Saat Riza hendak bersiap berangkat kerja, tiba-tiba Shella menyekatnya.
"Ehh Za, hari ini Kakak pinjem motor kamu lagi ya? Sekali inii lagi ya tolong," pinta Shella memohon.
Riza yang tak tega itu pun mengizinkan Kakaknya untuk membawa motornya. Shella sangat bahagia, ia memeluk Riza senang.
"Iyaa Kak, bawa aja kenapa sih," sahut Riza tertawa kecil.
"Iya udah makasih banyak ya De, ini uang buat ongkos angkotnya Kakak ganti," ujar Shella sembari memberikan sedikit uang.
"Ah nggak papa Kak aku ada aja kok, Kakak pakai aja," tolak Riza lembut.
"Hah beneran Za?" tanya Shella. Riza mengangguk.
Dia lalu meninggalkan Kakaknya dan berangkat kerja.
"Makasih ya Za!" teriak Shella senang.
***
Karu memeriksa berkas-berkas Riza yang dulu pernah ia minta untuk masuk kerja dengannya. Ia melihat ijazahnya dari SMP sampai SMK. Ia baru tau bahwa Riza pernah terhenti satu tahun sebelum dia masuk ke SMK, Karu menopang dagunya sampai mendekati bibir.
"Permisi, selamat pagi menjelang siang Bu Karu," sapa Riza masuk dengan sopan.
Karu terkekeh dan menghentikan melihat-lihat berkas Riza. Riza tersadar bahwa yang ada di meja Karu itu adalah berkasnya.
"Oh, iya selamat pagi juga Riza," balas Karu menyapa.
Riza tercengang. "Itu? Berkas saya ya Bu? Ada apa ya Bu sama berkas saya?" tanya Riza menatap Karu ramah.
Karu melihatnya.
"Kamu, pernah menunda masuk SMK satu tahun?" tanya Karu.
Riza merasa malu saat Karu menyakan hal itu.
"Emm iya Bu, karena dulu Ayah saya nggak punya dana buat bayar daftar SMK saya. Tapi tahun depannya beliau dikasih sama teman beliau buat bayar biaya masuk sekolah saya jadi, alhamdulillah saya bisa masuk sekolah lagi Bu," jawab Riza lirih.
Dia mengela nafasnya pelan. Karu mencibir maklum.
"Kita makan dulu yuk keluar," ajak Karu.
Riza melongo dan mengiakan apa kata Karu.
Mereka berjalan keluar dengan santai berbarengan.
"Jadi, kamu dulu pernah berhenti sekolah satu tahun," ujar Karu.
"Iya Bu, saya minta maaf ya Bu. Saya belum sempat cerita soal ini. Sebenarnya, itu tadinya kenapa saya ragu untuk menerima kerjaan jadi asisten."
Karu menghembuskan nafas pelan melirik samping.
"Karena saya takut Ibu malu kalau Ibu mempekerjakan orang yang tidak berkecukupan, belum lulus kuliah, dan belum memiliki pengalaman kerja sama sekali," sambung Riza
Karu menatapnya datar.
"Dan saya juga takutnya kalau orang-orang tau soal ini, mereka akan ngomongin soal ini Bu,"
"Kamu ingat apa kata saya? Kamu bekerja di sini untuk saya, jadi kamu nggak usah peduliin apa kata orang lain," tukas Karu tersenyum tipis.
"Ya udah lupain aja, mendingan sekarang kita makan dulu dan selanjutnya kamu fokus selesaikan pekerjaan kamu," sambung Karu.
"Iya Bu," sahut Riza Mengangguk pelan. Karu tersenyum dan melangkah duluan. Riza pun menyusulnya.
***
Shella bersinggah di pinggir jalan, lalu ia menelpon Sarah.
"Halo Sarah, lu di mana? Gw udah sampai nih di pinggir trotoar," ucapnya kepada orang dalam telpon itu.
"Gw di jalan nih oke bentar ya Shel tunggu," jawab Sarah mematikan telponnya lalu menggas mobilnya lebih kencang lagi.
Tak lama kemudian datanglah Sarah. Ternyata mereka memang sudah janjian maka dari itu Shella memutuskan untuk meminjam motor Riza saja agar enak karena motornya sudah mulai mogok dan belum ia bawa ke bengkel. Mereka duduk di kursi pinggir trotoar itu.
"Nih gw bawain minum buat lu," ucap Sarah membawakan secangkir boba kesukaan sahabatnya itu.
"Ya ampun, makasih banyak ya Sar," jawab Shella senang.
"Aduh Sar, gw bingung. Gw bingung mau ke mana lagi nyari duit, sampai sekarang belum dapat, padahal besoknya Mama gw udah operasi," keluh Shella sedih.
Sarah memang teman yang selalu membantu temannya di saat susah, maka dari itu ia mau menemani Shella bertemu dan membantu untuk mencari solusinya.
"Iyaa Shel, gw paham kok. Tapi gw juga belum bisa bantu elu nih Shel soalnya atm gw di sita Papah gw Shel. Dia membatasi uang jatah gw karena kemarin gw udah habis 75 juta Shel gara-gara ditipu orang. Tapi gw bisa aja sih Shel bantu elu 5 juta nih," jawab Sarah sedih mencoba membantu Shella.
Shella semakin sedih dibuatnya karena ia merasa telah membebani Sarah juga padahal Sarah juga baru ditipu karena ingin membeli ruko kecil untuk usahanya.
Tanpa Shella dan Sarah sadari, tak jauh dari sana ternyata ada mobil Meri terparkir dan tak sengaja Meri mendengar semua yang Shella dan Sarah bicarakan. Ia membuka jendela mobilnya lebih lebar untuk mendengar jelas percakapan mereka.
"Heh, itukan kakaknya Riza berondong tampan miskin kata Om Supri itu. Kenapa, apa aku tak salah dengar tadi bahwa ia sedang memerlukan uang yang banyak buat operasi Ibunya," gumam Meri dalam hati menatap sinis.
"Ahh nggak usah Sar gw paham kok juga sama perasaan lu. Simpan aja uangnya buat lu belanja sama beli bensin mobil lo. Nggak mungkin cukup buat lo Sar,"
"Enggak Shel, gw masih ada kok dan gw nggak penting. Yang penting itu nyawa Mamah lo Shel sedang darurat. Nanti sisanya kita bicara sama Karu siapa tau Karu bisa membantu," pungkas Sarah mencoba agar Shella menerima uang dari nya itu.
Shella terkejut saat mendengar Karu, ia semakin panik.
"Eng-enggak usah Sar gw malu gw kasihan sama Riza jangan bilang ke Karu ya please gw nggak mau Riza makin nggak nyaman sama Karu karena Karu emang udah baik banget sama Riza dan gw nggak mau membebani Karu lagi," tolak Shella memohon.
Meri membelalakkan matanya lalu menyipitkan matanya mendengar semua itu. Ia langsung terpikir memiliki kesempatan itu lagi untuk mendapatkan Riza.
Sarah bingung dan menundukkan pandangannya berpikir. Shella mencoba membuatnya untuk tidak stress juga.
"Sarah, dengan kehadiran lo di sini aja gw udah terhibur Sar, apalagi lu beliin minum ini. Otak gw dingin, makasih banyak ya Sar udah mau bantuin gw nemenin gw curhat dari kemarin," ucap Shella menangis.
Sarah semakin sedih melihatnya, ia pun mencoba mengusap airmata sahabatnya itu.
"Iya Shel, gw akan selalu berusaha membantu lo, lo yang sabar ya. Oke gw akan carikan lagi uang yang lebih buat lo, lo tenang aja. Kalau lu masih nggak mau nerima uang 5 juta ini gw simpenin aja dulu ya, dan gw akan kabarin elu lagi malam," sahut Sarah meyakinkan Shella.
Shella hanya terisak dan sangat terharu dengan ketulusan sahabatnya itu.
"Iya makasih banyak ya Sar lu udah mau bantuin gw, gw nggak tau lagi gimana kalau nggak ada elu," jawab Shella sedikit sesenggukan.
"Oke Shel, gw pamit dulu. Gw akan berusaha buat nyariin uang itu buat lo. Nanti gw kabarin lagi ya sore atau gak malam," ucap Sarah meyakinkan.
Shella hanya mengangguk haru dengan Sarah.
"Sarah, gw nggak mau maksa elo ya. Kalau elo emang nggak dapet nggak papa, yang penting kamu udah bantuin aku banget Sar aku ngga enak," jawab Shella membelai lembut pundak Sarah. Sarah menggenggam tangannya dan menjauhkannya dari pundaknya.
"Enggak, gw ikhlas kok bantuin elo Shel karena elo juga selalu bantu dan ada buat gw," jawab Sarah menggenggam lembut jemari Shella.
Shella tersenyum senang sembari menitikkan airmatanya senang terharu. Sarah pun berdiri dan pamit kepada Shella untuk mencarikan Shella sisa uangnya lagi. Shella menatapnya iba dan terisak. Sarah pun pergi meninggalkan Shella.
Meri yang tersenyum meledek itu langsung mencoba menghampiri Shella. Shella yang awalnya ingin kembali duduk tiba-tiba kaget saat ada seperti orang yang menguntitnya.
Shella berpaling lagi ke arah depan dan ternyata benar ada sebuah mobil hitam mewah seperti ingin memarkir di depannya. Shella ternganga bukan main. Ia melihat mobil itu dengan kagum. Meri membuka kaca mobilnya dan Shella membelalakkan matanya.
Meri lalu turun dari mobilnya. Shella melongo melihat tampilan Meri yang begitu mewah itu.
"A-anda siapa?" tanya Shella grogi sembari mengelap sisa air matanya di pipi.
Meri hanya tertawa kecil padanya. Shella semakin takut.
"Tenang, perkenalkan Nak. Saya Direktur utama PT. Karya Mandiri. Kamu tau itu perusahaan apa? Perusahaan besar di kota ini," sapa Meri parau.
Shella melotot mendengarnya.
"Iya, lalu kenapa Ibu nyamperin saya? Saya salah apa?" sahut Shella heran.
Meri hanya menyeringai.
"Saya tadi tak sengaja mendengar percakapanmu dengan temanmu itu, entah temanmu atau saudaramu. Kamu juga membawa nama Karu manajer Hertanti, saya mengenal mereka karena perusahaan saya sekarang bekerja sama dengan perusahaan mereka," jawab Meri tersenyum sinis.
Shella membelalakkan matanya dan ternganga. "Pantas saja gaya orang ini sangatlah berkelas" gumamnya dalam hati. Shella lalu mencoba menutup mulutnya.
Shella mencoba agar tak panik, ia berpikir ada apa gerangan Meri mendekatinya.
"Kalau kamu butuh uang, kamu bisa ikut saya. Kita cari tempat yang aman buat berbicara," ajak Meri mencoba menjebak Shella.
Shella kaget bukan main, ia menatap Meri sinis.
"Ibu, Ibu mendengar semua percakapan saya?" tanya Shella sinis.
Meri tertawa, ia menatap tajam kearah Shella.
"Saya hanya berniat baik, jadi kamu tidak perlu takut. Kalau kamu memang benar-benar memerlukan uang itu. Saya akan bantu kamu sebisa saya. Maka dari itu ikutlah dengan saya agar bisa berbicara leluasa tidak di tempat umum seperti ini," ucap Meri datar meyakinkan Shella.
Shella semakin tergoda dibuatnya. Meri memang pandai menjebak. Shella yang awalnya ragu tapi teringat dengan Mama juga Sarah yang repot membantunya pun tergoda dengan ajakan Meri, ia pun mau mengikuti Meri.
"Baik Bu, saya akan menuruti permintaan Ibu," jawab Shella.
"Oke silahkan masuk mobil dengan saya,"
"Ma-maaf Bu makasih, saya bawa motor sendiri Bu. Biar saya ngikutin Ibu aja dari belakang,"
"Ohh iyaa baik, nanti akan saya perintahkan supir saya agar tidak terlalu ngebut biar kamu bisa mengikuti," sahut Meri senang.
Mereka beranjak dari tempat itu dan Shella terus mengikuti Meri.
Akhirnya tak berapa lama ia sampai di sebuah rumah besar mewah bertingkat yang memang rumah Meri. Shella tercengang melihat itu. Ia melongo tak menyangka bahwa Meri memang orang yang sangat kaya sampai-sampai ia hampir tersungkur karena kakinya tersandung pot besar tanaman hias Meri.
Ia pun di jamu Meri dengan sangat baik, setelah Shella mulai merasa nyaman. Meri pun mendekatinya dan mencoba memberitahu idenya.
"Saya tau kamu punya adik laki-laki yang tampan bukan?" tanya Meri.
Shella terkejut setengah mati saat Meri bertanya seperti itu.
"Ma-maaf Ibu teh tau dari mana?" celutuk Shella melotot.
Meri menyeringai. Shella tersadar dan teringat dengan Riza saat dia bercerita di culik oleh seorang wanita tua kaya raya waktu dia bekerja.
"Uuh, ternyata Ibu ini orang yang di sebut Riza! Astaga apa bener," gumamnya panik.
Betapa tak menyangkanya Shella bahwa Meri lah orangnya. Ia mencoba agar tetap tenang dan mencoba mengusap-ngusap matanya dan menggeleng-gelengkan kepalanya apakah semua ini mimpi atau tidak.
"Saya pernah melihat adik kamu waktu saya pertemuan dengan Hertanti dan Karu," jawabnya.
Shella membelalakkan matanya. Ia menatap Meri penuh kecemasan, sekali lagi Meri menyeringai.
"Jadi, kalau kamu mau."
Shella semakin mengerucutkan keningnya melotot.
"Menyerahkan adikmu itu ke saya, saya akan beri kamu lebih dari yang kamu perlukan," papar Meri.
Shella membelalakkan matanya. Ia mengalihkan pandangannya dari Meri dan berpikir keras. Ia agak marah dengan Meri tapi di sisi lain, Meri seperti menyelamatkan hidupnya. Meri yang melihatnya hanya tersenyum licik. Ia merasa yakin kalau Shella akan menerima tawarannya itu meski Shella terlihat membelakanginya.
"Ya Allah, mana mungkin aku menjual Riza atuh ke Ibu-Ibu tua klerot ini aduhh," gumamnya panik dalam hati.
"Bagaimana Nak, kalau kamu setuju saya akan langsung memberikan uang yang lebih untuk kamu karena bukan kamu saja yang akan saya jamin, tapi Riza."
Shella kembali membelalakkan matanya mendengar nama adiknya itu ia berbalik.
"Riza akan saya jamin juga kehidupannya," sambungnya meyakinkan.
Shella semakin delima dibuatnya, di sisi lain ia seakan senang karena mendapatkan yang luar biasa untuk Mamanya, di sisi lain ia sedih dan tak tega untuk menjual Riza ke Meri. Namun, ia berpikir saat Meri bilang semua itu. Ia pikir Riza juga akan mendapatkan apapun dengannya sehingga keraguannya semakin luntur dibuat Meri.
Meri terus merayunya dan menyodorkan minuman es jus buah segar itu ke Shella yang membuat Shella semakin melunturkan keraguannya.
"Kamu pikirkan saja, dia itu ikut kamu kan ke sini. Jadi ya wajarlah sekali-kali dia bantuin kamu, kamu manfaatin dia lagian kalau tidak apa gunanya dia bukan," hasut Meri mencoba mengelabui pikiran Shella agar tak ragu.
Shella semakin goyah dibuatnya. Shella meminum jus itu dengan gelabakan. Meri menyentuh pundaknya lembut. Shella menatapinya.
"Bagaimana?" tanya Meri mengangkat kedua alisnya.
Shella menatapnya tajam terdiam sejenak. Tak berapa lama Shella menganggukkan kepalanya. Ia ternyata menyetujui hal itu. Meri seakan terbang melayang tak menyangka. Ia membelalakkan matanya kaget riang bukan kepalang.
"Ba-baiklah Bu. Saya setuju," ucap Shella mantap.
Anak buah Meri yang berdiri siaga di samping Meri menatap sinis ikut suka dengan keputusan Shella karena baginya Shella tak melawan dan membuatnya tak perlu repot-repot untuk menghajarnya kalau menolak.