Maya menunduk, menghela napas panjang. Mengangguk seraya menoleh pada sang menantu. “Iya. Banyak perubahan pada Hanan sejak Sabna pergi.”
Suasana seketika berubah menjadi hening. Hana bergeming, memikirkan tentang suaminya. Banyak sekali kisah di masa lalu lelaki itu yang belum dia ketahui sama sekali. Mengapa Hanan tidak mengatakan apapun padanya?
“Sejak saat itu ... Hanan menjadi pribadi yang dingin, tegas, irit sekali dalam berbicara. Dia sangat kehilangan Sabna. Pasalnya, gadis itu yang setiap hari dalam tiga tahun mengarungi masa SMP menemani Hanan. Suka dan duka sering mereka lewati. Kesulitan ujian, belajar, semuanya dilakukan bersama.
“Bukan karena rasa, melainkan Hanan sudah menganggap Sabna seperti adik kandung sendiri. Entah apa alasan gadis itu pergi begitu saja. Ibu sampai kesal, karena Hanan menjadi berubah akibat ulahnya.”
Hana menoleh, menatap sang ibu mertua yang sepertinya memang tengah benar-benar kesal. Dari rautnya saja sudah terlihat jelas.
“Makannya, ibu kesal tadi. Bisa-bisanya dia kembali di saat Hanan sudah mulai menemukan kebahagiaan. Ibu tidak akan membiarkan gadis itu enak-enakan mempermainkan Hanan lagi. Tidak akan,” ungkap Maya bergebu-gebu. Berjanji pada sendiri, kejadian di masa lalu pada putranya, tidak akan pernah terulang lagi di masa depan.
“Aku tau, Bu. Tapi, kita juga tidak berhak menghakimi, bukan? Mungkin saja ... Sabna dan keluarganya sedang ada dalam posisi yang sangat mendesak, mengharuskan mereka untuk pergi tanpa berpamitan terlebih dahulu, kan?”
“Jika memang begitu, ibu bisa maklumi. Tapi, sampai hampir delapan tahun dia tidak pernah mengabari Hanan. Apa tidak ada waktu sedikit pun untuk mengabari barang lewat pesan singkat saja?”
Hana bergeming. Benar juga. Namun, tetap saja. Selaku manusia tidak ada yang berhak menghakimi manusia lain. Semuanya sudah menjadi ketetapan, dan dibalik semua kejadian pasti selalu ada hikmahnya.
“Untung saja, ada Si—“
“Ibu!”
Hana dan Maya menoleh ke sumber suara, tampak lelaki memakai kaus oblong hitam sudah berdiri di tangga ketiga. Menatap mereka dengan lekat, lalu melangkah menghampiri dua wanita itu.
“Eh, Pah.” Hana tersenyum, menyambut kehadiran sang ayah mertua. Tumben sekali ayahnya itu ikut bergabung.
Arya membalas senyuman menantunya, lalu menatap sang istri dengan dalam. “Bu, makanan sudah siap?”
“Sebentar, ibu cek dulu, ya. Tadi katanya Bi Leha lagi buat bubur dulu untuk Hana.”
Maya segera beranjak dari tempat duduk setelah mendapat anggukan dari sang suami. Sementara Hana, kembali menonton tayangan di televisi. Tayangan kartun kucing biru yang berasal dari Jepang.
Dia memang sangat suka menonton kartun. Menurutnya, lebih baik menonton kartun dari pada menonton serial film yang tidak berfaedah. Hanya membuang emosi saja, melihat adegan istri yang dilukai, suami yang mengkhianati, merebutkan harta gono gini, memperdebatkan hak asuh anak sampai ke dewan hakim negri ini.
Ngeri sekali jika dibayangkan. Mengingat masih banyak remaja yang belum paham dengan maksud tujuan film seperti itu. Setiap karakter manusia itu berbeda-beda. Ada yang mudah melupakan dan sulit. Ada yang mudah baperan dan bodo amatan.
Bagaimana jika ada seorang gadis setelah menonton film tersebut menjadi phobia untuk menikah? Karena berpikir bahwa semua lelaki di dunia ini sama. Hanya akan menyakitinya dan memperlakukannya buruk.
Memang benar, jika dikembalikan pada penonton, pilihlah tayangan dengan bijak. Namun, pernahkah berpikir bahwa bagian dari penayang juga harus bijak dalam menyeleksi tayangan apa saja yang akan disajikan?
Jawabannya, tidak.
“Han, papah juga mau ke dapur, ya, haus. Sekalian susul ibumu. Nggak papa, sendiri?”
Hana mengangguk, tersenyum. “Nggak papa, Pah.” Matanya mengiringi kepergian sang ayah mertua, membiarkan lelaki itu untuk pergi, meninggalkannya kembali seorang diri bersama tayangan televisi.
