Berdiri di depan galery seni miliknya, sedang ponsel Devi terus berdering memekik di telinga. Jemarinya merogoh tas mahal, sembari bibirnya menggerutu sebal. "Apa sih Ma, nelpon terus? aku lagi otw ini," sambutnya kasar. Devi menjadi risih sebab mamanya tidak sabar melihat hasil dari pekerjaannya. "Iya-iya, pokoknya Mama tinggal duduk manis. Sasfa tidak punya celah untuk menghindar. Apapun yang ia putuskan, putrimu yang cantik ini akan tetap masuk ke dalam keluarga Hartawan." Senyumnya menyeringai, imbas dari ancaman dua hari sebelumnya, kini Sasfa mengatur waktu untuk bertemu. Panggilan berakhir, Devi buru-buru menyimpan ponsel ketika kendaraan merah milik Sasfa terlihat semakin dekat. "Ekhem, jadi kita mau bicara dimana? apa ga sebaiknya masuk ke rumahku?" Devi melirik bangunan

