Bunyi nyaring cipratan air yang jatuh ke atap juga tanah, menemani sunyi yang lelaki itu rasakan. Sudah beberapa kali mengetuk pintu dan mengucapkan salam, tetapi kayu yang menjadi obyek sekat antara luar dan dalam rumah itu tak kunjung terbuka. Entah ke mana para penghuninya.
“Assalamu’alaikum, Bu ... Ibu! Pah ... Papah! Bi Leha! Mang Eman! Han ... Hanaaa!” teriak Hanan untuk yang ke sekian kalinya seraya menggedor-gedor pintu. Kesal, tak ada jawaban sama sekali.
Wajah tampan Hanan berubah menjadi pucat, juga bibir yang bergetar menahan hawa dingin amat menusuk pori-pori sampai ke tulang. Apalagi, hujan tampaknya masih enggan untuk berhenti turun.
Tiba-tiba persendian kaki Hanan terasa lemas, membuat tubuhnya luruh dan terduduk di lantai. Kembali mencoba menggesekkan tangan dan mengusapkannya pada lengan, hangat sesaat. Dia melakukannya beberapa kali sembari menunggu pintu terbuka.
Akan tetapi, sudah sepuluh menit berlalu dia menunggu di depan pintu. Namun, tak kunjung ada yang membukakanya. Membuat Hanan meringkuk, memeluk lutut dalam rinai derasnya hujan.
Pasrah, Hanan sudah tak kuasa lagi untuk mengetuk pintu atau mengeluarkan suara. Tubuhnya terasa beku, bibirnya terus bergetar, menggigil merasakan hawa dingin.
Pria itu menunduk, menenggelamkan wajah sambil memeluk lutut. Menempelkan dahi dibatas pergelangan tangan, mengatur napas agar tetap dalam kondisi baik-baik saja.
Terdengar pintu terbuka, tetapi dia tak kuasa untuk mendongak. Namun, karena sudah tubuhnya sudah tidak kuat menahan hawa dingin, akhirnya memaksakan diri untuk mengangkat kepala.
“Hanan!” pekik Maya, melihat putranya sudah meringkuk dengan mata memerah, dan wajah pucat.
Wanita itu segera berlutut, menghampiri putranya yang sudah pias dan lemas. Membantu Hanan untuk berdiri, memapahnya untuk masuk ke dalam.
“Yaa Allah, Hanan. Kamu ini kenapa hujan-hujanan, sih? Kan bisa neduh dulu. Lagi pula, kenapa malah duduk di depan pintu, bukannya panggil orang rumah,” omel Maya setelah membantu Hanan duduk di sofa.
“Aku sudah panggil puluhan kali, gedor-gedor pintu juga. Nggak ada jawaban,” ujar Hanan dengan suara lemah, berusaha membela diri.
“Ibu tidak dengar sama sekali. Mungkin karena hujan yang begitu deras, jadi suara kamu terbawa angin,” sahut Maya dengan membawa handuk, menggosok rambut putranya agar segera kering.
“Hana bagaimana, Bu? Kenapa bisa jatuh?” tanya Hanan, mendongak menatap sang ibunda. Rasa khawatirnya tak lagi dapat ditahan.
“Hana sedang istirahat. Kamu mandi, gih. Mandi air hangat, nyalakan showernya. Setelah itu, baru istirahat.”
“Iya, Bu.” Hanan berdiri, melangkah dengan gontai. Masih terasa lemas, tetapi tidak terlalu seperti tadi.
Maya menatap punggung putranya dengan nanar. Kasian, tak tega melihat Hanan menjadi lemah seperti itu. Lebih baik dia buatkan teh dan camilan untuk Hanan.
Walau menjadi istri dari pengusaha besar, tak serta merta membuat Maya menjadi wanita yang malas. Karena pada dasarnya, hakikat wanita itu di dapur. Melayani suami dengan baik, menyiapkan makanan yang bergizi untuk buah hati.
Tak hanya itu, baik berstatus ibu rumah tangga atau pun menjadi wanita karier, wanita tetap diwajibkan untuk bisa memasak dan mengerjakan pekerjaan rumah.
Seperti kata pepatah, roda kehidupan itu berputar. Kadang di bawah dan kadang di atas. Tidak ada yang bisa menjamin dua tahun ke depan tetap berlimpah harta. Jangankan dua tahun, untuk satu jam ke depan saja tidak ada yang menjamin akan terjadi apa pada diri seseorang.
