Kisah Mereka

1138 Kata
Mata bening gadis itu berbinar seiring senyum yang terus merekah menghiasi wajah. Pasalnya, dua hari berada di rumah sakit, ditemani aroma obat-obatan dan jarum infus, membuat dia merasa jenuh akan suasana. Namun, tidak lagi. Semuanya sudah kembali normal. Dalam pandangannya, kini sudah terpampang jelas rumah mewah berhiaskan bungah-bunga di halaman. Menyambut kepulangannya pagi ini. Senyuman tersirat di setiap orang yang ada di sana, baik yang menjemput atau yang menyambut kedatangan gadis bergamis cream tersebut. Betapa tidak bahagianya mereka, setelah kemarin sempat digemparkan dengan berita buruk dari gadis itu. Perlahan, pintu mobil terbuka lebar oleh sang sopir. Hana tersenyum, lalu dipapah oleh ibu dan ayah mertuanya menuju kursi roda. Setelah itu, didorong oleh Maya untuk masuk ke dalam rumah dengan senyum yang mengembang di wajah. Tak bisa dipungkiri, euforia bahagia tengah ada di antara mereka. Bersyukur pada Sang Kuasa karena telah memberikan kesembuhan pada menantu keluarga rumah itu. Saking bahagianya, Maya bahkan akan membuat acara syukuran di rumahnya, mengundang para tetangga sebagai bentuk syukur atas kesembuhan menantunya, Hana. “Ayok, Nak. Kita masuk. Kamu pasti sudah rindu, ya, dengan rumah ini?” Maya sedikit menunduk agar bisa melihat ekspresi menantunya. Hana mengangguk, tersenyum manis dan tipis, hampir tak terlihat. “Iya, Bu. Sangat rindu.” Tak hentinya senyum itu terpatri, mengiringi setiap langkah sampai masuk ke dalam rumah. Sebuah tempat yang akan menjadi saksi bisu hiruk biduknya rumah tangga mereka. Suka dan duka yang kelak, akan dilewati bersama. “Bi Leha, makanan sudah siap?” tanya Maya, menatap asisten rumah tangganya itu. Merasa disebut, Bi Leha yang sejak tadi memperhatikan kedatangan Hana dengan gembira, mengangguk dengan cepat. “Sudah, Nyonya. Sebentar, Bibi siapkan di meja makan dulu, ya.” Maya mengangguk, membiarkan asisten rumah tangga itu pergi ke dapur. Kemudian, meminta Mang Eman-sang sopir rumah untuk meletakkan barang-barang di kamar Hana. “Kamu mau apa, Sayang? Mau makan atau mau istirahat dulu?” “Nggak, Bu. Aku mau nonton tivi saja. Lagi pula, kalau harus ke atas, nggak ada yang gendong, kan? Mas Hanan juga belum pulang.” “Iya juga, sih. Ya sudah, ayok, ibu temani nonton tivi.” Hana mengangguk seraya tersenyum, membiarkan sang ibu mertua untuk mendorong kursi roda yang dia tumpangi. Mereka berhenti tepat di sofa ruang keluarga. Sementara Arya, sudah lebih dulu ke ruang kerja. Apa lagi pekerjaan laki-laki selain mencari nafkah? Tidak ada. Hanya sebagian kecil dari mereka yang mau membantu pekerjaan rumah tangga. Pun, tak sedikit pula yang malah berleha-leha seolah tidak mempunyai beban yang harus di pertanggung jawabkan. Menikah memang ikatan yang sakral dan indah, tetapi bukan hanya menyatukan dua manusia saja. Melainkan menyatukan dua keluarga, dua prinsif, dua kepala, dan dua hati. Dua kebiasaan, dua pendapat, dan dua kepribadian. Semua itu tak akan pernah bersatu jika tetap ada ego di antara suami dan istri. Namun, di samping itu menjalankan peran masing-masing dengan sungguh-sungguh merupakan suatu kewajiban dan menjadi salah satu kebajikan. Banyak yang terlena dengan gemerlap duniawi. Banyak istri yang bekerja dan suami leha-leha. Padahal, jika ditilik dari sisi peran masing-masing itu tidaklah benar. Kecuali, ada hal yang membuat suami tak bisa bekerja. Di samping itu pula, banyak masih belum paham dengan peran yang sesungguhnya. Banyak yang beranggapan bahwa pekerjaan rumah tangga menjadi