Perhatian?

1099 Kata
Cahaya telah meredup, berganti dengan lampu-lampu yang mulai menerangi jalanan. Senja telah pergi, berganti dengan indahnya malam bertabur bintang dan bulan. Lelaki itu sesekali mendengkus kesal, menampilkan raut datar. Di tangannya sudah ada satu plastik berisi roti bakar, pesanan sang istri. Berbagai rasa dia beli, tidak jadi masalah. Langkahnya semakin lebar, tatkala sudah ke luar dari lift. Pemandangan dari lantai tiga, begitu menawan. Elok sekali langit malam dan kota di bawahnya, tampak jelas memanjakan mata dari jendela yang lebar. Dia berhenti tepat di depan pintu, mengeluarkan kartu akses, membuat pintu terbuka lebar. Menghela napas, lalu masuk dengan langkai gontai. Ruangan yang dia pijak tampak sepi, ke mana gadis itu? Tidak mungkin jika pergi begitu saja. Ah, biarlah! Dia lelah sekali, ingin istirahat. Lebih baik, dia duduk dan menghela napas beberapa saat. Dia memejamkan mata, menarik napas dalam, mengembuskan secara perlahan. Tenang sekali rasanya, jika hati dan pikiran bisa sinkron seperti ini. Semilir angin menerpa wajah, entah dari mana, membuat dia sedikit terusik. “Angjn dari mana, sih!” geramnya, lalu mengedarkan pandangan. Tampak ada satu jendela yang terbuka. Gegas, dia beranjak dari sofa dengan malas, menutup jendela rapat-rapat, duduk lagi. Akan tetapi, belum sempat dia memejamkan mata, sudah ada yang mengetuk pintu dari luar. Dia mendengkus kesal, mengganggu saja, tak ada pilihan, dia beranjak kembali dari tempat duduk. “Assalamualaikum!” ucap seseorang dari luar, sembari mengetuk pintu pelan. “Wa’alaikumsalaam, sebentar!” jawab Hanan, mendengkus kesal. Membuka pintu dengan malas. Tampak seorang laki-laki sudah berdiri di ambang pintu, berseragam. Seperti karyawan sebuah restoran. Hanan mengerutkan dahi, siapa? “Saya dari Restoran Suka Cita, ingin mengantarkan pesanan,” ujar lelaki bertubuh sedikit gemuk itu, mengembangkan senyuman, menyodorkan satu kresek yang bisa dipastikan itu makanan. Hanan menerimanya dengan perasaan bingung, rautnya penuh dengan tanda tanya. Restoran itu adalah retoran favoritenya. Kenapa bisa sampai ke sini? “Atas nama Ibu Hana, Pak. Bil-nya sudah dibayar lewat online.” Akhirnya, pertanyaan Hanan terjawab juga. Namun, mengapa Hana memesan ini semua? Pun, dari mana gadis itu tahu dia menyukai makanan yang ada di restoran tersebut? “Oh, iya, Mas. Terima kasih.” “Sama-sama. Kalau begitu, saya pamit dulu ya, Pak.” Lelaki itu tersenyum, berpamitan, mengucapkan salam dan lekas berlalu dari hadapan Hanan. “Bapak ... Bapak. Saya masih muda,” gerutu Hanan seraya menutup pintu, mendengkus kesal. “Siapa, Mas? Kenapa kamu kayak kesel gitu?” Hanan berbalik badan. Gadis yang beberapa saat lalu dia cari, akhirnya datang juga di depan mata. Hanan mendelik kesal, menyodorkan kresek yang dia pegang. “Ini, dari Restoran Suka Cita. Roti bakar yang kamu mau, sudah ada di meja, tuh,” tunjuk Hanan menggunakan dagu, menuju ke atas meja tamu. Hana tersenyum, mengucapkan terima kasih. Melangkah dengan pelan, meraih roti bakar itu dengan girang. Ditatapnya sang suami dengan raut penuh arti. “Makan bareng yuk, Mas? Itu makanan favorit kamu, kan?” Hanan bergeming. Bagaimana Hana bisa tahu tentangnya? Ah, peduli amat. Dia juga lapar. Dengan ragu dia mengangguk pelan, berjalan mendahului Hana dan duduk di kursi meja makan. Hana segera menyusul, mengambil dua piring, menarik kursi tepat di samping Hanan, duduk. Kemudian, membuka plastik, menyajikan nasi goreng spesial yang dia pesan, berikut beberapa hidangan penutup. Cake, kue basah, dan sebagainya. “Ini, Mas ....” Hana memberikan satu piring