Malam telah tiba, Shella sangat berat hati terpaksa membohongi Riza demi keselamatan Mamanya. Ia membuang nafasnya sembari bolak-balik tak jelas.
Seketika Riza sudah siap dan menghampirinya kembali. Shella kaget dan seakan tak rela dengan semua ini. Namun, ini memang karena pilihannya sendiri.
"Kak aku sudah siap, ayo kita berangkat,"
"Haduh ya Allah, Za maafin Kakak ya, karena hari ini tadi adalah hari terakhir kamu kerja. Semoga aja kamu bisa kabur dari Ibu Meri kalau kamu diberi keselamatan, biar nanti Kakak yang beresinnya semoga saja," resah Shella dalam hati.
"Kak?" Riza sekali lagi memanggilnya. Shella terkekeh.
"Eh hehe oh iya ya udah ayo atuh," jawab Shella tertawa kecil.
.
.
.
Riza merasa sangat heran saat sudah tiba di tempat itu, dia bingung mengapa Kakaknya membawanya ke sini, dia ragu apakah ini memang kost-kostan.
"Kak, masa rumah mewah kayak gini di kost-in?" tanya Riza.
Shella hanya melirik sinis, ia mencoba tetap meyakinkan Riza untuk masuk ke dalam.
"Iya kok Za, bener. Coba kamu masuk ke kamar ya? Ayo kita lihat," sahut Shella sembari menarik tangan Riza untuk tetap mengikutinya.
Riza masuk ke kamar mewah itu dan duduk di kasur empuk dan sangat nyaman di sana. Dia terkagum.
"Enak banget Kak kamarnya," ucapnya bengong.
Shella merasa sangat sedih dalam hatinya tetapi ia memang harus merelakan itu semua karena sudah berjanji kepada Meri.
"Iya, gimana? Kamu di sini dulu ya. Santai aja Kakak mau keluar dulu beli makan buat kita," ucap Shella memberi alasan.
Riza sebenarnya ragu saat Shella ingin keluar meninggalkannya.
"Kakak jangan lama ya?" harap Riza.
Shella mengiakannya. Shella pun keluar dengan perasaan yang sangat berat.
Shella mengunci pintu kamar itu dan menemui Meri di ruang tamu.
"Loh? Kok di kunci sih?" tanyanya heran.
Akhirnya Riza berhasil di kurung oleh Shella. Riza semakin bingung dan heran dibuatnya, Riza mencoba untuk memeriksa ke luar kaca mengapa Kakaknya malah mengunci pintu kamarnya.
"Ini tambahan buat kamu, sekarang tinggalkan saja dia di sini bersama saya," kata Meri menyerahkan amplop coklat berisi uang jutaan di dalamnya. Shella melihat uang itu lalu mencoba mengambilnya karena tergoda.
Riza yang mengintip di balik dinding kaca kamar besar itu kaget bukan main saat melihat Meri beserta anak buahnya sedang bersama Shella.
"ASTAGA! IT-ITUKAN?" Riza tergagu membelalakkan matanya tak percaya.
"Apa bener Riza saya tinggalkan di sini beneran tidak apa-apa?" tanya Shella meyakinkan masih ragu.
Riza panik setengah mati, dia sangat tak percaya ternyata Shella membohonginya.
"KA SHELLA BOHONGIN AKU! KA SHELLA KETERLALUAN!! KA SHELLA MENJUAL AKU DENGAN WANITA TUA KLEROT ITU! YA AMPUNNN! KAKAKK!!!" teriak Riza terkencar-kencar sambil memukul-mukul kaca yang tebal itu.
"Iya, pasti. Kamu tenang saja, Riza pasti akan aman, dia akan saya jadikan suami muda saya," jawab Meri.
Kepala anak buah Meri melirik sinis ke arah Shella. Shella pun menganggukkan kepalanya lalu izin pergi.
Riza hanya membelalakkan matanya melihat Kakak sepupunya itu terlihat ingin meninggalkan tempat itu, dia semakin gelagapan dan takut.
"KAKAK!! KAKAK MAU KEMANA JANGAN TINGGALIN RIZA KAK! KAKAAK!!!" rintihnya nyaring berkaca-kaca sembari menampar kaca itu dengan kuat dan menendang lemari di sana dengan keras.
