"Makasih banyak ya Bu Karu untuk hari ini, kalau begitu saya pulang dulu," ucap Riza izin pamit.
Karu hanya tersenyum tipis sembari mengangguk dan mengizinkan Riza pulang. Riza melangkah pergi. Karu memandanginya heran, ia sangat kasihan kepada Riza karena ia sebenarnya tau bahwa Riza akhir-akhir ini hanya naik angkutan umum saat berangkat kerja, padahal ia bersedia menjemput dan mengantar Riza pulang pergi namun Riza terus menolaknya karena Riza tak ingin merepotkannya. Karu mendengus pelan lalu mencibir maklum.
***
"Mounaa, ngapain sih lo mau stop di sini?" Candra heran saat Mounara memerintahkannya untuk berhenti di tempat di mana ia kemarin bertemu dengan Riza.
"Gua kemarin di sini ketemu sama orang yang copet dompet gua itu Dra! Pas sore-sore begini juga!" jelas Mounara sembari celangak-celunguk menengok luar jendela mobil.
"HAH? BENERAN MOUN?!" tanya Candra panik.
Mounara hanya mengangguk mantap.
"Iya Dra, awas aja tuh orang kalau sampai dia nggak gw temuin hari ini. Gua akan cari dia nanti Sabtu saat gue masuk ngajarin dance di kampusnya! Gua maluin dia di kampus!" ancam Mounara kesal melihat kanan kiri luar jendela mobil itu. Tak lama ia keluar dari mobil. Candra pun mengikutinya ke luar.
"Ohh, jadi dia itu anak kuliahan Moun?" tanya Candra.
"Iya, dia itu anak norak tau nggak. Gua yakin pasti dia nyopet gua karena buat bayarin kuliahnya tuh," tuduh Mounara merasa sangat yakin.
Candra hanya ikutan kesal mendengar cerita Mounara itu. Dia pun ikut menuduh orang yang tidak diketahuinya yang sebenarnya itu adalah Riza seperti Mounara.
"Iya Moun bener tuh gw yakin, ya udah elo tunggu aja gw temenin siapa tau dia lewat lagi kan ke sini," jawab Candra ikut kesal.
Saat Mounara mengalihkan pandangannya dari Candra, dia pun melihat Riza tak jauh dari sana. Terlihat Riza ingin menaiki angkot yang berhenti di depannya. Mounara membelalakkan matanya dan ia langsung mencoba mengejar Riza sebelum Riza naik.
"ITU! ITU ORANGNYA DRA! WOY!!" seru Mounara panik sembari menunjuk-nunjuk Riza.
"WOYY!! ELO!! WOYY LO MAU KABUR KEMANA!" teriak Mounara kepada Riza.
Candra hanya mengerutkan keningnya dan mencoba melihat apa yang di tunjuk Mounara tetapi dia masih tak melihat.
Mounara langsung lari mengejar Riza.
"MOUN LU MAU KEMANA!"
Mounara tak memedulikan lagi Candra ia terus berlari mengejar Riza. Riza sekarang sudah memasuki angkot. Candra yang melihat itu sungguh cemas dan gelisah saat Mounara mencoba mengikuti Riza naik walau angkot itu mulai jalan.
"MOUNARA! Aduhh Mounara nekat banget sih untung dia nggak papa sempat aja masuk! Huhh," jerit Candra.
"Semoga aja dia berhasil nemuin tu copet dan nggak di apa-apain sama copetnya," resah Candra khawatir.
"Tapi gue yakin sih tu copet nggak bisa ngapa-ngapain Mounara, soalnya di angkot itu kan juga banyak orangnya heh," gumam Candra merasa yakin.
Mounara terus berjalan masuk sembari menunduk dan akhirnya tepat ia bisa duduk di depan Riza. Riza yang awalnya santai terkejut saat melihat Mounara tiba-tiba ada di depannya dalam angkot itu juga.
Dia membelalakkan matanya kaget setengah mati.
"Hahh, apa? Lu kaget kan gua bisa ngejar lu," celutuk Mounara.
"TA-TANTE? Tante kapan naik angkot ini juga?" tanya Riza tak menyangka terheran-heran.
"Kenapa? Lu pasti tadi mau kabur kan gue panggil-panggil nggak nyahut, sok tuli!" cetus Mounara.
"Ih! Apaan sih tante kok malah nuduh-nuduh saya,"
"Lagian! Dari tadi gue teriak-teriak nggak nengok elu," tukas Mounara melotot.
"Maaf ya Tan, saya benar-benar nggak tau kalau Tante itu tadi manggil saya. Karena orang itu bukan Tante aja di sana," jawab Riza.
Mounara semakin kesal dibuatnya.
"Heh! Nggak usah sok tenang deh lu ya, balikin dompet gue! Elo kan yang ngambil dompet gue kemaren!" tandas Mounara sembari mengeladahkan tangannya ke Riza.
"Oohh, gw tau. Lu emang sengaja kan ngincar gue karena gue pernah bantu lo waktu di pesta itu kan?" tanya Mounara sinis.
Riza membelalakkan matanya mendengar itu. Dia terkekeh.
"Lo waktu itu kan panik, HOHH?" Mounara memonyongkan mulutnya menarik nafasnya.
Riza hanya menatapnya kesal.
"APA JANGAN-JANGAN ELO WAKTU ITU KETAUAN NYOPET KAN?!" tuduh Mounara menunjuk Riza.
"IH!! ENGGAK! SAYA BUKAN COPET!" protes Riza.
"IYA! LU COPET! DI MANA DOMPET GUA BALIKIN! LU PIKIR GUA DIAM AJA GITU?" geram Mounara.
"TANTE JANGAN NUDUH SAYA SEMBARANGAN YA, SAYA ITU BUKAN COPET!"
"ALAHH, nggak ngaku lagi. Gue tau lu nyopet buat bayar kuliahan elu kan! Ya ampun nyari duit nggak usah gitu juga kali" cemooh Mounara kesal.
penumpang yang dekat dengan mereka tertuju pada Riza, Riza hanya menatap Mounara melotot, dia menatap Mounara mendengus kesal.
"Oh, apa jangan-jangan Bapak lu juga..."
"JANGAN BAWA-BAWA BAPAK SAYA," potong Riza sembari menatap tajam ke arah Mounara.
Mounara tak melanjutkan kata-katanya dan melototi Riza.
Riza pun membuka tasnya dan mengambilkan dompet milik Mounara itu. Betapa tak menyangkanya Mounara melihat itu. Ia terdiam dan seakan terpaku. Riza mengeluarkan dompet itu dan menatap tajam lagi ke arah Mounara kesal.
"INI! DOMPET TANTE! MASIH UTUH, periksa saja kalau Tante nggak percaya," terang Riza menyerahkan dompet itu ke Mounara. Mounara melototinya lalu merebut dompetnya dari tangan Riza. Riza hanya membuang nafasnya menyabarkan dirinya. Mounara langsung mengecek semua isi dompetnya dan ia langsung terdiam kaku karena Riza tak berbohong.
"Gimana? Masih utuh kan?" tanya Riza melotot.
Mounara hanya mengangguk berat.
"Iya," jawabnya sembari melirik Riza malu.
"Justru saya simpankan dompet Tante, kemarin saat Tante jatuh dari motor Tante dompet Tante itu jatuh tergeletak di tengah jalan, syukur saya sempat ambil, jadi saya bawa kemana-mana, agar nanti saat saya ketemu sama Tante saya bisa ngasih dompet ini lagi ke Tante," ucap Riza kecewa.
Mounara tertunduk sembari melirik Riza, ia terlihat malu sendiri sekarang.
"Kiri Pir!" perintah Riza kepada supir. Supir pun menghentikan angkotnya. Riza menatap Mounara lagi dengan rasa kesalnya. Mounara membalasnya kikuk. Riza pun turun, Mounara terus menatapinya.
Riza mencoba untuk melupakan semua tadi, ternyata Mounara mengikutinya. Ia juga ikut turun saat Riza turun. Riza mencoba berjalan pelan ke depan. Mounara masih tak percaya dan sekali lagi ia melihat dompetnya. Ia pun melirik ke arah Riza dengan sedikit rasa bersalah dan menyesal. Riza sepertinya tersadar dengan semua itu. Akhirnya dia juga menengok ke arah belakang yang memang ada Mounara. Kini mereka saling bertatapan sinis. Mounara terlihat merasa bersalah dengannya. Riza memandangnya semu, dia berbalik arah mencoba untuk tidak kesal lagi kepada Mounara lalu pergi melanjutkan jalannya.
.
Mounara kembali menemui Candra di tempat tadi.
"Ya ampun Mouna lu lama banget sih, capek tau nungguin," keluh Candra sembari menyender di mobilnya.
"Sorry Dra lama ya?" tanya Mounara.
"Iya. Tapi nggak papa udah ketemu orangnya?" tanya Candra balik.
"Em iya udah kok," jawab Mounara lirih.
"Gimana? Dompet elo udah di lenyapkannya? Dia bisa kabur?" tanya Candra cemas.
