Kecewa Pertama

1161 Kata
Sementara Maya, memperhatikan gerakan menantunya. Menunggu ada respons dari sang putra. Ke mana anak itu? Awas saja jika malah mengecewakan Hana kembali. “Nomor yang Anda tuju, sedang tidak aktif atau sedang berada di luar jangkauan!” Suara operator yang menjawab panggilan Hana dari seberang sana, membuat gadis itu menghela napas pelan. Berbeda dengan Maya, wanita itu justru mendengkus kesal. “Tunggu di sini, Nak. Jangan pikirkan apapun, ya. Ibu ke luar dulu. Istirahat saja di sini,” ucapnya kemudian langsung diangguki Hana, lalu beranjak dari kasur dan melangkah ke luar. Meninggalkan Hana seorang diri dengan perasaan kesal yang sudah bercokol dalam d**a. “Mas ... apa gadis itu lebih penting untukmu, dari pada istrimu sendiri?” gumam Hana, bertanya pada angin. Embun menetes dari pelupuknya dengan pelan, hangat. Cairan itu menjadi saksi rasa sakit hatinya. Kecewa sudah kali ini. Hanan benar-benar keterlaluan. Selama menikah dengan Hanan, belum pernah lelaki itu memperlakukannya dengan manis. Kecuali, saat insiden di restoran itu. Itu pun, hanya sebatas khawatir karena Hana terluka. Beberapa kali cairan asin itu mengalir deras di pipi mulusnya. Tangan Hana segera terulur menghapus jejak itu dengan pelan. Menatap ke arah balkon dengan kepala bersandar pada dinding ranjang. Tampak cuaca di luar tidak begitu baik, langit seakan siap untuk mewakili tangisnya. Di sisi lain, mata lelaki itu terbuka secara perlahan. Kemudian, duduk secepat kilat saat menyadari ruangan yang pertama kali dia lihat begitu asing. Dia mengedarkan pandangan, rumah siapa ini? “Han, lo udah bangun?” Sabna menyembul dari kamar. Membuat Hanan sontak menyadari, kalau dia masih berada di rumah gadis itu. “Lo tadi ketiduran pas lagi main ponsel, gue nggak tega buat bangunin lo.” Belum sempat Hanan bersuara, mempertanyakan apa yang dia pikirkan, tetapi gadis itu sudah menjawabnya terlebih dahulu. Dia mengangguk, ber-oh ria. Dia juga tidak tahu, mengapa tadi terasa begitu berat matanya. Kantuk yang tak dapat dia tahan sama sekali. Dan akhirnya, tertidur di sofa dengan ponsel yang masih dalam genggaman karena tadi tengah mengecek email dari beberapa client. Hanan terbelalak saat melihat jarum jam menunjukkan pukul lima sore hari. Apa dia selama itu tidur? Kenapa bisa? “Itu jam betul?” Tunjuk Hanan pada dinding yang terdapat jam bebentuk persegi klasik di sana. Sabna mengikuti arah telunjuk Hanan, mengangguk. Membenarkan pertanyaan lelaki itu. “Iya, bener.” Tiba-tiba dering ponsel membuat fokus mereka teralih pada benda pipih itu. Hanan langsung menyambar ponselnya, melihat siapa yang menghubunginya. Tertera nama sang ibunda di sana. Sekilas dia menatap Sabna, lalu mengangkat panggilan itu sambil berdiri. “Iya, Bu?” “Hanan! Kamu ini benar-benar keterlaluan. Di mana kamu sekarang? Pulang, Nak! Hana terpeleset di kamar mandi, cepat pulang!” papar wanita berusia hampir setengah abad itu di seberang sana. Hanan terkesiap. “Apa, Bu? Iya, aku segera pulang!” Telepon langsung terputus, Hanan menyambar jasnya, memakainya dengan terburu-buru. Kemudian, memasukan benda pipih itu lagi ke dalam saku jas. Melangkah pergi tanpa sepatah kata. Melihat itu, Sabna kalap. Mencari akal untuk mempertahankan Hanan agar lelaki itu tidak pergi meninggalkannya. “Awww ... sakit,” ringisnya, melirik Hanan yang semakin menjauh dan menghilang dari pandangan. Percuma, usahanya sia-sia untuk menarik perhatian Hanan. Lelaki itu tetap pergi meninggalkannya. Bahkan tanpa berpamitan sekalipun. “Sial! Keterlaluan mereka. Berani mengusik ketenanganku, arrghhh!” gerutu Sabna dengan amarah yang menggebu-gebu sembari melempar gelas ke lantai sampai berserakan di lantai. Mata belo milik gadis itu menjadi tajam, menatap nanar pecahan beling yang ada di bawah kakinya. Kemudian, bangkit dan mendorong kursi roda ke belakang. Membanting teko ke lantai juga sehingga menimbulkan