Lelaki bermata sipit itu menunduk dengan wajah ditekuk, kedua tangannya menutupi wajah, menghela napas berapa kali. Di kala semua orang tengah menikmati istirahat dan menyusuri alam mimpi, dia justru sedang berusaha meredam emosi yang sejak tadi menguasai diri. Hatinya bak dihantam bogem besar, hancur berserakan. Kepercayaannya hilang, karena ulah Sabna. Dia tidak tahu lagi harus berbuat apa sekarang, semua jalan yang ditempuh, seolah buntu dan enggan dia melewatinya. Suasana yang sepi, membuat Hanan lebih leluasa untuk meluapkan emosi. Mendengkus beberapa kali, menggeram pelan, mendesah, dan luapan-luapan emosi lainnya. “Kenapa semua ini terjadi padaku, kenapa?! Kenapa dosa di masa lalu malah membuat hidupku seperti ini? Tuhaaaannn! Tak bisa kah Kau berikan kedamaian padaku?” tanya