"Enggak kok Dra, masih utuh ternyata nih!" sahut Mounara sembari memperlihatkan dompet dan isinya ke Candra.
Candra membuka matanya lebar sangat senang melihat itu.
"Oh benarkah? Syukurlah Alhamdulillah," ucap Candra tersenyum.
"Iya Dra, ternyata dia itu bukan copet. Dia malah nyimpenin dompet gua saat gua nyerempet dia kemarin," ujar Mounara malu.
Candra mengerutkan keningnya dan membuang nafas maklum.
"Ohh syukurlah kalau gitu kalau dia orang baik,"
Mounara mengangguk dengan perkataan Candra. Mereka pun masuk mobil lalu pulang.
***
"Uangnya sudah saya transfer ya ke rekening kamu, jadi saya hanya menunggu kamu menyerahkan Riza ke saya," kata Meri.
Shella mengingat perkataan itu dalam pikirannya. Ia terlihat lebih tenang sekarang karena ia sudah berhasil mengirim uang itu ke keluarganya dan operasi Mamanya akan dilaksanakan dengan lancar. Shella hanya berpikir bagaimana agar Riza tak mengetahui bahwa Shella ingin menyerahkannya ke Meri. Ia memutar otaknya memikirkan alasan apa untuk bisa membawa Riza ke hadapan Meri nanti.
"Aku nggak mungkin nyuruh dia sekarang saat dia sampai rumah nanti karena pasti dia kecapean karena pulang kerja," ujarnya lirih sembari menopang dagunya duduk di kursi.
Meri sudah beberapa kali menelponnya, ia panik dan mencoba mengangkatnya.
"Halo, iya Bu?" tanya Shella gemetar menyahut telpon dari Meri.
"Gimana? Rizanya sudah datang?" tanya Meri.
Shella berpikir keras untuk menjawabnya agar Meri tak marah.
Riza ternyata sudah berada di depan halaman rumah mereka. Dia berbalik arah dan tersenyum menuju masuk rumah.
"Eee anu, ma-maaf Bu Riza belom dateng. Kayaknya besok deh saya bisa membawanya ke tempat Ibu. Ibu tenang aja ya, kalau dia pulang juga kasihan capek atuh kan habis kerja," jawab Shella terbata gugup setengah mati.
"Oke baiklah tidak apa-apa, saya tunggu besok, kamu harus secepatnya bawa dia ke saya. Karena saya ngga mau kecewa. Karena uang sudah kamu pegang, jadi kalau kamu macam-macam dan tidak menepati janji,"
Shella meneguk air liur dengan gugup.
"Kamu akan menerima akibatnya," ancam Meri lirih sembari menyipitkan matanya.
Shella membuka matanya lebar takut dengan semua yang dibicarakan Meri kepadanya.
"Uh iya Bu pasti atuh saya ngga akan bohongi Ibu," sahut Shella meyakinkan.
Riza berada tepat di belakangnya, dia heran dengan siapa Shella telponan.
"Kakak lagi nelpon siapa?"
Shella langsung kaget setengah mati, handphonenya nyaris terhempas ke lantai. Riza semakin bingung dibuatnya.
"Kakak, kakak kenapa?" tanya Riza panik.
"Huh! Uhmm," pekik Shella kaget. Ia langsung mematikan teleponnya.
"Hehh kamu ini ngagetin Kakak aja, Kakak kira siapa!" ucap Shella berpura-pura.
"Ehehe maaf Kak, iya aku baru pulang juga kok ni," jawab Riza tertawa kecil.
"Ahh ngga papa, ini si Kakak Sarah nelpon barusan katanya malam minggu ngajak nongkrong di cafe ngumpul bareng temen-temen yang laen, jadi kata Kakak bilang belum tau nanti bisa atau enggak," kata Shella mencoba santai sembari melirik Riza.
"Oohh, ya udah Kak. Kalau gitu aku ke kamar dulu ya, capek banget soalnya," jawab Riza.
"Oh iya istirahat aja kamu Za capek," sahut Shella.
Riza tersenyum kepada Kakaknya lalu pergi menuju kamar. Betapa leganya Shella karena Riza tak sempat mendengar percakapan dia tadi dengan Meri.
***
Mounara terus memandangi dompetnya sembari berbaring santai di kasur kamarnya yang indah dan nyaman itu, ia mengingat semua ingatan saat Riza bertemu dengannya. Perkataan Riza pun ia ingat semuanya, ia sedikit merasa malu saat mengingat semua itu.
"Kenapa gue selalu ketemu dia ya? Mana gue nistain mulu lagi," ucapnya mengerutkan keningnya malu sendiri.
