“Hanan!”
Hanan tersentak saat bahunya ditepuk keras dari samping, membuat dia menoleh. Tampak ibunya sudah berdiri di sana dengan senyum menghiasi wajah.
Ternyata tadi hanya bayangan semata. Lamunannya terbuyar. Syukurlah, dia bisa tenang.
“Kamu kenapa masih di sini? Kenapa nggak masuk?” tanya Maya, melihat putranya sejak tadi malah berdiri di depan pintu saja dan sekarang, mengusap wajah pelan seiring helaan napas yang terdengar berat.
“Enggak, Bu. Tadi ... tadi ....”
“Sudah, masuk. Kasian Hana, pasti nunggu kamu. Sejak tadi dia melamun terus, sepertinya memikirkan kamu.”
Hanan mengangguk, menatap kepergian sang ibunda sampai menghilang dari pandangan dsn masuk ke dalam kamar.
Lantas, dia juga melakukan hal yang sama. Menutar knop dan membuka pintu secara perlahan. Tampak gadis yang tadi ada dalam lamunan, ternyata masih tertidur dengan selimut menyelimuti seluruh tubuh, menyisakan wajah saja.
Dia menghela napas lega. Melihat Hana baik-baik saja seperti mendapatkan oksigen. Gadis itu masih dalam posisi yang sama saat dia membersihkan diri tadi. Syukurlah.
Dia pikir, Hana akan marah besar seperti ada dalam bayangannya tadi. Jika seperti itu, dia tidak akan bisa merasa tenang. Entah kenapa, saat ini hatinya enggan tuk kehilangan gadis bermata bening itu.
Tak bisa dipungkiri, sejak insiden di restoran itu pikirannya sering tertuju pada Hana. Entah apa sebabnya. Yang pasti, setiap kali melihat keadaan Hana baik-baik saja, paru-parunya seakan baru saja mendapatkan kembali oksigen.
Lantas, dia melangkah ke arah jendela. Hujan masih turun dengan bebas, belum juga beranjak meninggalkan tanah. Langit seolah ingin benar-benar meluapkan amarahnya sampai tuntas. Tampak gelap dipenuhi awan hitam, sesekali petir juga menyambar.
“Mas ....”
Hanan menoleh saat mendengar suara lembut itu, Hana sudah bangun rupanya. Gegas dia menghampiri, duduk di tepi ranjang.
Hana berusaha bangun, merasa sungkan jika terus berbaring sementara sang suami duduk.
Melihat istrinya hendak bangun, hati Hanan merasa tergugah. Lekas dia membantu gadis itu untuk duduk dan bersandar di kepala ranjang.
Hana langsung mengulurkan tangan, mengalami sang suami dengan penuh takzim. Kemudian, menghela napas pelan.
“Mas kapan pulang?” tanyanya dengan suara terdengar serak.
“Dari tadi. Mana yang sakit? Kenapa bisa jatuh?” Pertanyaan Hanan kali ini, benar-benar terlihat tulus. Lelaki itu sampai langsung menyingkap selimut sang istri, mengecek kedua kaki Hana.
Terdapat lebam biru di pergelangan kaki kanan. Hanan merabanya, pelan. Hatinya mendadak mencelos. Ada apa ini, kenapa dia merasakan sakit?
“Awww!” jerit Hana saat merasakan kaki yang lebam ditekan.
“Eh, astaghfirullah!” Hanan tersentak, menoleh. Karena matanya terpejam tadi, membuat tangannya refleks menekan luka sang istri.
“Nggak papa, Mas,” ujar Hana sembari tersenyum meringis, meyakinkan Hanan bahwa dia baik-baik saja.
Hanan sempat gelagapan, memikirkan cara agar bisa menebus kesalahannya. Namun, saat mendengar pernyataan dari Hana, hatinya menjadi tenang.
Seperti kata pepatah, dalam pernikahan setiap pasangan adalah obat bagi pasangannya. Penenang kala gelisah penentram kala gundah, pelembut kala marah.
Sepasang suami istri juga ibarat bayangan. Suami adalah bayangan bagi istrinya, begitu juga sebaliknya. Jika suami adalah tubuh, maka seorang istri adalah pakaian bagi suaminya.
Jika seorang istri rusak, maka belum tentu suaminya rusak. Karena pada hakikatnya seorang perempuan memiliki nafsu yang jauh lebih besar dari laki-laki. Namun, atas bimbingan suaminya, bisa berubah sebaik mungkin.
Akan tetapi, jika suami rusak, maka istrinya lebih rusak. Karena suami adalah pembimbing, imam, penjunjuk jalan, pengarah bagi istrinya. Maka jika kompasnya rusak, maka istrinya lebih rusak karena tanpa kompas akan tersesat. Namun, kembali lagi, semuanya sesuai ketetapan Sang Pencipta. Seperti Fir'aun yang menikah dengan Siti Asiyah.
