Bujukan Arya tampaknya belum bisa meruntuhkan pendirian Burhan, pria bertubuh tinggi tegap itu tetap bergeming tanpa memberikan respons apapun. Hana yang mendengarnya, menggeleng cepat. “Ayah, aku nggak mau pulang. Aku mau sama Mas Hanan aja.” “Nggak bisa, Nak. Kamu seperti ini karena suamimu. Ayah tidak percaya lagi dengan dia. Jadi, tolong jangan menolak perintah ayah, ya.” Burhan mengusap kepala sang buah hati dengan penuh kasih sayang, lalu menatap sang besan dan memantunya. “Lusa Hana sudah diperbolehkan pulang, maka saya akan membawanya ke rumah.” Burhan berlalu bergitu saja setelah mengatakan itu. Menghiraukan panggilan dari Arya, sahabatnya. Tidak, keputusannya sudah bulat dan tidak bisa diganggu gugat. Hana tidak akan pernah biarkan kembali ke rumah itu. Selama ini, dia men