"Kasihan juga sih tu orang,"
Seketika ia teringat saat Riza tak sengaja menabraknya saat di pesta. Riza sangat dekat dengannya. Mata Riza menatap matanya sangat indah. Wajahnya juga sangat dekat dengan wajahnya. Mounara menjadi terdiam seketika mengingat semua itu. Ia langsung menggelengkan kepalanya cepat untuk membuang semua ingatan itu.
"Huh! Kenapa gue malah ingat saat nggak sengaja memeluk dia ya?" ucapnya heran.
Ia juga mengingat mereka saling bertatapan saat turun dari angkot tadi.
Mounara heran, ia seakan tersadar Riza adalah anak laki-laki yang memiliki paras yang tampan, tetapi bergaya sederhana saja. Ia juga tau bahwa Riza memang pemuda yang baik, bahkan saat ia menumpahkan minuman ia hanya marah sebentar saja dengan Mounara bahkan tak mau memeras Mounara padahal Mounara sudah menawarkan gantinya.
"Gue belum pernah ketemu sama anak cowok sedewasa dan sebaik dia, gue lihat juga di kampus dia nggak ada anak-anak yang kayak dia dan sejujur dirinya," gumamnya bicara sendiri sembari bangun dari rebahannya.
"Dan cuman dia yang biasa aja ngeliat gue, padahal gue kan cantik," ucapnya pede memuji kepada dirinya sendiri.
"Bikin penasaran gue aja tu anak," ujarnya sembari menepuk bantal yang ia pangku dari tadi.
"Oke, gue akan cari tau tentang dia dari sekarang siapa dia sebenarnya apa dia emang cowok yang baik atau gue cuman mengira aja, gue akan tuntaskan rasa penasaran gue ke dia," ucapnya semangat.
Ia pun merebahkan kembali badannya dan mencoba untuk tidur.
***
Keesokan harinya Shella menunggu Riza pulang dari kuliahnya. Ia berniat untuk menyuruh Riza agar tak masuk kerja dari sekarang, karena Meri sudah menjamin semua untuk kehidupan Riza kedepan karena Riza akan di jadikannya sebagai suami muda simpanannya.
"Gue harus nunggu Riza biar dia ngga berangkat kerja lagi. Jadi gue akan berhasil nyerahin dia ke Ibu Meri malam ini, biar gue aman," ujarnya sembari duduk di kursi halaman dibawah pohon besar depan kost mereka yang teduh.
Tak berapa lama Riza pun datang. Shella melihatnya senang. Ia langsung menghampiri Riza.
"Ehh Riza! Tunggu," sapanya tersenyum sambil menarik tangan Riza.
"Iya kenapa Kak, aku baru pulang nih," tanya Riza heran.
"Oh hehe gini lo Za, Kakak... Mau bawa kamu ke tempat kost kita yang baru," ucapnya cengengesan.
Riza kaget saat mendengar itu.
"Kost baru? Emang Kakak ngga mau lagi tinggal di sini? Di sini enak loh Kak aku udah biasa di sini soalnya udah kayak rumah aku di Banjar Kak," imbuh Riza.
"Eee iya, di sana lebih enak Za soalnya Kak Rahman yang nyuruh kita tinggal di sana, di sana lebih gede ada AC nya wifinya pokoknya di jamin Riza pasti betah," sahut Shella meyakinkannya.
Riza mengerutkan keningnya agak ragu dengan pendapat Shella itu. Namun, dia mencoba agar menerima semua keputusan Kakaknya itu.
"Ya udah deh Kak, nggak papa. Tapi aku lihat dulu ya Kak kost-annya. Jadi kalau menurut aku nyaman. Baru barang-barang aku aku bawa ke sana ikut Kakak," ucap Riza.
Shella menganggukkan kepalanya mantap.
"Iyaa tenang kok, kamu hari ini nggak usah masuk kerja dulu ya? Biar malam kita ke sana dan kamu nggak capek," pinta Shella.
Riza hanya bingung, tapi dia menuruti apa kata Kakaknya itu.
"Iya udah Kak, aku izin dulu sama Bu Karu," sahutnya.
Shella merasa sangat tenang sekarang. Riza pun masuk ke dalam kostnya. Shella tertawa senang saat Riza percaya dengan dirinya. Tetapi di sisi lain sebenarnya Shella terpuruk melakukan itu semua, ia merasa sangat bersalah dan berdosa kepada Riza karena itu ia lakukan karena terpaksa bukan keinginannya sendiri.
"Haduhh maafin Kakak ya Za, sebenarnya Kakak bukan mau bawa kamu ke tempat Kost-an baru, tapi ke tempat Ibu Meri," batinnya dalam hati.