"Baik Bu, benerkan nggak apa-apa dan aman?" tanya Shella sekali lagi.
"Iya kamu tenang, pergi saja," tepis Meri.
Shella pun pergi meninggalkan tempat itu dengan cepat entah kemana.
"KAK SHELAAA!!" teriaknya sekencang-kencangnya.
Riza tergugu ternganga kelu. Meri bahagia dan tersenyum simpul. Riza yang tak terima dengan semua itu langsung mencoba mencari jalan keluar agar tak diperbudak Meri, tanpa pikir panjang dia mengambil lampu tidur yang ada di sana lalu di pukulkannya ke dinding kaca itu sampai pecah tak beraturan, betapa kagetnya anak buah Meri saat melihat semua kejadian itu, Meri yang tersadar hanya membelalakkan matanya terkejut. Riza akhirnya bisa keluar dia tak peduli dengan serpihan kaca yang bertaburan, dia melangkah maju tanpa ragu.
"WOY JANGAN KABUR KAMU!" ucap wanita berpenampilan sangar yang menjabat sebagai kepala anak buah Meri itu.
Dia mencoba menyergap Riza tapi Riza berhasil menangkisnya dengan tongkat lampu tidur itu. Meri mengundurkan dirinya dan ikut menangkap Riza tetapi Riza berhasil juga menghindarinya. Namun, laki-laki satunya berhasil menonjoknya sampai Riza terpental sedikit, Riza mencoba bangkit lagi lalu memukul mereka dengan tongkat yang dia pegang itu satu persatu, akhirnya mereka jatuh dan Riza berhasil melarikan diri.
Riza terus berlari keluar tanpa perduli apapun lagi, dia mencoba menguatkan dirinya berlari sekencang-kencangnya, dari belakang terlihat anak buah Meri 3 orang mengejar Riza.
Meri sangat marah dan menyuruh bawahannya untuk berpencar mencari Shella dan Riza.
"Biarkan mereka mencari anak itu, kamu fokus cari Kakaknya sebelum dia pergi jauh dari sini CEPAT!" perintah Meri sembari mencoba menahan sakitnya.
"Baik Bos!" jawabnya lantang.
Sedangkan Riza terus berlari kencang menghindari anak buah Meri yang semakin dekat mengejarnya. Dia semakin panik, dia akhirnya tersandung lalu jatuh. Mereka mempercepat larinya dan nyaris Riza berhasil mereka susul. Riza kembali bangkit dan melanjutkan larinya. Tak jauh dari sana terlihat seorang ojek sedang menangkring. Tak pikir panjang Riza langsung menghampirinya dan memerintahkannya untuk cepat-cepat membawanya pergi dari tempat itu.
"PAK! TOLONG PAK CEPAT AYO BAWA SAYA PERGI DARI SINI KEMANA AJA DULU TOLONG JANGAN BANYAK TANYA PAK SEKARANG!" perintah Riza sembari menaiki motor itu.
"Baik Dek," sahutnya mengerti.
Tak jauh anak buah Meri meneriakinya
"WOY!! JANGAN KABUR!"
"Makasih banyak Pak, ayo Pak cepat!"
Anak buah Meri mencoba menggapainya namun Riza dan Paman ojek itu berhasil duluan pergi menancap gasnya, dengan susah payah akhirnya mereka berhasil selamat dari kejaran mereka.
Ternyata Shella sudah sejak kemarin membeli tiket pesawat dan pergi berangkat ke Bandara, ia sampai di sana langsung transit dan pergi dari tempat itu untuk menemui Mamanya di Kalimantan.
"Maafin Kakak ya Za, Kakak tinggal pergi dulu kamu sebentar. Kakak mau nemuin Bibi Jumi yang masih di rawat sesudah operasi," ucapnya sedih merasa sangat bersalah sekali sembari naik ke tangga pesawat.
Meri menjadi pusing sendiri, ia merasa seperti ditipu besar-besaran oleh Shella.
.
Tak berapa lama mereka kembali menemui Meri dan melaporkan bahwa Riza berhasil lolos dan Shella sudah pergi.
"Maaf Bos, mereka... Berhasil kabur Bos," ucap wanita sangar itu gugup.
"TIDAK BERGUNA! SAYA AKAN HUKUM KALIAN!!" murka Meri.