bunyi yang amat nyaring. Sementara itu, Hanan tengah berlari menyusuri jalanan. Namun, tak kunjung dia temukan kendaraan yang bisa mengantarkannya pulang. Terlebih, air dari langit mulai mengguyur secara perlahan. Sebentar lagi pasti hujan akan semakin deras. Dia harus bagaimana? “Argh! Kenapa aku bisa ketiduran, sih!” kesal Hanan sambil meninju angin. Padahal, dia sudah sampai di ujung komplek dekat jalan raya, tetapi tetap saja tidak ada tanda-tanda ojek, taksi, atau angkutan umum lainnya yang bisa membawanya pulang ke rumah. Hujan semakin terasa sering. Tak lama, berubah menjadi lebat. Membuat Hanan mau tak mau harus berlari mencari tempat berlindung. Ditambah rasa khawatir dengan keadaan sang istri. Berbagai pertanyaan mulai timbul dalam d**a. Mengapa dia bisa tidur selama itu? Menagapa Hana bisa jatuh di kamar mandi? Setahunya, Bi Leha setiap hari membersihkan kamar mandi. Seharusnya tidak ada alasan untuk membuat Hana jatuh. “Sial, hujan semakin deras lagi!” rutuknya dengan napas tersengal-sengal, menatap hujan yang mengguyur bumi dengan begitu keras. Akhirnya, dia bisa mendapatkan tempat untuk berteduh walau di trotoar yang sepi. Tak apalah, dari pada tidak sama sekali yang membuat pakaiannya akan menjadi basah kuyup. Berada di luar rumah dengan cuaca yang ekstrem seperti ini, membuat tubuh terasa begitu menggigil. Hawa dingin menusuk kulit sampai ke tulang. Hanan terjaga saat melihat sebuah taksi dari arah kejauhan, dia segera menerobos hujan dan berdiri di tepi jalan. Melambaikan tangan, menghentikan taksi itu. “Pak, antar saya pulang,” ujar Hanan setelah mobil putih itu berhenti dan sang sopir membuka jendela. “Oh, iya, Mas. Silakan masuk masuk.” Hanan mengangguk, membuka pintu dan lekas masuk ke dalam mobil. Menghela napas lega setelah mobil berjalan. Akhirnya, dia bisa pulang dan terhindar dari hujan serta dinginnya udara. Bersyukur dalam hati, karena Tuhan masih berbaik hati padanya. Mengirimkan taksi di saat-saat terakhir dia hampir menyerah dengan keadaan. Napasnya tak beraturan, setelah tadi berlari dari rumah Sabna ke jalan utama. Kemudian ditambah kejar-kejaran dengan hujan. Sesaat menarik napas panjang, lalu mengembuskannya secara perlahan. Bersandar pada kursi yang terasa hangat. Jendela dia tutup rapat agar cuaca dingin tak lagi menyapa kulitnya. Hangat terasa, walau pakaian dan seluruh tubuh masih basah. Namun, tak apa. Itu sudah lebih baik dari pada tadi terus-terusan terguyur hujan. Jarak yang cukup jauh, ditambah hujan yang terus mengguyur, membuat perjalanan terasa semakin lama. Hanan menggosok-gosok tangannya, meniupnya beberapa kali. Kemudian, mengusap lengan dengan cepat. Berharap mendapatkan kehangatan. Beberapa kali dia melakukan itu, karena hawa dingin yang terus menusuk. Mungkin karena pakaian yang masih basah, membuat kulit kembali merasakan hawa dingin. “Di depan berhenti ya, Pak.” “Siap, Mas.” Sesuai permintaan, mobil berhenti tepat di depan gerbang rumah berlantai dua. Hanan segera membayar ongkos, menyerahkan beberapa lembar uang merah. “Maaf, Pak. Uangnya sedikit basah,” ujarnya sembari menyerahkan lembaran itu. “Iya, Mas. Nggak papa.” Sang sopi menerimanya dengan senang hati. “Eh, Mas! Ini uangnya lebih dua ratus ribu,” paparnya saat menghitung jumlah uang yang diberikan. Hanan yang tengah membuka pintu, tersenyum. Kemudian, ke luar. “Nggak papa, Pak. Itu tanda terima kasih saya, karena Bapak sudah datang di saat saya membutuhkan,” tuturnya seraya menyembul di jendela setelah menutup pintu. “Terima kasih, Mas!” ucap sang sopir dengan senyum mengembang. Hanan mengangguk, lalu berlari menerobos hujan kembali menuju rumah. Beruntung gerbang tidak dikunci Mang Eman. Jika tidak, dia terjebak lagi pasti. “Huhuhu ....” Hanan menggigil kedinginan, menatap pintu sesaat sebelum akhirnya melayangkan tiga ketukan. “Assalamu’alaikum!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN