48. Cemburu II “Eh, biar saya saja,” cegah Hanan saat melihat Hana mengambil mangkuk. Dia langsung merebut mangkuk itu dan mengaduk bubur dengan pelan. Hana tercengang, menatap perlakuan suaminya kali ini. Tampak lelaki itu begitu telaten mengaduk bubur sampai kepulan asap menguap, menguar aroma yang langsung menusuk hidung. “A ...,” pinta Hanan agar istrinya itu membuka mulut, sedangkan tangannya memegang sendok berisi bubur. Sekilas Hana menatap heran suaminya, lalu membuka mulut dan membiarkan Hanan menyuapinya. Apa karena ucapan ibu mertuanya tadi, sehingga membuat Hanan langsung menyambar mangkuk? Ah, masa iya Hanan benar-benar enggan kehilangannya. Padahal kan, ibu itu tadi pasti becanda saja. Tidak benar-benar memberikan peringatan. “Aaaa ....” Hanan kembali memasukan satu