"Kurang ajar! Lihat saja aku akan cari kalian dan menghabisi kalian berdua!" kecam Meri kesal.
***
Riza menginap di kost Saidi sekarang, dia bingung harus bagaimana dan meminta untuk terus ditemani Saidi sekarang karena takut. Dia menceritakan semua itu ke Saidi. Saidi pun menolong dan menerimanya dengan sangat baik karena memang dia adalah sahabat Riza.
"Tenang Za, gue akan selalu nemenin lo kapanpun di mana pun, jadi lo tenang aja ya?" ujar Saidi mencoba menenangkan Riza.
Saidi meminjamkan bajunya untuk Riza masuk kuliah hari ini. Riza sangat berterimakasih kepada Saidi.
"Gue juga bingung Di, gimana ya nanti masuk kerja. Gue nggak enak kemarin izin lagi nggak masuk sama Ibu Karu karena Kakak gue bohongin gue," tanya Riza sedih.
"Udahh, nggak papa kan kamu udah bilang kemaren ngapain nggak enak lagi," tukas Saidi.
Riza mengangguk lesu. Mereka pun berangkat.
Setelah selesai kuliah Saidi menyuruh Riza untuk bergegas mengemasi barangnya agar pindah ke tempat Saidi saja agar lebih aman. Riza mengiyakannya lalu membawa semua baju serta barang-barang berharganya dengan pickup. Saat dia sedang melakukan pindahan Karu tiba-tiba malah menghampirinya. Dia sangat kaget seakan tak percaya.
"Hay Riza," sapa Karu.
Saidi ternganga saat Bos sahabatnya itu datang secara tiba-tiba.
"IBU?! Ibu ngapain ke sini mendadak sekali," tanya Riza kaget.
"Ya karena kamu izin, jadi aku mencek kondisi kamu selama 2 hari tidak masuk," jawab Karu.
Riza gugup dan merasa takut.
"Ma-maaf Bu, saya selalu izin sama Ibu. Ini karena ada masalah pribadi saya Bu sama Kakak saya dari kemarin," sahut Riza merasa bersalah.
"Aku ke sini padahal karena kangen sama kamu Riza," gumam Karu dalam hati.
Karu seketika tersadar di samping kiri bibir Riza terlihat memar karena bekas tonjokan anak buah Meri yang mengenainya malam tadi.
"Bibir kamu kenapa Za?" tanya Karu terlihat kaget.
Riza membelalakkan matanya, dia terdiam dan takut Karu tau semuanya. Saidi ikut gugup dari kejauhan.
"Ohh, in-ini biasa Bu. Kemarin Kakak saya marah sama saya dan dia nggak sengaja mukul saya," sahut Riza terbata dan mencoba rileks.
"Ya ampun, beneran nggak papa?" tanya Karu khawatir sembari memegang bahu Riza. Riza pun mencoba meyakinkannya. Karu akhirnya percaya.
"Iya Bu, nggak sakit lagi kok," ujar Riza tersenyum.
Saidi hanya tersenyum simpul melihat sahabatnya itu sangat di khawatirkan oleh Tante secantik Karu sembari terus menaruh barang-barang ke atas pickup. Riza agak malu dengan semua itu dan merasa tak nyaman dengan Saidi tetapi Saidi malah seakan senang melihatnya.
"Gara-gara saya, Ibu repot ke sini mencek keadaan saya, maafkan saya ya Bu," sambung Riza sedih.
"Iya, nggak papa. Aku tau kok, asal nanti saat masuk kamu mau aja lembur nyelesain pekerjaan kamu yang nggak kamu kerjakan selama 2 hari ini ya?" ucap Karu.
Riza melotot kaget.
"Pfftt," Saidi menahan tawanya.
Karu hanya tersenyum setengah sembari melirik Riza. Riza terhenyak, dia tergugu dan bibirnya kelu.
"Yaa, iya Bu. Siap," jawab Riza terbata.
Saidi menertawakannya. Karu ikut menertawakannya. Riza menjadi malu sekarang, dia tersenyum malu kepada Karu.
"Ibu, Ibu ini bisa aja. Ya udah, Ibu aku beliin minum dulu ya. Bentar," imbuh Riza nyengir kecil.
"Ahh nggak usah, aku sudah minum di kantor," tolak Karu.
Namun Riza tetap pergi dan membelikannya minum juga makanan.