Arya menghela napas sepanjang langkah, tampak istrinya tengah berbicara dengan asisten rumah tangga mereka.
“Bu, sini!” pintanya dari ambang pintu dan langsung diangguki sang istri. Mereka melangkah ke arsh ruang makan, meninggalkan Bi Leha yang masih berkutat di dapur dengan bubur yang asapnya masih mengepul.
“Ada apa, Pah? Ada yang Papah inginkan?” tanya Maya, heran. Tumben sekali suaminya itu memanggilnya tiba-tiba.
“Ibu! Jangan keraz-keras, suaranya,” peringat Arya, hampir berbisik.
Maya mengerutkan dahi, bingung. Kemudian, menoleh ke sana kemari, tidak ada apa-apa. “Memangnya kenapa, Pah?”
“Bu, jangan dulu kasih tau Hana perihal masa lalu anak kita, Hanan. Belum saatnya. Kita tunggu waktu yang tepat. Ibu tadi hampir saja mengatakan segalanya kalau papah tidak segera memotong pembicaraan kalian!” papar Arya, mengingatkan istrinya untuk berhati-hati.
Beruntung, tadi dia benar-benar merasa haus saat tengah mengerjakan proyek. Melihat dan mendengar istirnya hampir saja membuka hubungan masa lalu dengan Hanan, dia segera memotong pembicaraan mereka.
Maya terkejut, menutup mulut. Benar, hampir saja, untung suaminya mengingatkan. “Maaf, Pah. Tadi ibu terbawa emosi karena bercerita perihal Sabna.”
“Iya, sudah, lupakan. Lain kali hati-hati.”
Maya mengangguk. Obrolan mereka tak ada yang tahu, karena suara yang sengaja direndahkan. Kemudian, Arya pergi terlebih dahulu, mengambil segelas air putih dan lekas kembali ke kamar. Sementara Maya, menyiapkan makanan untuk menantu dan suaminya. Hampir saja, pikirnya.
Jarum jam sudah menunjukan pukul tiga sore hari. Namun, tidak ada tanda-tanda Hanan akan kembali. Padahal, sudah sepuluh menit lalu Hana selesai menghabiskan bubur yang dibuat Bi Leha. Ke mana lelaki itu?
“Han ....”
“Eh, Ibu.” Hana tersenyum, menoleh ke belakang. Lamunanya terbuyar saat mendengar panggilan itu.
“Kamu kok, belum istirahat, hum?” Maya menghampiri sang menantu, duduk di tepi ranjang.
“Sudah tadi, Bu. Bangun pas azan Zuhur.” Hana tersenyum, mengatakan apa adanya.
Entah ke mana perginya Hanan. Sudah lewat setengah hari, belum juga kembali. Sampai dia harus dipapah Maya dan Bi Leha saat menuju kamar ini.
Memang Arya dan Mang Eman sempat memberikan tawaran untuk dibopong saja. Namun, dia merasa tidak enak hati. Terlebih, mereka sudah berumur, pasti merasa berat jika harus membopong tubuhnya. Jadi, lebih baik dipapah saja.
Hasilnya, setelah menaiki puluhan anak tangga, membuat badan terasa sakit semua. Kondisinya semakin lemah. Mungkin kelelahan juga. Akibatnya, dia harus tidur dari pukul sembilan pagi sampai waktu Zuhur tadi.
“Syukurlah. Kamu mau makan lagi?” tanya Maya, Hana menggeleng pelan. Jangan lupakan senyum manisnya yang setia terpatri menghiasi wajah. “Bosan, ya?”
Hana tersenyum kembali. Bergeming. Benar, dia merasa jenuh sekali.
“Hanan tidak ada kabar sama sekali?”
“Enggak ada, Bu.” Hana menunduk lesu. Mengingat lelaki itu sudah berjanji akan pulang saat jam makan siang. Namun, sampai hampir memasuki waktu Asar saja, belum terlihat batang hidungnya.
Sementara Maya, mendengkus kesal. “Anak itu, benar-benar keterlaluan. Coba kamu telpon, Han. Tanyakan di mana dia sekarang atau ibu yang bicara langsung.”
Gadis bermata bening itu mendongak, lalu mengangguk paham. Kemudian, mengambil benda pipih yang terletak di atas nakas. Menekan tombol power. Jari jemarinya mulai lincah menari di atas papan keyboard, menuliskan satu kontak atas nama sang suami.
Sambungan terhubung setelah menekan tombol panggilan. Terdengar sambungan panggilan terputus, dia mencobanya kembali. Mengulang untuk menghubungi sang suami.