Kenyataan memang tak selamanya berupa kebahagiaan, tetapi juga bisa kesedihan, kesengsaraan.
Hanan menguap, mengerjapkan mata perlahan. Dia melihat sekitar, lembayung senja telah menyapa. Beralih menatap jam yang melingkar di pergelangan tangan, terbelalak.
“Hah! Jam lima lewat lima belas menit?” tanyanya, pada diri sendiri. Tak terasa, tidurnya terlalu lelap sampai tidur selama itu.
Gegas, dia menghidupkan mesin mobil, mulai membelah jalanan setelah berkaca di spion mobil terlebih dahulu. Memastikan tidak ada noda di wajah.
Jalanan tampak lengang, sepertinya semua orang sudah masuk ke dalam rumah masing-masing, istirahat. Namun, sang senja masih saja setia menemani.
Mobil mulai menambah kecepatan lajunya, sengaja, agar dia segera sampai ke apartemen. Tidak ingin membuat gadis itu cemas atau mencarinya. Jangan sampai. Jika tidak, maka dia akan tercyduk telah mabuk.
***
Dengan langkah tertatih-tatih, gadis itu terus saja berjalan ke sana-kemari, menunggu sang suami pulang. Pasalnya, sejak pagi lelaki itu pergi, sampai sore seperti ini belum juga kembali.
Punggungnya masih terasa sakit, tetapi tidak terlalu. Lagipula, terus-terusan tidur membuat badan menjadi lemas dan bosan. Lebih baik, dia menunggu Hanan di ruang utama saja.
Berdiri, duduk di sofa. Berdiri lagi, duduk lagi. Terus melakukan itu sampai beberapa kali. Dengan gelisah, dalam hati berdoa, semoa Tuhan menjaga suaminya.
“Duh, Mas Hanan ... ke mana, sih, kamu?” gumam Hana, dengan raut cemas. Menatap sekitar, apartemen ini ternyata indah jika diteliti. Pantas saja, ayahnya dan Ayah Hanan memesan tempat ini untuk dia dan sang suami.
Dia menghela napas pelan, duduk kembali. Tak ada lagi yang dia lakukan saat ini. Entah ke mana lelaki itu pergi. Membuat dia khawatir saja.
Terdengar suara pintu terbuka saat Hana berniat untuk kembali berdiri. Dia tertegun, melihat penampilan sang suami yang tak rapi lagi. Akhirnya, dia memberanikan diri untuk menghampiri lelaki tersebut. Menatapnya dari atas sampai bawah.
“Kenapa, sih, liatin saya kayak gitu?” tanya Hanan, merasa tidak suka jika diteliti seperti tadi. Apalagi sampai dicurigai.
Hana tersentak, refleks mengibaskan tangan di depan wajah. Aroma itu seperti tidak asing baginya, apa suaminya meminum alkohol?
“Mas Hanan dari mana?” Bukannya menjawab, Hana malah balik bertanya. Walau ada sedikit keraguan, tetapi harus dia lakukan. Bukankah seorang istri juga berhak tahu, apa saja yang dikerjakan suami?
“Dari luar. Kamu tidak pelru tau dan jangan banyak tanya!” Hanan berlalu dari hadapan Hana, segera gadis itu membuntuti sang suami dari belakang.
“Mas ... jawab dulu, Mas! Mas minum alkohol?!” Pertanyaan Hana bagai angin lalu, tak digubris sama sekali oleh Hanan. Lelaki itu masih setia melangkah lebar.
“Mas ... jawab aku,” pinta Hana, rautnya memelas. Memperhatikan Hanan yang tengah mencari pakaian di lemari.
“Mas!” Nada panggilan kali ini sengaja Hana keraskan agar Hanan mau mendengarkannya. Jangankan mendengar, melirik saja tidak.
Lelaki berkemeja biru muda itu masih tetap fokus mencari baju, gegas melangkah kembali setelah mendapatkannya. Tak ada niat sedikit pun untuk menjawab pertanyaan Hana.
“Mas! Jawab dulu pertanyaanku! Mas minum alkohol?” Hana tak menyerah, dia tetap mengejar Hanan walau punggungnya terasa semakin sakit sampai ke pingang.
“M-masss ... aww!” Hana kehilangan keseimbangan, tubuhnya terjerembap ke lantai saat berusaha menjangkau posisi sang suami.
Mendengar jeritan, sontak Hanan berbalik badan. Dia terkejut melihat Hana sudah berbaring di lanta. Gegas, melempar baju ke sembarang tempat. Menghampiri sang istri, meraih tubuhnya.
“Han!” pekiknya kemudian membopong tubuh Hana yang ringkih, membaringkannya di atas kasur.
“Aww ...,” lirih Hana, saat punggungnya menyentuh kasur. Terasa berdenyut sekali luka itu. Menusuk sampai ke tulang belakang.
“Makannya, hati-hati. Jangan lari-larian dulu. Udah tau lagi sakit, masih aja ngeyel.” Hanan memasang wajah datar, melangkah, meninggalkan Hana yang sudah menatapnya dengan raut sendu.
“Mas ...,” cegah Hana, tak ingin menelan pertanyaan itu tanpa jawaban. “Jawab dulu pertanyaanku.”
Hanan berbalik badan, menatap Hana tanpa ekspresi. “Iya,” jawabnya, singkat, lalu masuk ke dalam kamar mandi.
Hana memejamkan mata, mengapa pernyataan itu begitu menyakitkan? Berbagai pertanyaan pun muncul dalam benak. Sejak kapan Hanan meminum alkohol? Dan kenapa dia meminumnya?
Setahu Hana, Hanan bukan tipikal lelaki yang mudah tersulut emosi atau dengan gampangnya berfoya-foya. Tidak, Hana tahu itu. Hanan adalah lelaki pekerja keras. Namun, kenapa dia melakukan itu semua? Pasti ada alasan lain.
Hana menoleh ke samping, meraih benda pipih di atas nakas. Mencari tahu apa penyebab seseorang mengonsumsi alkohol. Di sana tertera beberapa sebab, dengan telaten Hana mulai membacanya, perlahan.
“Seseorang meminum alkohol, karena stress. Membutuhkan penenang pikiran,” gumam Hana, membaca apa yang tertera di layar ponselnya.
Sesaat matanya beralih menatap pintu kamar mandi. Membayangkan Hanan memiliki beban pikiran yang begitu berat sehingga sampai harus mengonsumi alkohol. Namun, apapun itu alasannya, minum alkohol bukanlah jalan yang terbaik.
“Mas Hanan ... aku akan setia di sampingmu, apapun masalahnya.” Hana tersenyum, menatap pintu yang sudah terbuka, menampakkan Hanan dengan kaus oblong hitam tersemat di tubuh kekarnya.
Sementara itu, tangan Hanan setia menggosok rambut, mengeringkannya. Perlahan, telaten. Namun, rautnya seketika berubah dingin tatkala melihat Hana tersenyum ke arahnya.
Dia berjalan dengan santai. Menghiraukan Hana yang sudah memperhatikannya sejak ke luar dari kamar mandi. Kemudian, menggantungkan handuk di belakang daun pintu. Menyisir rambut sembari berkaca di depan meja rias.
“Kenapa kamu terus tersenyum dan memandang saya seperti itu?” Sekali lagi, pertanyaan yang sama meluncur dari mulut Hanan. Dia benar-benar tidak suka jika dipandang seperti itu.
“Tidak ada. Mas ... kemarilah.” Hana menepuk tepi ranjang dengan tangan kanan-nya, berharap lelaki itu mau menuruti kemauannya.
Hanan mendengkus, tetapi tak tega. Akhirnya, meletakkan sisir di atas meja rias, menghampiri sang istri. Tak lupa, wajah datar nan dingin sudah dia pasang sejak tadi.
Sebelah alisnya terangkat tatkala tubuh sudah duduk di tepi ranjang. Pertanda dia mempertanyakan apa yang akan dilakukan oleh Hana.
“Emm ... Mas mau nggak, belikan aku roti bakar di depan hotel?”
Hanan mendengkus. Tanpa sepatah kata, dia menyambar jaket bombernya dari belakang pintu, berlalu meninggalkan kamar. Ke luar dengan santai.
Hana tersenyum. Hanan itu tidak banyak bicara, tetapi banyak aksi. “Aku tau, Mas. Kamu nggak akan tega menolak, melihat keadaanku seperti ini,” gumamnya, menatap punggung Hanan yang mulai menjauh, menghilang di balik pintu.
Kembali sepi. Ruangan cukup megah itu membuat Hana merasa seperti tengah berlibur saja, bukan karena cuti pernikahan. Jangankan melayani sang suami, lelaki itu saja sama sekali tidak memedulikan kehadirannya.
Dengan sigap, Hana menekan beberapa kali layar ponsel. Mengetik beberapa kali, mengakhiri, menutup ponsel. Tersenyum. Beberapa menit lagi Hanan pasti kembali.