Sebagai manusia biasa, Maya mengingatkan diri sendiri agar tidak menggantungkan hidup pada uang. Sebab, uang ada kalanya habis dan kesehatan ada kalanya sakit.
Semua itu harus dipersiapkan. Jika uang habis dan tidak bisa lagi menggaji asisten rumah tangga, bagaimana rumah akan terawat dan suami betah membersamai?
Maya pikir, jika dia bisa mengerjakan pekerjaan rumah dan memasak, jika suatu hari nanti tak mampu menggaji asisten rumah tangga lagi atau saat Bi Leha pulang kampung, dia tidak perlu khawatir siapa yang akan memasak untuk suami dan anaknya. Tidak perlu cemas siapa yang akan merapikan rumah. Dia sendiri yang akan melakukan itu semua. Karena tidak mungkin, bukan, memperkejakan orang tanpa upah?
Maya menghela napas pelan, mengusap peluh yang membasahi pelipis. Padahal, hanya membuat lapis ketan. Namun, keringat sudah membasahi punggung saja walau di luar sana, hujan masih turun.
Selain lapis, dua juga membuat mie ramen kesukaan Hanan. Dilengkapi teh melati yang pasti membuat putranya itu suka. Karena seorang ibu tahu persis, apa yang menjadi kesukaan buah hatinya sendiri.
Sejak kecil, Hanan memang begitu menyukai lapis ketan. Setiap kali idul fitri menyapa, camilan kue basah itu pasti wajib ada di meja. Membuat berapa loyang pun, ujungnya akan habis oleh Hanan.
“Alhamdulillah ...,” gumamnya, pelan. Melihat lapis yang sudah selesai dibuat. Terakhir, kue basah itu dia masukan ke lemari pendingin agar cepat mengeras dan esok, bisa dimakan.
Lantas, Maya menyambar nampan hitam persegi yang menggantung di samping rak, lalu meletakkan dua mangkuk ramen di atasnya. Tak lupa, satu teko kecil teh melati, serta dua gelas juga melengkapi.
Melangkah dengan hati-hati, tampaknya semua orang sudah kembali ke dalam kamar. Tak ada suara sama sekali. Terlebih, hujan membuat siapa pun pasti enggan beranjak dari atas kasur. Bi Leha dan Mang Eman juga sudah tidak terlihat.
“Hanan, kok, tidur di sini?” Maya yang awalnya berniat mengantarkan ramen ke kamar untuk suami dan putranya, berhenti di ruang keluarga saat melihat Hanan berbaring di salah satu sofa panjang dengan selimut menutupi seluruh tubuh sampai ke dagu.
Hanan membuka mata, menoleh. “Eh, Ibu. Anu ... Hana kelihatannya lelah sekali. Aku nggak mau ganggu. Jadi tidur di sini. Lagi pula, lebih nyaman di sini,” tuturnya sembari menyingkap selimut dan duduk bersila di atas sofa.
Maya tersenyum. Dia tahu itu hanya alasan. Mana ada lebih nyaman di ruang keluarga dari pada di kamar sendiri, mengingat hujan turun dengan lebat dan membuat hawa terasa begitu dingin. Jelas, kasur menjadi tempat yang paling nyaman dan hangat untuk saat ini.
“Ya sudah, makan gih. Ibu buatkan ramen kesukaan kamu.” Maya meletakkan nampan itu di atas meja, tepat di depan Hanan. “Oh, ya. Ibu buat lapis ketan kesukaan kamu. Besok, Ibu siapkan untuk bekal kamu di kantor, ya?”
Hanan mengangguk, “Makasih, Bu.” Tangannya langsung menyambar ramen buatan sang ibunda.
“Sebentar, ibu panggilkan Papah dulu. Kamu makan yang banyak, ya,” ujar Maya, mengusap punggung Hanan dan diangguki putranya itu.
Lantas, wanita memakai rok hitam selutut dan baju tosca berlengan panjang itu melangkah menuju kamar. Membiarkan sang putra menikmati ramen buatanya.
Sebelum memasuki kamar, sejenak Maya bergeming, menatap ke bawah. Tampak Hanan begitu lahap memakan ramen itu. Dia senang, Hanan akhirnya bisa memakan makanan itu lagi setelah sekian lama sering menolaknya karena berhubungan dengan masa lalu.