Merajuk

1110 Kata
Dia tidak tahu, seberapa dalam luka yang Hanan terima. Namun, dia yakin, suatu saat luka itu akan berangsur membaik dan sembuh. Sekarang, tengah berproses. Hanan sedikit demi sedikit mulai kembali menyukai makanan yang empat bulan ini dihindari. “Pah ... ibu sudah buatkan ramen.” Maya menghampiri sang suami, mengusap pelan pundak lelaki yang puluhan tahun silam telah menghalalkannya. Jari Arya seketika berhenti menari di atas keyboard, menoleh pada sang istri. “Oh, ya? Hanan makan?” Maya mengangguk dengan senyum merekah, juga mata yang berkaca-kaca. “Iya, Pah. Alhamdulillah Hanan sudah mulai mau makan mie ramen lagi.” “Alhamdulillah ....” Syukur Arya, mengingat sudah empat bulan anaknya itu menolak hal-hal yang disukainya. “Ayok, kita turun. Makan mie ramen. Kebetulan, papah juga laper,” ungkapnya sembari mengusap perut yang seidkit buncit, lalu tertawa bersama sang istri. Perlahan, mereka keluar dari kamar. Tampak Hanan masih menghabiskan mie ramen di sana. Sekilas mereka saling menatap satu sama lain, tersenyum. Lantas, menuruni anak tangga dengan langkah pelan. Hanan sepertinya masih belum menyadari kehadiran mereka. “Pah, lihat. Hanan makannya lahap banget, kan?” Maya menoleh pada sang suami, menunjuk dengan dagu ke arah sang putra. Arya mengangguk, membenarkan. Wajah mereka ikut bahagia saat melihat Hanan begitu menikmati makanan yang terbuat dari mie tersebut. Keduanya lekas menghampiri putra mereka. Walau usia Hanan sudah tak seperti anak-anak lagi, tetapi di mata kedua orang tua, anak tetaplah anak. Kedua orang tua pasti akan selalu menginginkan yang terbaik untuk anak mereka. Bisa dibilang, kasih sayang kedua orang tua-terutama ibu-itu sepanjang masa. Tak akan pernah bisa dibeli atau ditukar dengan apapun. Begitu juga dengan keringat sang ayah, yang senantiasa berjuang mencari rupiah demi mencukupi kebutuhan anggota keluarga yang sudah menjadi tanggung jawabnya. Maya menepuk bahu sang putra, sedangkan Arya langsung duduk di samping putra tunggalnya itu. Keduanya mengapit Hanan, tersenyum gembira. “Papah ... Ibu. Kenapa, sih, kok mendadak jadi gini?” Hanan menoleh pada kedua orang tuanya secara bergantian, merasa heran dengan sikap mereka. Pasalnya, tumben sekali kedua orang tuanya mendadak duduk bersama seperti itu. Biasanya sering sibuk dengan urusan masing-masing jika sudah sore seperti ini. Terlebih, sang ayah yang akhir-akhir ini ikut andil kembali di perusahaan, walau itu semua dilakukan di balik layar alias di rumah saja. “Memangnya tidak boleh?” Maya mengangkat alis pada sang suami, lalu tersenyum. Ditanggapi hal yang serupa pula oleh Arya. Hanan menggeleng pelan, menghiraukan kehadiran kedua orang tuanya. Dia kembali menyeruput mie ramen yang terasa nikmat, menghangatkan tenggrokan. Tak mau ketinggalan, Arya juga menyambar satu mangkuk mie ramen yang tersisa. Menyusul Hanan untuk menghabiskannya. Rasa gurih dan air kuah yang hangat, seakan memanjakan tenggorokan di tengah cuaca yang mendukung seperti ini. Maya memperhatikan dua lelaki yang tengah menikmati mie ramen buatanya. Ada rasa haru yang menyusup ke dalam d**a. Sudah lama rasanya, tak menghabiskan waktu bersama keluarga seperti ini. Biasanya, saat sarapan dan makan malam saja sering berkumpul. Itu pun, dalam keheningan. Perbincangan sepatah dua patah kata saja. Setelah itu, kembali pada aktivitas masing-masing. Namun, sekrangan ada pemandangan baru. Tangan Maya terulur mengusap air di sudut mata, embun hampir saja terlihat menggenang di pelupuk jika tak gegas dia hapus. Dua lelaki yang amat berharga baginya. Karena mereka, Maya seperti ratu. Diperlakukan paling istimewa. Dia tidak pernah merasa kekurangan apapun. Walau banyak kalimat yang terdengar ke gendang telinga, bahwa