Segala sesuatu berasal dari Sang Maha Esa, maka kembali pada ketetapan-Nya.
“Kamu kenapa bisa jatuh?” tanya Hanan, mengulang pertanyaan sebelumnya.
Hana tersenyum kikuk sembari menggaruk tengkuk yang tak gatal. Sejak menikah dengan Hanan, sepertinya jatuh di kamar mandi menjadi hobi. Terlalu sering sekali.
“Anu, Mas ....” Hana tersenyum lagi, bingung harus menjelaskan dari mana dahulu.
“Kenapa?” Hanan memasang wajah datar. Dia paling tidak suka menunda waktu.
Hal itu malah membuat nyali Hana menciut, menundukkan pandangan dan tak berani mendongak barang sedikit pun.
“Tadi ... pas masuk waktu Asar, aku ke kamar mandi sendirian. Terus, hujan, kan. Pas ada petir, kaget. Terus ... belum sempet pegangan, eh, udah kepleset, nyungsep, deh ..., ” jelas Hana diakhiri kekehan kecil.
Hanan menepuk kening sembari menghela napas panjang. Dia pikir, kronologisnya cukup serius. Wajar, sih, memang. Jika Hana bisa terpeleset karena terkejut, mengingat gadis itu baru saja pulang dari rumah sakit, pasti kondisinya masih lemah, belum terlalu stabil.
“Kamu itu sepertinya hobi jatuh di kamar mandi, ya.” Hanan menggeleng pelan, menatap sekilas pada sang istri.
Sementara Hana, sudah cengengesan tidak jelas. Walau sikap Hanan terlihat cuek dan dingin, tetapi dia percaya di balik itu semua tersimpan kekhawatiran yang cukup besar. Buktinya, Hanan langsung pulang saat mendengar dia jatuh tadi.
“Mas sudah makan?”
Hanan menoleh, mengangguk. “Sudah. Mie ramen tadi, buatan Ibu.”
Terdengar ketukan pintu tiga kali, lalu seorang wanita berbaju hijau tosca menyembul di balik pintu membawa nampan berisi satu mangkuk dan gelas.
“Ibu ...,” seru Hanan dan Hana secara bersamaan, menatap kedatangan ibu mereka. Wanita berharga di dalam hidup mereka.
Bagi Hanan, Maya bukan hanya seorang ibu. Namun, bak malaikat yang sabar dalam mengurusnya. Itu sebabnya, saat sang ibunda membujuknya dulu untuk menikah dengan Hana, dia tidak bisa menolak.
Sementara bagi Hana, Maya sudah seperti ibunya sendiri. Karena sejak kecil, sang ibunda sudah tiada, kembali menghadap Sang Pencipta. Dia dibesarkan oleh ayahnya saja. Namun, sampai sekarang menikah, tak pernah dia merasakan kekurangan dalam hal apapun. Ayahnya selalu mengusahakan yang terbaik, memenuhi segalanya walau tanpa dia minta.
Maya tersenyum, menatap putra dan menantunya secara bergantian. Kemudian, meletakkan nampan di atas nakas dan menarik kursi kerja untuk mendekat ke arah ranjang.
“Makan dulu, Nak. Gimana, masih terasa sakit kakinya?”
Hana menggeleng. “Tidak terlalu, Bu.”
“Apa perlu saya panggilkan Paman Ali?” usul Hanan, mengingat paman Hana yang satu itu pandai memijat dan mengobati luka-luka tulang seperti itu.
“Tidak perlu, Mas. Insyaa Allah sebentar lagi juga membaik, kok. Beneran.”
“Ya udah, makan saja, ya. Apa perlu ibu suapi?” tawar Maya, tersenyum. “Atau ... mau Hanan yang suapin?” goda Maya seraya melirik pada sang putra, membuat Hana seketika menunduk malu, menyembunyikan rona merah di pipinya.
“Apaan sih, Bu.” Hanan mencebik kesal.
“Becanda, Han. Tapi, ibu ingetin, ya. Wanita itu suka dimanja, apalagi kalau sakit. Jangan sampai Hana lebih nyaman dengan laki-laki lain, karena kamu nggak mau memanjakannya. Hati-hati, lho,” peringat Maya, kali ini terdengar serius.
Hanan yang semula tak peduli, menoleh pada sang ibunda. Mendadak ada kegelisahan masuk ke dalam relung jiwa. Apa itu benar?
“Kalau gitu, ibu kembali ke kamar, ya. Sebentar lagi masuk Magrib soalnya,” pamit Maya, mengusap lembut kepala Hana dan menepuk pundak Hanan. Kemudian, melangkah ke luar, meninggalkan mereka berdua.
Hanan bergeming, memikirkan perkataan sang ibunda. Kalimat itu seolah terus terngiang di gendang telinga. Ada apa dengannya kali ini?