Bab 9 Sepanjang perjalanan pulang, Rose sempat ngomel-ngomel. Dia memaki Pras beberapa kali sampai akhirnya bibir itu mengatup bersamaan dengan dua mata yang menutup rapat. Kepala dan punggung sudah bersandar dan Rose benar-benar terlelap. “Sial! Bagaimana jika aku telat datang?” decak Pras. Dia memukul bundaran setir cukup keras seperti menyesali sesuatu. Pras melirik sekilas ke samping. Wajah itu bersandar, tapi tertutup beberapa helai rambut yang berantakan. Pras mempercepat laju mobilnya supaya segera sampai di rumah. Ketika hampir sampai, tiba-tiba Rose terbangun. Dia menggeliat lalu melengkuh. Pras yang mendadak panik, akhirnya memutuskan untuk berhenti sejenak di tepi jalan. “Ada apa?” tanya Pras seraya mencondongkan badan ke samping. Dia menyibakkan rambut Rose hingga bagian w