memiliki anak perempuan jauh lebih menyenangkan. Dia tak peduli. Dalam benak memang sempat hadir, tetapi jika Sang Kuasa tidak menghendaki selaku manusia biasa dia bisa apa? Dia cukup bahagia. Diperlakukan bak ratu di rumah ini. Karena hanya dia wanita seorang, sedang dua anggota lainnya merupakan raja dan pangeran. “Han, susul Hana, gih. Kasian. Coba lihat, apa dia sudah bangun atau belum.” Maya hampir lupa, jika kini pangerannya itu sudah mempunyai seorang permaisuri yang cantik jelita. Hanan meletakkan mangkuk yang isinya sudah berpindah ke dalam perut, mengangguk paham. Kemudian, berpamitan pada kedua orang tuanya dan gegas melangkah menuju kamar. Tubuhnya sudah merasa lebih baik setelag dihangatkan dengan makan mie ramen dilengkapi teh melati buatan sang ibunda. Ah, berbicara tentang kasih sayang seorang ibu tidak akan pernah ada habisnya. Hanan gegas memutar knop, membuka pintu perlahan. Khawatir jika Hana merasa terganggu dengan kedatangannya. Namun, ternyata dia salah. Gadis itu sudah terbangun dan duduk bersandar pada dinding ranjang. Hana menyadari kehadiran suaminya, tetapi tak ingin menatap barang sedetik pun. Pandangannya tetap tertuju pada balkon, sedang Hanan tengah menghampirinya dan duduk di tepi ranjang, tepat di depannya. “Bagaimana keadaanmu?” “Baik.” “Sudah makan?” “Udah tadi, siang.” Hanan mengerutkan dahi, ada apa dengan Hana? Kenapa menjawab pertanyaan begitu singkat sekali. “Kakimu masih sakit? Kenapa bisa jatuh, sih?” Hana menoleh, perlahan. Tampak matanya sudah berkaca-kaca menatap sang suami dengan nanar, juga pandangan yang hampir mengabur. “Jangan cengeng, deh. Kamu Cuma kepleset, nggak usah nangis,” ketus Hanan, memalingkan wajah. Terdengar isakan pelan, Hanan menoleh. Tampak air mata sudah membentuk aliran sungai kecil di pipi sang istri. Namun, gadis itu malah memalingkan wajah. “Dari pada kamu ke sini hanya untuk bersikap seperti itu, lebih baik tinggalkan aku sendiri, Mas.” Hana berkata dengan suara yang bergetar, parau, lalu terisak pelan sembari sesenggukan. Hanan bergeming. Kenapa Hana berubah? Apa salahnya? Sejak pertama menikah, gadis itu tak pernah mempermasalahkan sikapnya. Mengapa sekarang mendadak berbicara seperti itu? Apa akibat terpeleset di kamar mandi, lalu kepala Hana terbentur sesuatu sehingga menjadi seperti ini? Hanan menepis angin, membuyarkan pemikirannya yang mulai tidak-tidak tentang Hana. Tidak mungkin efek terpeleset sampai seperti ini. “Kamu tidak dengar, pergi, Mas!” Hana mulai meninggikan suara, lalu menutup wajah dengan kedua tangan. Isaknya semakin keras, pun dengan sesenggukan yang semakin sering. Tak tega, Hanan meraih tubuh gadis itu. Namun, segera ditepis kasar oleh Hana. “Apa kamu tau, aku kecewa, Mas! Kecewa! Kamu nggak pernah ada saat aku butuh! Ke mana kamu, Mas, ke mana? Kamu merasa khawatir saat melihat Sabna sakit, tapi saat aku sakit kamu ke mana?! Nggak ada, Mas!” racau Hana sembari terus berusaha melepaskan pelukan sang suami. Sementara Hanan, semakin mengeratkan pelukan walau Hana terus memberontak. Dia tahu, dia salah. Karena telah membuat gadis itu kecewa. Namun, hatinya tak dapat dibohongi. Dia belum bisa menerima kehadiran Hana sepenuhnya. “Saya tau, saya salah. Maafkan saya, Han. Maaf.” Hanan memeluk Hana dengan erat, gadis itu tak lagi memberontak. Membalas pelukannya dan menangis tersedu-sedu sembari menyandarkan kepala di d**a bidang miliknya. “Hu hu hu ... kamu jahat, Mas!” racau Hana dalam pelukan sambil menangis. Hanan menghela napas panjang, mengapa hatinya juga ikut sakit saat melihat keadaan Hana sekarang? Mengapa rasa iba ini begitu besar? Ataukah sudah berubah menjadi rasa yang semestunya ada dalam sebuah pernikahan?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN