"Maaf ya dok, saya cuman orang yang nolongin beliau di tempat umum. Jadi saya dan teman-teman saya pulang dulu," izin Riza sopan.
Dokter pun bingung.
"Benarkah? Apakah kamu mengenal keluarga beliau?" tanya Dokter.
Riza, Saidi dan Rian hanya saling pandang bingung.
"Emm enggak Dok," jawab Riza.
Dokter pun mengerti, dia pun mengizinkan saja Riza pulang.
"Baiklah nak, terimakasih infonya. Nanti saat beliau tersadar kami akan galih informasi ke keluarganya dan kami akan mengamankannya," sahut Dokter menjelaskan.
Riza pun senang, setelah itu dia pulang bersama Rian dan Saidi.
.
Tak berapa lama Angga tersadar dari pingsannya. Dia melihat sekeliling dan kaget saat dia sadar bahwa dia sudah berada di rumah sakit dengan keadaan yang sudah lumayan membaik. Suster yang ingin memeriksanya pun tersenyum melihat dirinya.
"Selamat siang Pak, syukurlah Bapak sudah siuman sekarang," sapa Suster itu ramah sembari memeriksakan infus Angga.
"Sa, saya dimana?" tanya Angga terpatah-patah.
"Bapak di rumah sakit Umum Jakarta. Sebentar ya Pak saya panggilkan Dokter dulu,"
Suster itu menjauh lalu tak lama masuk kembali bersama Dokter yang berbicara kepada Riza tadi.
"Selamat siang Pak, saya senang anda siuman dengan lekas," sapa Dokter itu.
Angga hanya melongo sembari merasa-rasa apakah sakitnya sudah benar-benar sembuh atau belum.
"Bagaimana? Apakah sudah mendingan? Serangan jantung anda tiba-tiba menyerang anda, jadi nanti akan kami berikan resep untuk tidak kumat lagi Pak," tanya Dokter itu tersenyum sembari mencatat sesuatu di atas papan ujian.
"Emm, iya. Siapa yang membawa saya ke sini Dok?" jawab Angga lirih.
"Uhh, tadi ada seorang remaja laki-laki. Dia bersama dua orang temannya. Katanya... Dia yang membawa Bapak ke sini menolong Bapak," ucap Dokter.
Angga pun teringat dengan pemuda yang terakhir kali membantunya juga saat ingin pingsan di cafe. Dia sangat merasa berhutang budi kepada Riza.
"Ahh, iya Dok. Saya ingat sekarang, Dok apa dia masih ada di sini?" tanya Angga berharap.
Dokter pun terdiam.
"Maaf Pak, dia sudah pulang bersama teman-temannya. Katanya dia memang tidak mengenali Bapak dan hanya berniat membantu saja," jawab Dokter itu berat.
Angga sangat menyesal dan sedih tak sempat berterimakasih kepada pemuda baik hati itu. Dia mencoba menenangkan pikirannya dulu agar kembali pulih sempurna lagi. Dia menerima semua saran dari Dokter.
"Baik Pak, Bapak harus istirahat saja dulu dan biarkan obat tadi bekerja dengan baik. Nanti sekitar jam 3 sore lewat, Bapak boleh pulang dan mengabari dulu keluarga Bapak," ucap Dokter itu.
Angga pun mengangguk dan mengiakannya.
"Baik Dok, terimakasih. Nanti akan saya urus administrasinya," sahut Angga.
Dokter itu hanya tersenyum lalu pergi, Suster itu menyerahkan handphone serta dompet dan kunci mobil yang berada di saku celana Angga tadi dengan sopan. Angga pun langsung berniat menghubungi kponakan kesayangannya.
"Aku harus menghubungi Mounara sekarang, karena aku harus pulang dan mengambil mobilku yang masih berada di cafe sana terlalu lama. Ya Allah," gumamnya lirih mengusap dahinya.
***
Candra dan Mounara terlihat sangat dekat dan romantis sekarang, raut wajah Candra terlihat sangat bahagia. Dia terus mencoba menggenggam tangan Mounara sembari berjalan-jalan menikmati pemandangan taman itu. Mounara menatap ke tangannya kaget, ia sebenarnya agak risih dan tak ingin terlalu begini dengan Candra.
