Bab 20

2074 Kata
"Kamu ke mana kemarin? Saya, Ibu Hertanti, juga Candra mencari ke mana-mana, tapi kamu nggak ada di pesta. Kamu pulang duluan?" Karu di kursi kerjanya menatap Riza tajam. Riza lumayan gelisah dan cemas, dia takut kalau mereka marah dengan dirinya, dia berpikir keras untuk membuat alasan. "Ma-maaf, Bu. Sa-saya minta maaf." Riza tergagap saking gugupnya. "Saya kemarin langsung pulang karena tiba-tiba sakit perut. Jadi, saya enggak sempat ... buat bilang ke kalian." Riza gemetar saat mengatakan itu. Karu mengalihkan pandangannya ke bawah, membuat Riza semakin gugup dibuatnya. "Ibu marah, ya, sama saya?" tanya Riza. "Sekali lagi saya minta maaf, ya, Bu. Nggak papa Bu kalau Ibu mau hukum saya," sambungnya sedih. Karu malah tersenyum. Riza tak menyangka dengan semua itu. Dia sangat bersyukur ternyata Karu tidak marah padanya. "Nggak papa," sahut Karu. "Saya cuman heran cari-cari kamu, tapi nggak ketemu." Karu menatap Riza lembut sembari mengangkat sebelah alisnya. Riza merasa tak nyaman dengan Karu, tapi di sisi lain dia merasa senang karena Karu tak marah padanya. "Maaf, ya Bu, saya langsung pulang gitu aja. Lagi pula saya juga nggak mau ganggu Ibu lagi ketemu sama teman-teman dan rekan kerja Ibu di pesta kemarin," ucap Riza tanpa menyembunyikan rasa bersalah dalam nada ucapannya. Karu mencibir maklum lantas mengangguk. "Iya, nggak papa. Kamu ada benarnya juga, kok," sahut Karu. Riza tersenyum, mengembuskan napas dari mulutnya pelan. Lega. "Oke karena kamu sekarang sudah resmi jadi asisten pribadi saya, kamu bisa bantu saya selesaikan kroscek berkas ini?" tanya Karu meminta. "Kamu periksa aja, ya, kalau semua sesuai dengan apa yang di laptop ini, kamu lanjutin yang lain. Kalau ada yang beda, kamu bisa bilang ke saya!" perintah Karu sembari menyerahkan sebuah berkas pada Riza. Riza dengan lapang d**a menerima itu meski dia dari kemarin merasa tak pantas bekerja kantoran seperti ini karena dia masih belum lulus, dan belum memiliki pengalaman sama sekali, tetapi Karu memercayainya. "Iya siap Bu!" jawab Riza mengangguk sopan. Karu tersenyum simpul menatapnya. Mereka pun menyelesaikan pekerjaan. Karu terlihat bersemangat bekerja sekarang karena sudah ada mood booster yang menemaninya, meski Riza masih tak menyadari itu. *** "APA?? MA-MAMA MASUK RUMAH SAKIT???" Shella berteriak pada orang yang meneleponnya, kaget. Dia sedang bertelepon dengan kakaknya. "Ya, Allah, Shella harus apa, dong? Ka, Shella nggak bisa balik ke Kalimantan sekarang, Kak." Shella terisak. "Iya, Shel, kata Dokter Mama harus di operasi sekarang karena kalau tidak tumor di otak Mama semakin menyebar dan meningkatkan stadiumnya, Shel." Suara dari telepon itu samar-samar terdengar. Ternyata Mamanya Shella sedang di rawat di rumah sakit sekarang. Pantas saja Shella sangat kaget nyaris syok. "Shel, kami bingung di sini. Uang buat bayar operasi Mama buat lusa nggak cukup. Kata dokter operasinya berkisar sekitar 45 juta, Shel, kami bingung. Kami sudah berusaha ke sana kemari dan bekerja, tapi kami hanya masih dapat 10 jutaan. Kami nggak tau harus nyari ke mana lagi." Suara laki-laki dari telpon itu juga terdengar terisak. Shella hanya menangis menutup mulutnya agar tak terdengar oleh semua orang yang ada di sekitar. Keluarga mereka hanyalah keluarga yang sederhana. Mama Shella seorang buruh cuci pakaian orang yang menyuruhnya dan menjadi baby sitter biasa untuk menjaga anak