Pagi hari di apartemen lantai dua puluh, Lios dan Bulan sedang duduk merapat di sofa. Lios menghubungi nomor Marius untuk memberi kabar tentang pertemuan para orangtua. "Tabe, Ema," sapa Lios saat panggilannya dijawab. "Tabe, Anak. Co'o ko reba?" Marius menyapa balik putranya. "Ema, aku sudah atur waktu untuk bertemu orangtua Bulan. Siap-siap e, hari Sabtu kita makan siang bersama." Lios tersenyum. "Bagus sekali, Nana!" seru Helen yang turut mendengarkan. Marius terkekeh, "Iyo, Anak. Kami siap lahir batin." "Paling bawa sedikit buah tangan," ujar Lios. "Tenang saja. Ende-mu bawa banyak kain tenun," sahut Marius. "Baik, Ema. Jumat aku minta Her antar ke Jakarta," kata Lios lagi. "Iyo. Kami menunggu waktu." Lios mengucapkan perpisahan dan mengakhiri percakapan. Wajahnya terlihat se