"Dra lu ngapain?" tanya Mounara sembari ingin melepaskan genggaman Candra.
"Mounara, gua cuman mau pegang lu kok. Apa nggak boleh," jawab Candra manja.
Mounara semakin kesal dibuatnya. Namun, ia hanya pasrah dan membiarkan Candra menggenggam erat tangannya. Candra tersipu malu dan curi-curi pandang kepada Mounara meski Mounara tak memperhatikannya.
"Dra, kita duduk dulu ya. Gw capek banget nih," ajak Mounara.
"Ohh boleh, ayo kita duduk di sana?" sahut Candra.
"Iya terserah, di sana bagus juga kok pemandangannya. Kursinya juga enak keliatannya," ucap Mounara.
Candra pun mengangguk dan mereka pun berjalan ke sana lalu duduk bersantai sembari menikmati taman.
Sebenarnya Mounara hanya ingin melepaskan genggamannya dari Candra maka dari itu ia beralasan untuk ingin duduk dahulu beristirahat. Mounara tersenyum puas berhasil membuat rencananya lalu minum minuman boba yang ia beli bersama Candra tadi.
"Oh iya Moun, aku tadi beli makan juga nih buat kita ngemil di sini atau di mobil, kita makan ya,"
Mounara melotot kaget, ia tak percaya bahwa Candra membeli itu tadi.
"Lho? Elo beli itu juga tadi?" tanyanya heran.
Candra pun hanya tersenyum.
"Hee iyaa cantik," jawabnya sembari mencubit pipi Mounara lembut.
Mounara langsung menepis itu.
"Ih apaan sih lo," sahutnya datar.
Candra menyodorkan ayam katsu yang sudah dipotong-potong kecil itu ke Mounara.
"Makasihh Candraa, gw sudah kenyang makan sama lu tadi juga kok," tolak Mounara mendengus pelan sembari mengedipkan mata datar.
"Ya udah, nggak papa. Syukurlah kalau lo kenyang,"
"Moun," ucap Candra memanggil lembut.
Mounara pun menatapnya heran.
***
Tak jauh dari tempat Mounara dan Candra berada. Ternyata tak disangka Riza bersama Saidi dan Rian setelah dari rumah sakit tadi mereka malah melanjutkan jalan-jalan mereka ke taman itu. Terlihat Riza bersama Saidi dan juga Rian bercanda ria berkeliling sembari menikmati minuman kopi yang mereka beli.
"Wihh broo ada cimol goreng pedes tu, beli yokk!" seru Saidi menunjuk ke gerobak yang lumayan besar menjual cimol.
"Waah ayo ayoo enak itu!" sahut Riza. Mereka akhirnya membelinya dengan gembira.
Mereka makan di sana sembari berbincang-bincang dan bercanda ria.
"Eh guys kita makan di sana aja yuk?" ajak Riza menunjuk ke arah Mounara dan Candra berada.
"Dimana?" tanya Saidi celangak-celunguk melihat di mana tempat yang ditunjuk Riza.
"Di sana, kayaknya bagus deh pemandangannya yok," ajaknya membujuk Rian dan Saidi.
Dia berdiri dan ingin berjalan ke arah Mounara dan Candra berada tadi.
"Ehhh!" seru Rian mencegatnya.
"Kenapa lu halangin gue?" tanya Riza kesal.
"Lu mau nonton drama roman di sana?" tanya Rian dengan wajah yang kesal.
"Hah?" tanya Riza heran sembari mengerutkan kening.
"Di sana itu tempatnya orang-orang bucin, sedangkan kita nggak bawa pacar masing-masing. Lu mau nontonin mereka-mereka disana yang lagi pacaran?" ucap Rian menjelaskan.
Riza ternganga tak percaya karena dia memang tidak tau tempat itu di sana kebanyakan orang yang sedang berpacaran.
"Hahaha, kayaknya Riza pengen nontonin biar panas sendiri," ledek Saidi.
Riza akhirnya mengurungkan niatnya itu dan merasa sangat malu kepada Saidi dan Rian.
***
Mounara masih terkejut, ia seakan masih kaget Candra bermanja dengan dirinya. Candra menggenggam tangannya dan menaruh tangan Mounara di pipinya.
"Candra elu kenapa sih?!" risih Mounara.
"Moun, cuman elo yang baik sama gw di dunia ini. Mamah gw sekarang udah nggak perhatian lagi sama gw semenjak Papah gw meninggal. Dia selalu bersama Om Farid, dan gw sayang banget juga sama lu," ucap Candra menatap Mounara lembut.
Mounara melotot mengerutkan keningnya heran terus memandangi Candra.
Candra terus menciumi tangan Mounara, dia memang terlihat sangat manja. Mounara hanya melototinya, ia ingin marah. Namun, di sisi lain ia tak ingin menyinggung Candra yang memang sudah ia kenal lama. Candra juga memang baik dan perhatian kepadanya. Ia pun membiarkan saja Candra seperti itu.
Mounara terus memikirkan cara untuk menghentikan Candra bermanja kepadanya seperti itu. Candra semakin mendekatinya, menyandarkan kepalanya di bahu Mounara dan menarik tangan Mounara agar tetap mengelus-elus wajahnya.
"Em Candra,"
Mounara menyingkirkan bahunya dari kepala Candra.
"Ma, maaf Dra, bukannya gw nggak mau nyanderin elu. Tapi gw malu banyak orang," jelas Mounara mendekatkan wajahnya sembari membelalakkan mata bulatnya.
Candra membalas tatapannya manja, dia pun menggangguk pasrah dan sedih sembari terus menggenggam tangan Mounara.
"Oke, lu nggak papa pegang tangan gw, tapi jangan kayak tadi lagi ya?" kata Mounara menatapnya dekat.
Candra senang ia mengiakannya dengan gembira. Mounara hanya melotot panik dalam hati dan harus bagaimana lagi. Namun, tiba-tiba dering telponnya berbunyi. Mounara sangat senang ada yang menelponnya di saat ia sedang begini. Ia bisa beralasan dengan mudah melepaskan genggaman Candra untuk mengangkat telpon itu.
"Emm hee Dra maaf ya bentar aku angkat dulu," ujarnya nyengir melepaskan tangan Candra mengambil handphone nya lalu mengangkat telpon itu.
"Iya halo," sapa Mounara.
.
"Halo Mounara, tolong nak jemput Om Angga ke rumah sakit umum Jakarta, Om tadi sempat pingsan saat pertemuan di cafe Soerabaja, dan..."
"APA?! OM DI RUMAH SAKIT?? Oke oke Om Mounara langsung ke sana ya," pungkas Mounara kaget saat mendengar Angga memberitahunya.
"Ada apa Moun?" tanya Candra heran.
"Dra gua harus balik sekarang. Om Angga masuk rumah sakit serangan jantungnya kumat?!" jawab Mounara panik sembari berdiri.
Candra ikut kaget mendengarnya.
"A, apa?! Ya udah, gua anter ya Moun," sahut Candra cepat dan mengikuti Mounara.
Mounara mengiakannya karena ia tak ingin memperlambat waktu. Mereka pun bergegas pergi rumah sakit.
.
Tak berapa lama Mounara dan Candra sudah sampai ke rumah sakit.
"Dok?! Dimana Om saya?!" tanya Mounara panik.
Dokter pun kebingungan dan tak tahu siapa.
"Ma,maaf nama Om nya Mba siapa?" tanya Dokter heran.
Mounara hanya terdiam malu karena ia lupa bahwa di rumah sakit itu memang bukan hanya Om nya saja yang di rawat. Mounara memang wanita yang ceroboh.
"Na, nama beliau Angga Permana," jawab Mounara gagap.
"Baik Mba, silahkan ikuti saya,"
Mereka mengikuti Dokter spesialis jantung itu dan akhirnya bertemu juga dengan Angga. Betapa senangnya hati Angga saat melihat keponakannya itu datang. Mounara langsung memeluknya erat dan merasa lega.
"OM?! OM ENGGAK PAPA?" tanya Mounara cemas berkaca-kaca.
Angga tersenyum simpul kepadanya sembari memegang bahu nya lembut.
"Iyaa Mounara, alhamdulilah Om baik sekarang," jawab Angga mengelus rambut Mounara.