dari keluarga ataupun orang yang memerlukan bantuannya. Itulah yang membuatnya kadang memikirkan kehidupan keluarganya yang banyak harus ditanggung dan membuatnya mengidap tumor ganas di otaknya baru-baru ini. Maka dari itu Riza dan Shella ingin berusaha mengubah takdir keluarga mereka dengan merantau, dan benar-benar menempuh pendidikan di Jakarta dengan jerih payah mereka sendiri. Shella bingung dan terus terisak. Punggungnya menyandar di dinding kostnya. "Iya, Kak, maafin Shella. Shella nggak bisa ada di samping Mama sama kalian sekarang. Shella sedih, Kak," ucap Shella sesenggukan. Shella mengusap air mata menggunakan punggung tangan, berbicara lagi kepada kakaknya yang jauh di sana. "Kak, Shella juga akan berusaha buat bantu Mama. Shella akan kasih kabar sama kakak, kakak juga harus ngasih kabar sama Shella tentang keadaan Mama. Shella khawatir banget, Kak. Shella nggak mau kehilangan Mama kayak Shella kehilangan Ayah tiri kesayangan Shella dan Ayah kandung Shella lagi, Kak." Shella makin terisak. Air matanya semakin tumpah tanpa dapat ditahan lagi. Shella tak dapat berkata-kata lagi, ia hanya mendengarkan apa yang Kakaknya bicarakan sampai hubungan telepon berakhir. Ia masih menangis dan kebingungan harus bagaimana. Uangnya hanya cukup untuk sehari-hari serta bayar biaya kostnya. "Aku harus bagaimana, ya, Allah?" Shella bersandar di dinding kamar kostnya lemas. Tangannya terangkat memijit pelipis yang mulai berdenyut. "Riza nggak boleh tau dengan masalah ini." Shella menggeleng. "Dia pasti juga akan panik kalo tau apa yang terjadi sama Mama. Aku nggak mau dia ikut-ikutan mikirin masalah ini." Shella bermonolog disela isaknya. Ia masih tak bisa membendung air matanya. Ia terus menangis, bingung memikirkan bagaimana caranya mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu yang singkat "Ahh, aku nggak boleh begini aja! Apa aku keluar dulu, ya? Siapa tau ada sesuatu yang bisa membuat ku tenang dulu buat cari uang untuk Mama," ucapnya parau sembari mengusap air mata yang memenuhi wajah cantiknya. Shella mencoba keluar dari kostnya dan berjalan entah ke mana, tanpa arah dan tujuan. Dia linglung dan bengong, seakan seperti orang yang tak berakal, melongo terus berjalan. Memang ini ujian yang sangat berat sedang menimpanya sehingga ia menjadi begitu. Ia melihat sekitar lalu terduduk lemas di pinggir jalan tak bertenaga. Dia menangis lagi karena kebingungan. *** Berjam-jam telah berlalu cepat. Riza berkonsentrasi keras hari ini, baru pertama kalinya Karu memberikan tugas kantoran untuknya. Karena Karu memang menginginkannya agar dia nyaman dan supaya Riza tersadar bahwa dirinya menyukai Riza dari perasaan juga kinerja Riza. Tak menyangka Riza menyelesaikannya dengan baik, Karu juga tidak percaya dengan hal ini. Riza ternyata memiliki kinerja serta pemahaman yang baik untuknya. Ia sangat puas dengan kerja Riza hari ini sekaligus bangga. "Ternyata kamu bisa juga ya ngurus berkas," puji Karu tak percaya. Riza hanya tersenyum malu, dia merapikan semua berkas yang berserakan dan memeriksa laptop yang diserahkan Karu untuk bekerja di sana. "Ehee Alhamdulillah saya mengerti saja kok Bu sedikit, kan Ibu juga memberikan arahannya," jawabnya malu. Karu hanya tersenyum senang melihat nya, ia semakin mengagumi Riza. Riza terlihat sudah letih dan pusing, sepertinya kepalanya sudah nyut-nyutan. "Okee, kerja hari ini sudah selesai kok. Kamu boleh pulang," ujar Karu. Riza langsung memeriksa jam dinding dan seakan tak percaya ini sudah sore. "Ya ampun, udah sore?" tanya Riza kaget. "Iya, kamu memang memeriksa berkas saya lumayan banyak. Jadi wajar baru selesai. Terimakasih ya Riza, untuk hari ini sudah mau membantu saya." Karu menatapnya lembut. Riza menjadi salah tingkah dibuat nya karena di puji Karu hari ini. Dia pun membalas Karu dengan senyuman sopan. "Oh ya, kamu pulang pakai apa hari ini?" tanya Karu Riza kaget tak menyangka bahwa Karu seakan tau dia hari ini hanya naik angkot untuk kerja karena Shella berniat meminjam motornya. Riza pun tak ingin bilang jujur kepad Karu agar tak merepotkan Karu untuk mengantarnya. "Emm saya pakai motor kok Bu seperti biasa, memangnya kenapa ya Bu?" jawab Riza polos. "Uhmm..." "Perasaan aku lihat tadi kok Riza kayak jalan kaki ya arah kantor? Padahal aku ingin mengajaknya pulang bareng sama aku. Ah apa dia markir motornya di depan sana ya jadi aku nggak liat?" gumam Karu dalam hati heran. "Ibu?" "Um? ohh, iya Riza enggak papa kok. Baik silahkan aja kalau mau pulang," jawab Karu cengengesan. Riza hanya heran dengannya lalu izin pulang dan berbalik pergi meninggalkan tempat itu. Karu terlihat malu karena baginya perkiraannya salah. Riza berjalan cepat meninggalkan kantor agar tak kelihatan Karu. Dia terus memperhatikan ke belakang kalau-kalau Karu melihatnya lalu setelah sampai di pinggir jalan raya, dia menunggu angkot dan tak lama angkot pun datang lalu dia pun masuk. Dia keluar angkot hanya di depan jalan menuju kostnya karena memang angkot itu tak memiliki jalur ke sana dan dia harus naik angkot lagi untuk masuk. Dia pun mencoba berjalan sembari menunggu angkutan kalau-kalau ada yang lewat, dia kelihatan linglung dan lesu karena masih merasa pusing saat memeriksakan berkas Karu tadi dan... "TEETTT!!!" "BRUKKK!" Riza Berteriak kaget bukan kepalang tiba-tiba klakson berbunyi nyaring dari sebuah vespa matic grey delicato dan motor itu nyaris menabraknya lalu oleng tertabrak trotoar karena menghindar. Riza ternganga melotot memandangi orang itu. "YA, AMPUN!!" "KAMU? KAMU NGGAK PAPA? KAMU CEWEK, 'KAN?" Orang itu berbalik ke arah Riza, betapa terkejutnya Riza saat tau bahwa orang itu adalah orang yang melatih dance di kampusnya, juga orang yang pernah tak sengaja dipeluknya saat pesta. Mounara membetulkan helmnya yang menutupi sampai matanya karena bekas oleng tadi tanpa ia sadari sebuah dompet agak besar yang ia taroh di jok depan motornya terpental lumayan jauh. "Awww," jerit Mounara. "HEH! LO JALAN NGGAK LIHAT-LIHAT APA! SAKIT TAU!" ketus Mounara marah sembari mencoba berdiri dan membetulkan bajunya. Riza hanya ternganga panik melihatnya dan bingung harus berbuat apa. "ELO LAGI?!" ucap Mounara tak percaya lagi. "Ma, maafin saya saya benar-benar nggak lihat tadi tante," jawab Riza panik sembari mencoba membantu membangunkan motor Mounara. "EH UDAH! NGGAK USAH SOK BAIK ELO, ELO NGGAK PUNYA MATA KAN! JADI NABRAK GUE," gertak Mounara kesal menghempas tangan Riza dari stang motornya. "Iya maafin saya Tan saya nggak sengaja," sahut Riza merasa bersalah. "Makanya, lain kali jalan pakai mata!" ucap Mounara sembari menaiki motornya. "Ma, maaf Tan. Jalan itu pakai kaki. Bukan pakai mata," pungkas Riza sumbang. Mounara melotot dan seperti merasa malu padanya karena yang dikatakan Riza memang ada benarnya. "Yaa, YA MAKSUD GW JALAN ITU LIHAT-LIHAT PAKAI MATA?!" elak Mounara ngotot. Riza hanya tertawa kecil menanggapinya. "HEH! LO KOK KETAWA?!" Mounara melotot ke arahnya. Riza pun menghentikan tawanya. "Oohh, apa jangan-jangan elu sengaja ya mau nyekat gw?" tuduh Mounara. "Eng, ENGGAK SAYA JUGA NGGAK TAU KALAU INI TANTE?!" pungkas Riza tak terima. Mounara hanya menatap tajam ke arahnya. "YA UDAH, UNTUNG YA GUA NGGAK SAKIT PARAH, JIKA TIDAK GUA TUNTUT LO," ucapnya marah lalu langsung menyalakan motornya dan pergi. Riza hanya melotot dan cemas. Dia masih melihat ke arah Mounara yang sudah jauh pergi. Dia masih gemetaran dan bingung. Dia mengerutkan keningnya kesal dengan sikap Mounara yang agak kasar itu. "Kasar banget tu Tante, tapi kenapa gayanya sangat kayak cewek seumuran aku ya? Aku kira tadi orang yang seumuran aku loh?! Huhhh," gerutu Riza kesal. Namun, saat Riza ingin beranjak dari tempat itu dia melihat sebuah dompet berwarna pink lumayan besar tergeletak di tengah jalan. Tanpa pikir panjang dia langsung mengambil dompet agar tak diambil orang lain yang lewat di sana. "Lho?" Dia langsung membawa dompet itu ke dalam tas karena dia tak ingin ada orang yang curiga padanya. . Saat dia sampai ke rumah, dia pun mengecek dompet itu yang dia duga adalah dompet milik Mounara dan dugaannya itupun benar. "Ya ampun?! Ini dompet punya tante tadi?" ucap Riza memeriksa isi dompet itu yang ada kartu mengartu milik Mounara yang juga ada nama Mounara di sana. Dia juga melihat uang ratusan yang banyak jumlahnya. Dia panik dan gelisah sendiri. "Astagaa kasihan banget itu tante... Mounara Zea? Nama dia Mounara Zea? Bagus banget ya kaya nama anak zaman sekarang," tanyanya panik, tapi saat memeriksa kartu KTP Mounara yang ada di sana, dia tercengang dan melupakan paniknya. Dia juga tak sengaja melihat tanggal lahir Mounara. Betapa kagetnya dia saat tahu umur Mounara sudah 34. "34 tahun? Tapii?! Kenapa gayanya masih kaya 20 tahunan sih?!" tanyanya tak percaya. Dia membereskan semua berkas Mounara takut lalu menaruhnya di dalam tasnya lagi. "Aku taroh di tasku aja dan kubawa setiap hari, biar nanti kalau aku ketemu lagi sama tante itu. Aku kembalikan dompet dia," ucap Riza sembari menutup tasnya. Dia pun membereskan kamarnya lalu pergi mandi. *** "Huhh, ngeselin banget sih. Kenapa gw ketemu ama tu anak mulu dah?!" gerutunya kesal sambil melepas helmnya. Namun, saat ia mencek jok motor dan meraba-rabanya. Ia terdiam, matanya berkedip tanda ada yang kurang dan melotot. Ia lalu meraba-raba lagi kantong jaket dan celananya dan ia tersadar bahwa dompetnya telah hilang dan tak ada. "Haduh, dimana dompet gua tadi?!" tanyanya panik sembari berdiri dari motornya. Ia juga sigap memeriksa semua isi tas ransel mungilnya itu di semua sisi. Ia semakin terdiam dan melotot setelah semua di dalam tas ia periksa namun hasilnya nihil. "HAH?!! DI, DI MANA DOMPET GUA?!" teriaknya panik. Ia hanya membelalakkan matanya panik sambil mengerutkan keningnya lalu mencoba membuka jok motornya namun juga tidak ada. Ia panik bukan kepalang dan teringat saat terjatuh ingin menabrak Riza tadi. "Hahh, apa jangan-jangan dompet gua kejatuh saat keserempet dia tadi?" tanya nya kesal. "Atau itu emang caranya buat nyopet dompet aku?!" tuduhnya panik Ia pun melotot kesal dan membayangkan bahwa Riza mencopet dompetnya dan sengaja menyerempet dirinya tadi. Ia kesal menghempaskan tangannya dan pergi masuk ke dalam rumahnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN