“Eh, biar saya saja,” cegah Hanan saat melihat Hana mengambil mangkuk. Dia langsung merebut mangkuk itu dan mengaduk bubur dengan pelan.
Hana tercengang, menatap perlakuan suaminya kali ini. Tampak lelaki itu begitu telaten mengaduk bubur sampai kepulan asap menguap, menguar aroma yang langsung menusuk hidung.
“A ...,” pinta Hanan agar istrinya itu membuka mulut, sedangkan tangannya memegang sendok berisi bubur.
Sekilas Hana menatap heran suaminya, lalu membuka mulut dan membiarkan Hanan menyuapinya. Apa karena ucapan ibu mertuanya tadi, sehingga membuat Hanan langsung menyambar mangkuk?
Ah, masa iya Hanan benar-benar enggan kehilangannya. Padahal kan, ibu itu tadi pasti becanda saja. Tidak benar-benar memberikan peringatan.
“Aaaa ....” Hanan kembali memasukan satu sendok bubur ke dalam mulut sang istri, lalu mengaduk nasi lembek itu beberapa kali agar menyatu dengan kaldu.
Sementara Hana, masih memikirkan ribuan pertanyaan yang hadir dalam benaknya seiring mulut mengunyah makanan. Tatapannya tak luput dari wajah tampan sang suami.
“Mas, udah. Biar aku aja,” ujar Hana, meminta mangkuk itu. Namun, segera ditepis pelan oleh Hanan.
“Jangan membantah, biar saya saya,” tolak Hanan dengan nada dingin, membuat nyali Hana seketika menciut. Bukan karena takut, tetapi jika nada bicara Hanan sudah seperti itu, maka itu artinya tidak dapat diganggu gugat. Jika memaksa, maka akan fatal akibatnya.
“Mas ... udah kenyang.”
Hanan mendongak, mengangguk paham. Kemudian, meletakkan mangkuk dan beralih mengambil gelas. Membantu Hana minum, lalu beranjak dari tempat duduk dan ke luar membawa nampan.
Hana hanya bisa menatap kepergian suaminya. Agaknya, peringatan sang ibu mertua tadi benar-benar sangat berpengaruh. Atau karena rasa bersalahnya siang tadi tidak pulang?
Apapun alasannya, perlakuan Hanan tadi membuat hatinya berbunga-bunga. Sedikit demi sedikit lelaki itu menunjukkan perubahan. Mulai memberikan perhatian padanya.
Hujan mulai reda, angin berembus pelan menerpa setiap kendaraan yang melintas, pun dengan para pejalan kaki. Terasa sejuk, mungkin karena efek sejak sore sampai malam menyapa, air tetap turun mengguyur bumi.
Para pekerja kembali pada aktivitas masing-masing. Termasuk Hanan, lelaki itu kini sudah bersiap menyambut pagi dengan pakaian formalnya, ditemani secangkir teh buatan Bi Leha.
Rasanya memang original, biasa. Tak seperti buatan sang istri, begitu terasa nikmat. Mungkin karena ketulusan dan rasa cinta yang tersalurkan dari tangan gadis itu saat membuatnya.
Kini, Hanan sudah berada di teras rumah. Memakai sepatu, tubuhnya setengah berjongkok. Setelah dipastikan selesai, kembali pada posisi semula, lalu menghela napas panjang.
“Loh, Hanan? Mau ke mana rapi begini?” Maya menyembul di balik pintu, menatap penampilan sang putra dari atas sampai bawah.
Hanan mengikuti gerakan sang ibunda, menatap diri sendiri dari atas sampai bawah. Apa yang salah dengan penampilannya?
“Apa ada yang salah Bu, dengan penampilanku?” tanya Hanan akhirnya menyerah, karena tak kunjung mendapatkan apa letak kekurangannya di penampilan.
“Penampilan kamu nggak ada yang salah, kamu mau ke mana pake pakaian rapi begini?”
“Mau ke kantor lah, Bu. Mau kerja.” Hanan menjawab dengan santai. Toh, memang benar dia akan berangkat bekerja seperti biasa. Mengapa ibunya itu malah kembali bertanya?
Maya memelotot, menarik telinga Hanan dengan keras. Membuat putranya itu meringis kesakitan.
“Aw ... aw ... Bu, sakit, aduh ... sakit, Bu!” ringis Hanan, memegang telinga yang terus ditarik keras oleh sang ibunda. Apa salahnya kali ini? Kenapa kupingnya yang selalu menjadi sasaran.
Maya mendengkus kesal seraya melepaskan tangannya dari telinga Hanan. “Kamu itu, istri lagi sakit, malah mau berangkat kerja. Hana ada jadwal kontrol hari ini, kamu temani lah. Masa ibu yang temani, gitu?” tanyanya, mendelik ke arah lelaki berpakaian formal itu.
Sementara Hanan, sedang mengusap pelan telinga yang terasa berdenyut. Kadang dia berpikir, ibunya itu tidak sayang padanya lagi sejak kehadiran Hana di rumah.
“Tapi kan, aku harus kerja, Bu. Perusahaan membutuhkan aku.”
“Alah, alasan! Perusahaan biar Alex yang urus. Toh, hanya satu hari. Atau begini saja, kamu antar Hana kontrol dulu, terus anterin dia pulang. Setelah itu, bebas deh, mau ke kantor kek, mau renang kek, mau makan kek.”
Mata Hanan terpejam, jangan sampai dia emosi. Tahan, Hanan. Masih pagi. Tahan, itu ibumu. Ingat, ibumu. Jangan marah, tahan ....
Akhirnya, amarahnya meluap menjadi tarikan napas, lalu diembuska secara perlahan. Menatap sang ibunda, mengangguk. Pasrah sudah jika menyangkut perihal Hana.
“Iyaiya, Bu. Aku akan antar Hana.” Hanan melangkah masuk ke dalam, melengos begitu saja. “Padahal ada Bi Leha sama Mang Eman yang bisa antar ke rumah sakit, kenapa harus aku, sih?” gerutunya sepanjang melangkah.
Sementara Maya, menggeleng pelan mendengar luapan amarah dari putranya itu. Karena jika tidak begitu, Hanan tidak akan pernah mau untuk mengantar istrinya sendiri. Sikapnya yang berubah menjadi dingin, membuat dia selaku ibunya harus bersikap lebih tegas.
Tak lama, Hanan sudah kembali bersama sang istri. Tentunya, Hana tetap duduk di atas kursi roda dan Hanan yang mendorongnya.
Sesuai perintah Maya, sepasang suami istri itu langsung masuk ke dalam mobil dan mulai menempuh perjalanan menuju rumah sakit. Ditemani Mang Eman sebagai pengemudi kereta beroda empat tersebut.
Entah kenapa, Hanan tengah malas mengemudikan mobil. Beruntung Mang Eman ada, jadi bisa mengantarnya dan sang istri menuju tempat tujuan. Lagi pula, supaya ada yang membantunya di rumah sakit nanti, menyipakan kursi roda dan sebagainya.
Perjalanan kurang lebih ditempuh tiga puluh menit. Situasi yang masih pagi hari, membuat mobil lancar berkendara tanpa harus antre karena macet. Sebab, beberapa manusia mungkin masih bersiap di rumah masing-masing. Atau bahkan, tak sedikit yang masih berkelana di dalam mimpi.
Tak terasa, mobil berhenti seiring decitan rem terdengar ke gendang telinga. Tampak gedung bertuliskan rumah untuk orang-orang sakit terlihat jelas di depan mata. Hilir mudik beberapa orang, dari yang berpakaian biasa sampai para tenaga kesehatan. Dari yang berjalan biasa sampai yang memakai kursi roda.
Termasuk Hana. Gadis itu sudah terduduk di atas kursi roda dengan Hanan setia mendorong dari belakang. Namun, belum sampai ke teras rumah sakit, suara seseorang menghentikan langkah mereka.
“Hanan!”
Merasa ada yang memanggil namanya, Hanan menoleh, diikuti Hana. Tampak gadis bermata belo sudah ada di sana, tepatnya tengah duduk di atas kursi roda.
Sabna tersentak, saat melihat Hanan juga membawa wanita berjilbab pashmina itu. Dia pikir, lelaki itu hanya sendiri.
Jari jemarinya meremas dress selutut yang dia kenakan. Sabna memalingkan wajah sesaat, hatinya terasa dibakar.
“Hei, Sab!” Hanan melambaikan tangan, dia tersenyum. Kemudian, mengayuh kursi roda dan menghampiri mereka.
Senyumnya tetap dia perlihatkan saat menghampiri keduanya. “Hai, Hana, Hanan.”
Hana tersenyum, lalu melirik pada sang suami. “Mas, ayok! Keburu dokternya ganti. Dokter yang menangani aku kan sip malam, jadi jam sembilan nanti sudah pulang.”
Hanan mengangguk. “Kami pergi duluan ya, Sab.”
Sabna mengangguk, tersenyum getir. Menatap kepergian mereka. “Argh!” rutuknya kemudian mendengkus kesal. “Enggak! Gue nggak boleh nyerah gitu aja. Gue pastikan, Hanan akan segera jatuh ke dalam pelukan gue!”