"Haha iya Tan masa Tante datang nggak di kasih jamuan," ucap Saidi tersenyum sumringah sembari mendorong lemari Riza ke dalam pickupnya.
"Haha kalian ini baik sekali, makasih ya," jawab Karu.
"Um kalau boleh tau kostmu di mana? Katanya Riza mau pindah ke kostmu kan sekarang karena ada masalah sama Kakaknya?" tanya Karu.
Saidi terdiam, dia takut kalau Karu tau yang sebenarnya. Saidi menjawabnya dengan gugup.
"Hehe itu Tan, di gang Rajawali. Ya sekitar 6 kilometer lah dari sini. Masuk ke dalam lagi, lebih dekat kampus sih," jelas Saidi.
Karu menganggukkan kepalanya dan mengangkat kedua keningnya.
"Kenapa Kakaknya tega banget ya ninggalin dia sendiri di sini?" tanya Karu dalam hati heran.
Sekitar setengah jam berlalu, Riza datang dan membawakan sebotol besar minuman bersoda serta 2 buah es batu dan sekotak Pizza.
"Ya ampun, kamu beli di mana?" tanya Karu tertawa.
"Udah Ibu nggak usah banyak tanya, makan aja Bu ya, terus minum bentar," jawab Riza sembari ke dalam mengambilkan gelas. Karu hanya menggelengkan kepalanya.
Riza menuangkan minuman itu ke dalam teko air minum plastik yang sudah berisi pecahan es batu lalu menuangkannya ke gelas untuk Karu.
"Terimakasih," ucap Karu tersenyum lucu.
Riza membalas senyumannya dengan kikuk.
"Temen kamu nggak ditawarin?" tanya Karu.
"Enggak, dia udah kok saya beliin tadi. Jadi ini spesial untuk Ibu aja," sahut Riza. Karu hanya mengangkat keningnya merasa lucu.
"Masa?" ledeknya tak percaya.
Riza hanya mendengus pelan lalu memanggil Saidi.
"Dii!" teriaknya.
Saidi pun berlari dan menampakkan dirinya sembari membawa minuman soda juga namun dengan kemasan lebih kecil yang bisa di bawa kemana-mana. Karu tertawa melihatnya.
Riza hanya meliriknya sembari tersenyum setengah.
"Iyaa udah, saya percaya," ucap Karu.
"Iya, jangan lupa di makan juga ya makanannya. Maaf ini aja soalnya saya takutnya kelamaan Ibu nunggu tadi aja lama banget antrinya," ucap Riza malu.
"Riza nggak papa, ini aja udah cukup, makasih ya," sahut Karu tersenyum tipis. Riza tersenyum bahagia mendengar Karu, Karu memandangi senyuman Riza yang manis itu. Ia terlihat terpana dan terdiam sembari tersenyum tipis menikmati itu.
"Oh iya Bu, Ibu nggak papa kan saya tinggal dulu. Soalnya saya mau bantu Saidi angkut barang-barang saya yang tersisa, nggak papa kan?" katanya sembari menepuk dahinya.
Karu tetap melamun memandanginya dan tersenyum tipis.
"Ibu Karu?" tanyanya sekali lagi sembari melambaikan tangannya ke depan wajah Karu.
Karu pun terkekeh dan tersadar, ia malu dan mencoba untuk menutupi itu ke Riza.
"Oh um oke iya nggak papa," sahutnya salah tingkah.
Riza hanya tertawa kecil mendengarnya lalu pergi mengemasi semua barangnya. Karu membalikkan kepalanya mengikuti ke arah Riza pergi dan terus memandanginya dengan lembut.
"Syukurlah Kak Shella memberikan aku sedikit uangnya walau dia membohongi dan menjual aku ke Ibu Meri, dari uang ini aku bisa nyewa pickup ini untuk pindah kost dari sini dan untuk bayar uang kost bantu Saidi agar tante Meri nggak ngejar aku lagi," gumamnya dalam hati merasa bersyukur mengingat malam kemarin.
"Ya Allah, aku memang benar-benar tak percaya Kak Shella tega ngelakuin hal ini sama aku. Pantas saja aku heran mengapa dia ngasih aku uang ini lumayan banyak kemarin, tapi biarlah. Aku bingung sekarang ke mana Kak Shella pergi," paparnya sedih dalam hati.