sepertinya dia tahu bahwa Angga sedang kesakitan. Dia pun mengernyitkan keningnya dan tanpa berpikir panjang dia mencoba menghampirinya.
Angga terus mencoba berdiri pelan dan pergi dari tempat namun dia tak bisa melawan rasa sakit yang teramat menerpanya. Dia tersungkur dan menjatuhkan gelas bekas dia meeting tadi.
"Ya Allah! Paman nggak papa?"
Suara itu tiba-tiba menghampirinya. Semua orang disana pun melihat mereka. Namun, masih bingung dengan apa yang terjadi.
"DI! YAN! SINII!"
Riza berteriak memanggil sahabatnya. Rian dan Saidi yang awalnya mengacuhkan Riza. Riza terus memangku Angga agar tak terjatuh. Angga pun hanya melihat wajah Riza dengan rasa malu dan sangat bersyukur karena masih ada orang yang membantunya.
"Ma, makasih ya Nak. Ughh!" rintih Angga.
"Paman, paman sakit apa? Ya udah bentar ya paman biar aku bawa paman ke rumah sakit. SAIDII! RIAN! AYO SINI BANTUIN GUA!" ucap Riza menenangkan Angga.
Angga hanya terdiam tak bisa lagi berbicara. Saidi dan Rian pun menghampiri mereka lalu membantu Riza untuk mengangkat Angga keluar, orang-orang disana juga turut membantu mereka untuk mengangkat Angga keluar dengan tertatih-tatih. Mereka memanggil taksi dan membawa Angga ke rumah sakit terdekat.
Akhirnya setelah susah payah, mereka berhasil sampai ke rumah sakit dan Angga berhasil diselamatkan dan dirawat. Betapa senangnya Riza bisa membantu orang lagi hari ini.
"Waduh bro, kesian banget tu bapak-bapak. Untung kita bisa membawa beliau cepat ke sini," kata Saidi sembari menyeka peluh di dahinya berdiri bengong bersama Riza juga Rian.