Gadis berpipi merah itu masih setia menangis, sesenggukan di dads bidang sang suami. Rasa hangat mulai menjalar dalam hati, sehangat itu pelukan orang yang dia cintai.
“Han ... sudah, jangan nangis. Makan, ya?”
Hana mendongak, masih terisak. Dengan siap Hanan menghapus air mata itu menggunakan kedua ibu jarinya, tersenyum. Meminta kembali agar gadis itu mau makan. Akhirnya, Hana mengangguk.
“Tapi dengan satu syarat.”
Hanan mendengkus pelan. “Baiklah, apa?”
“Jangan larang aku buat salat dan Mas Hanan juga harus mau salat.”
“Syarat pertama aku setuju, yang kedua no. Ayok, makan! Tidak ada syarat-syarat lagi.”
Pernyataan itu membuat Hana merengut. Dia memasang wajah datar. Menunduk, meremas jari jemarinya sendiri.
Hanan mengambil nampan, memberikannya pada sang istri. “Ini, makan.”
Tak ada respons, Hana hanya menatap nasi goreng itu dengan sendu. Air matanya kembali menetes, membuat Hanan mendengkus kesal.
Hanan menyendok nasi goreng, menyodorkannya tepat di mulut Hana. Meminta agar gadis itu mau membuka mulutnya, dingin sekali ucapannya itu.
“A ... buka!”
Mau tak mau, Hana membuka mulut. Namun, masih dalam keadaan menunduk. Sesekali dia terisak pelan. Tak berani menatap sang suami sedikit pun.
Hanan menarik napas dalam, melempas sendok asal sampai menimbulkan bunyi nyaring akibat benturan dari sendok besi mengenai lantai. Berdiri, melangkah ke ruang tamu, meninggalkan Hana yang masih terkejut dengan sikap Hana.
Dia memungut sendok, meletakannya kembali di atas piring. Minum beberapa tegukan, lalu menyimpan nampan itu di dapur. Sesaat sudut matanya melirik Hanan, lelaki itu tampak menahan kesal. Dia menunduk, melanjutkan langkah ke arah kamar.
Helaan napas terdengar. Hana menangis dalam diam. Namun, seketika air matanya berhenti mengalir tatkala Sang Kuasa memanggil para hamba-Nya.
Dia segera duduk, memejamkan mata. Melafalkan istighfar beberapa kali. Kemudian, gegas ke kamar mandi, mensucikan diri. Beberapa menit menghabiskan waktu bersama air, akhirnya mulai melaksanakan empat rakaat penutup hari.
Cukup melelahkan, apalagi kehidupan setelah berumah tangga ternyata tidak segampang yang dipikirkan. Mengingat saat masih lajang, terus sana memiliki impian agar segera dihalalkan. Namun, kini, dia tahu. Pernikahan tidak semudah itu. Membutuhkan ilmu dan juga iman.
Lagi-lagi air matanya menetes tatkala menghadap pada Sang Kuasa. Terlampau sakit mendera jiwa, tak ada yang bisa dia perbuat. Mengadu? Tentu saja, dia akan mengadu pada-Nya.
Untaian bait doa terlangitkan. Menggema dalam keheningan malam dalam persujudan pada Sang Kholiq. Air mata berjatuhan. Membasahi sejadah yang baru dia pakai setelah hari pernikahan.
Hanan berniat tidur di ruang tamu, mengambil bantal dari kamar. Namun, langkahnya berhenti tepat di ambang pintu. Dia tertegun mendengar suara merdu Hana tengah melantunkan surah Alfatihah.
Selama ini, dia telah jauh dari Tuhan. Karena insiden di masa lalu, telah mengubah jalan pemikirannya. Buat apa salat? Tidak ada gunanya. Tidak akan bisa menyelesaikan masalah.
Lihatlah. Dia sering kali salat, tetapi saat masalah itu mendera. Dia seperti kehilangan kompas, tersesat. Tidak ada ketenangan yang dia dapatkan selain minum alkohol.
Gegas, dia melangkah ke arah kasur. Melewati Hana dari belakang. Beruntung, gadis itu salat tepat di samping ranjang. Dia bisa mengambil bantal.
Terdengar salam telah diucapkan, Hana menoleh ke kanan dan ke kiri. Mendapati sang suami yang berniat pergi kembali. Tidak, dia tidak akan menahannya. Biarkan laki-laki itu berbuat sesuka hati untuk malam ini.
Akan tetapi, belum sempat Hanan ke luar kamar, mendadak listrik padam. Lampu mati. Langkahnya berhenti, celingukan. Meraba ke sana-kemari, nihil, tangannya tidak dapat menjangkau apapun.
“Han ... Hana! Kamu di mana?” tanya Hanan, akhirnya pasrah. Karena di apartemen ini hanya ada dia dan Hana.
Berbeda dengan Hanan, gadis itu justru telrihat tenang. Dia mulai meraba ponsel di atas nakas. Ingat sekali, sebelum salat ponsel dia letakkan di depannya, di atas nakas.
Senter mulai menyala dari ponsel Hana, menyinari keberadaan Hanan. Membuat laki-laki itu gegas menghampiri sang istri. Berdiri di samping Hana dengan ragu.
“Kenapa, Mas? Nggak jadi tidur di luar?” tanya Hana, melirik sejenak bantal yang dibawa Hanan.
Tak ada jawaban, Hanan terdiam. Antara kesal dan malu. Lebih tepatnya, utama malu.
“Coba telpon pihak lobi, kenapa lampunya tiba-tiba mati. Ada-ada saja. Apartemen mahal, masa lampunya mati.”
Hana mengangguk, mulai menghubungi pihak lobi. Mengucapkan salam, bertanya kenapa listriknya bisa mati. Dia menghela napas. “Baiklah. Terima kasih, Mbak.”
Dia melirik Hanan. “Katanya, sedang ada perbaikan listrik, Mas. Di depan jalan raya itu. Jadi, hotel ini juga kena imbasnya. Tapi nggak akan lama. Sekitar setengah jam palingan.”
Hanan mendengkus kesal. Mengempaskan tubuh ke kasur. Berbaring setelah meletakkan bantal pada tempat sebelumnya.
Sementara Hana, melepas mukena yang dia kenakan. Melipatnya menjadi beberapa lipatan, menyimpannya kembali di lemari. Tentunya, dengan bantuan cahaya dari ponsel.
Dia berbalik badan, melangkah dengan ragu menuju kasur. Namun, kantuk sudah menyerang begitu saja. Mungkin efek menangis tadi.
“Tidurlah.” Hanan seperti tahu apa yang dipikirkan Hana, dia melirik istrinya sejenak.
Bak genderung perang tengah ditabuh begitu keras di jantung Hana, seperti akan melompat dari tempatnya saat tubuh Hana menaiki kasur.
Sejenak dia duduk dengan tangan melingkar di lutut, menatap lurus ke depan dengan pantulan cahaya menuju dinding. Titik terang dalam kegelapan begitu terlihat jelas.
Tak lama, Hana berbaring dengan mata yang sudah tak dapat ditahan lagi. Namun, saat tubunya bersampingan dengan Hanan, kantuk mendadak hilang seperti tidak pernah ada. Ada apa ini?
Akhirnya, keduanya tetap terjaga dengan tubuh terlentang. Menatap cahaya yang memantul pada dinding. Dalam kegelapan, keheningan nan kesunyian.
“Han ....”
Hana menoleh, mendengar suara serak milik Hanan. Tanpa bertanya, dia menunggu perkataan selanjutnya dari laki-laki itu.
“Mendekatlah ....”
Hana mengangguk, melakukannya. Mendekat ke arah Hanan. Kepalanya hampir sampai pada dads bidang lelaki itu.
“Maaf untuk sikap saya tadi.”
Seperti ada yang menusuk hati, lalu berbunga dengan sangat mekar. Hana tersenyum dalam kegelapan, entah Hanan melihatnya atau tidak.
“Mas ... aku mau tanya.”
“Apa?”
Sesaat, pandangan mereka saling bertemu. Walau dalam kegelapan, Hanan seperti melihat rembulan di mata gadis di depannya. Indah sekali mata itu.
“Apa Mas Hanan keberatan dengan perjodohan ini?”
“Iya.”
“Kenapa?”
Hana menahan untuk menguap, berat sekali matanya. Tiba-tiba kantuk mulai menyerang kembali.
“Karena saya punya trauma, Han. Saya tidak tau, apakah saya bisa membuat kamu bahagia atau tidak.”
Hening. Tak ada respons apapun. Hanan memajukan tubuhnya sedikit, tampak Hana sudah memejamkan mata dengan kedua tangan berada di bawah pipi. Pantas saja, tidak ada lagi suara. Rupanya gadis ini sudah terlelap dalam mimpi.
Indah sekali ukiran Tuhan yang satu ini. Hanan memajukan tubuhnya lagi, mengecup kening Hana. Cukup lama. Desiran hangat menjalar dalam dads. Sekali lagi, setelah acara akad itu.
Setelah itu, dia segera menarik selimut, menutupi tubuh Hana sampai ke dagu. Namun, tidak dengannya. Dia beranjak dari kasur dengan hati-hati agar Hana tidak terbangun.
Ditatapnya sang rembulan yang sudah hadi menghiasi langit. Bertanya pada Tuhan dalam hati. Mengapa Tuhan mengirimkan ganti perempuan sebaik Hana, bukan yang sama seperti di masa lalu? Tangannya masuk ke dalam saku, menatap kegelapan langit dalam kegelapan.
Tiba-tiba lampu menyala. Tak sampai tiga puluh menit ternyata. Namun, matanya enggan tuk menutup. Masih ingin terbuka, menyelami kenangan itu.
“Berarti, Hana tidak mendengar ucapanku tadi,” gumamnya, sangat pelan sekali. Dia berbalik badan, istrinya sudah tidur begitu lelap.
Gegas, dia mematikan lampu kamar. Menyalakan lampu tidur. Tak ingin membuat Hana terusik dengan sinar terang dari cahaya lampu. Dia juga berbaring kembali di samping Hana, lupakan soal niatnya tidur di luar.
Seperti ada magnet yang menarik Hanan. Tubuhhnya menghadap Hana, menatap gadis itu dalam. Memperhatikan setiap ukiran wajah sang istri. Cantik, manis. Apalagi dengan jilbab yang setia menutup kepala.
Sama sekali dia belum melihat seperti apa rambut Hana. Tak masalah. Karena sampai saat ini pun, dia belum berani menyentuh gadis itu.
“Selamat tidur ... istriku.” Hanan memejamkan mata, kantuk mulai menyerang. Membawanya pada alam mimpi, menyelami kegelapan dalam halusinasi bunga tidur.