pada Hanan, satu piring untuknya. “Habis dari mana?” tanya Hanan kemudian memasukkan satu sendok nasi goreng ke dalam mulut, tanpa melihat ke arah Hana. Dahi Hana berkerut, memangnya dia habis dari mana? “Ada, Mas. Di sini. Nggak ke mana-mana, kenapa?” “Jangan bohong. Tadi saya pulang, kamu tidak ada.” Aura dingin mulai terasa. Bukan karena cuaca, melainkan nada bicara Hanan. “Serius, nggak ke mana-mana, Mas. Aku tadi habis salat Magrib, dengar ada tamu, aku ke luar kamar.” Perkataan Hana membuat Hanan berhenti memakan makanan, dia menoleh. Menatap Hana dengan dalam. Rautnya sulit diartikan. “Sejak kapan kamu salat?” “Lho? Salat kan kewajiban seorang muslim, Mas. Yaa, aku salat sejak masa baligh.” “Berhenti salat.” Hanan mengatakannya dengan datar sekali, kembali melanjutkan makan. “Nggak bisa. Aku suka salat, itu juga kewajibanku. Kalau Mas Hanan nggak mau salat, silakan. Tapi, jangan larang aku.” Hana berkata tegas sekali, dia menatap lelaki itu dengan nanar. “Apa gunanya salat? Tidak ada. Percuma, buang-buang waktu saja.” Mata Hana berkaca-kaca, dia menggeleng pelan. Kenapa Allah uji dia memiliki suami seperti ini? Katanya, wanita yang baik untuk laki-laki yang baik pula, dan begitu juga sebaliknya. Namun, mengapa Hanan malah berkata seperti itu? Dia dengar, Hanan pria yang baik. Rajin salat. Namun, kenyataannya sekarang tidak seperti itu. Mengapa? Kenapa Hanan berubah? “Mas Jahat! Aku nggak mau makan!” ungkap Hana, menyodorkan piring, berlalu dari ruang makan dan masuk ke dalam kamar. Mengempaskan tubuh begitu saja di atas kasur, tak peduli punggung yang masih terasa nyeri. Hanan mendengkus kesal. Menatap nyalang pintu kamar, lalu beralih manatap piring yang tersisa sedikit lagi makanan. Dia menghabiskannya, minum. Merapikan meja makan. Walau Hanan laki-laki, dia tidak suka jika tempat yang dia tinggali berantakan. Apalagi berserakan makanan seperti itu. Dia berkacak pinggang saat masuk ke dalam kamar. Tampak Hana tengah sesenggukan dengan wajah tertutup bantal. Dia menghela napas dengan kasar, repot sekali jika wanita sudah merengek seperti ini. Bisa panjang urusannya. “Ini, makan! Jangan manja, deh! Gitu aja nangis!” ketus Hanan, meletakkan piring berisi nasi goreng dan segelas air putih di atas nakas, menatap Hana yang masih setia menangis di balik bantal. “Mau makan apa masih mau nangis?!” Nada bicara Hanan mulai meninggi, tetapi tidak ada respons dari Hana. Gadis itu masih setia terisak dalam kegelapan. Hanan mendengkus, tetapi harus tetap bisa mengontrol diri. Jangan sampai kejadian dulu terulang lagi. Tidak, Hanan. Cukup satu kali, kamu harus sabar. “Han ... makan. Nanti sakit.” Suara Hanan mulai melunak, dia mendekati Hana. Menyibak selimut dengan pelan, mengambil bantal dengan kelembutan. Hana segera menutup wajahnya dengan kedua tangan, terisak, sesenggukan. Bak anak kecil yang dilarang bermain, dia merasa sakit hati. Tak ada pilihan lain, Hanan menghela napas. Dia harus bisa membujuk Hana, apapun caranya. Jangan sampai Hana jatuh sakit, bisa-bisa dia yang menjadi buronan. Bak penjahat yang telah melukai. Dan menjadi perbincangan. Katanya, seorang pengusaha muda tidak bisa mengurus istrinya sendiri sehingga baru saja menikah satu hari, istrinya sudah jatuh sakit. Wah, bisa-bisa reputasinya hancur seketika. “Han ....” Hanan mencoba menepuk pelan tangan Hana, meminta gadis itu agar segera makan. Pasrah, dia berdiri. Duduk di sisi Hana, tepat di bagian kepala. Perlahan, dia meraih tubuh mungil itu dengan pelan. Memeluknya erat. “Sudah, jangan menangis. Makan ....”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN