Sabna menggeleng cepat, berusaha meraih tangan lelaki itu. Namun, Hanan langsung menepisnya dengan kasar. Membuat dia tersentak kembali. “Jangan pernah beranj sentuh saya! Saya sudah tidak percaya lagi dengan kamu, Sab. Saya nggak habis pikir, kenapa kamu bisa berubah seperti ini.” Hanan menggeleng pelan, tampak semburat merah menjalar dibagian mata putihnya, pertanda amarahnya begitu besar. Sabna menangis, terisak, menunduk dalam. Ingin menjelaskan pun, percuma. Hanan benar-benar sudah tidak ingin mendengar penjelasannya lagi. “Gue ngelakuin ini karena gue sayang sama lo, Hanan! Gue cinta sama lo! Tapi apa? Lo malah nikah sama yang lain!” “Heh, apa kamu bilang tadi, sayang?” Hanan terkekeh pelan. “Kalau kamu memang sayang dan cinta, kamu nggak akan pernah pergi begitu saja. Ke mana