"Om, om kenapa sampai bisa ke sini? Siapa yang bawa Om?" tanya Mounara terpatah-patah.
Angga jadi bingung dan teringat dengan pemuda yang menolongnya itu. Dia mengerutkan dahinya mengingat wajah Riza.
"Uhmmm, seorang remaja nak. Dia juga kebetulan sedang berada di cafe itu. Saat Om merasakan sakit yang luar biasa dan terjatuh di kursi, dialah yang menangkap Om dan kata Dokter dia juga yang membawa Om ke sini mengajak teman-temannya," jawab Angga terus mencoba mengingat semua itu.
Mounara membelalakkan matanya. Ia sangat bersyukur bahwa Om nya bisa selamat dan di bantu oleh seseorang.
"Alhamdulillah syukurlah, siapa dia Om?" sahut Mounara tersenyum lebar lalu mengerutkan keningnya.
Angga sedih saat Mounara bertanya itu.
"Ahh itu yang Om belum sempat tahu Moun, saat Om sudah siuman. Dia sudah pergi kata Dokter, Dokter juga tidak menanyakan namanya siapa," jawab Angga sedih.
Mounara pun penasaran dibuatnya. Candra hanya mengangkat alisnya sebelah terus mendengarkan mereka.
"Laki-laki?" tanya Mounara.
Angga mengangguk.
"Masih remaja?"
Angga mengangguk lagi.
Mounara terus memikirkan hal itu.
"Udahlah Moun, kita juga bakalan nggak tau siapa dia. Karena remaja di sini bukan dia aja," sahut Candra lirih.
Mounara menatapnya tanda membenarkan perkataan Candra.
"Ahh iya benar, andai saja Om tahu siapa dia. Om benar-benar ingin berterimakasih sekali kepadanya. Karena kalau tidak ada dia Om bisa sudah tiada," ucap Angga menyesal
"Om, Om nggak boleh bilang begitu. Iya Om masih selamat karena Om masih diberi umur yang panjang oleh yang di atas, dan... Mounara pasti akan mencoba mencari pemuda itu Om," jawab Mounara menatap Om nya lembut.
Angga pun tersenyum kepada nya.
"Haha, yakin nak kamu mau cari pemuda itu?" tanya Om Angga menyeringai.
Candra sedikit heran dengan niat Mounara. Namun, dia mencoba untuk terus mendukung apa yang di inginkan Om Angga karena niat Om Angga memang baik.
"Iya Om, saya juga akan mendoakan saja semoga Mounara dan Om bisa ketemu lagi sama dia," kata Candra mendukung.
Angga dan Mounara pun semakin terobsesi untuk mencari pemuda baik hati itu.
"Iya Dra, Om merasa sangat berhutang budi padanya. Padahal dia sudah susah-susah membawa Om ke sini dan mencarikan mobil atau taksi mungkin untuk membawa Om," ujar Angga membayangkan Riza saat membawanya seperti apa.
"Iya, aku juga merasa kasihan dan repot dengannya. Aku juga mau berterimakasih Om karena sudah menolong Om ku dengan tulus ke sini," sahut Mounara.
"Ya sudah, kita berdoa saja semoga saja dipertemukan kembali lagi dengannya ya," kata Angga.
"Iya Om, oh ya Om. Biar saya ambilin dulu mobil Om di mana," saran Candra membujuk Angga.
Mounara menatapnya. Candra membalas tatapan Mounara.
"Makasih ya Dra," ucap Mounara.
Mounara tersenyum kepadanya. Candra tersipu malu.
"Iya nak Candra, jika tidak ada kamu. Bagaimana juga kami sekarang," sambung Angga tersenyum padanya.
"Iyaa Moun, Om nggak papa kok. Itu emang tugas Candra buat bantuin kalian," jawab Candra membalas senyuman Angga.
"Sekali lagi, makasih ya Dra. Gua jadi ngga enak nih," ujar Mounara sekali lagi merasa dirinya bersalah karena tadi merasa kesal kepada Candra
"Enggak papa Moun, napa sih," jawab Candra tertawa.
Mereka langsung pergi dan mengambil mobil Angga yang masih terparkir di parkiran cafe itu. Mounara merasa tak enak kepada Candra, tapi ia hanya diam.