kewajiban seorang istri. Padahal, sejatinya itu pekerjaan suami. Kewajiban suami untuk memberikan nafkah sandang dan pangan, lahir dan batin. Namun, karena seorang istri menginginkan ridho suami, maka pekerjaan rumah tangga dikerjakannya sebagai bentuk melayani suami mereka. Tak sedikit pula yang malah berpikir bahwa, menikah adalah salah satu cara paling efektif agar ada yang melayani. Seperti menyiapkan air hangat untuk mandi, sarapan, mencuci baju, menyetrika dan lain sebagainya. Boleh dipertanyakan pemikiran seperti itu. Antara tengah mencari istri atau pembantu. Jika memang mencari istri, maka perlakukan secara baik. Jika seorang suami adalah raja, maka seorang istri adalah ratu. Dan ratu, harus dilayani dengan baik. Bukan melayani sampai tidak memiliki waktu untuk mengurus diri sendiri. “Han, menurutmu, Sabna itu seperti apa?” Maya mendadak bersuara, memecah hening yang sejak tadi hanya suara para tokoh di televisi. Hana menoleh, tersenyum. “Dia gadis yang baik. Tapi, kasian, seorang diri. Memangnya Sabna dan Mas Hanan dulu sahabatan begitu lama ya, Bu?” Merasa penasaran, karena yang Hana lihat, Hanan begitu peduli dengan gadis itu. Siapa, sih, istri yang tidak merasa cemburu jika melihat suaminya lebih perhatian pada wanita lain, dari pada dirimu sendiri? Akan tetapi, Hana tak ingin menunjukan itu semua. Dia paham, Sabna lebih membutuhkan Hanan dari pada dia. Jadi, lebih baik dia pulang bersama kedua mertuanya. Tak bisa berbohong, semua itu cukup membuatnya merasa sakit. Namun, tak bisa juga memaksa Hanan untuk terus ada bersamanya, bukan? Lagi pula, mereka hanya dua sahabat yang baru saja dipertemukan kembali. Maya menatap lurus ke arah televisi, menerawang insiden di masa lalu. Delapan tahun lalu lebih tepatnya. Kemudian, menoleh sesaat pada Hana sebelum akhirnya bersuara dengan tatapan lurus ke depan. “Dulu ... saat masa Sekolah Menengah Pertama, iya, mereka bersahabat. Bisa dibilang, seperti sepasang kekasih remaja. Namun, mereka hanya sekadar bersahabat saja. Hanan sering sekali belajar bersama dengan gadis itu. Kadang, saking senangnya belajar sampai lupa waktu. “Hanan yang notabenya putra tunggal, sering merasa kesepian. Terlebih, Hanan bukan tipikal orang yang mudah bergaul. Dia sering bercerita, jika di sekolah dia hanya dimanfaatkan saja. Dia tak begitu suka dengan teman-teman laki-lakinya. “Jadi, bukan karena cinta Hanan bersahabat dengan gadis itu. Melainkan karena Sabna satu-satunya gadis yang mau menerima Hanan apa adanya, tanpa memanfaatkan kepintaran dan kekayaan Hanan. “Persahabatan mereka terjalin begitu lama. Setiap jam istirahat, setiap pulang sekolah, pasti belajar dan bermain bersama. Mereka memang menjadi salah satu siswa berprestasi di sekolah. Sering mendapatkan juara. Bahkan, diberi gelar King dan Queen.” “Terus, kenapa pas aku dan Mas Hanan menikah, Sabna tidak datang, Bu?” Hana yang sejak tadi mendengarkan cerita sang ibu mertua, mendadak timbul pertanyaan itu dalam benaknya. Karena biasanya, seorang sahabat pasti akan selalu ada di kala suka atau pun duka. Apalagi, saat hari istimewa seperti itu, pasti hadir, bukan? Ikut memeriahkan dan mensakralkan momen bahagia tersebut. “Tidak, Nak. Sabna pergi sekian lama dan ... ibu juga baru tau kalau gadis itu ternyata sudah kembali ke sini.” “Hah, pergi? Pergi ke mana, Bu?” Hana semakin dibuat penasaran dengan latar belakang gadis itu. Kenapa bisa pergi? “Dulu ... Sabna dan Hanan sama-sama sangat suka belajar. Sebelumnya, tidak pernah ada kejadian apapun. Baik dari pihak kedua orang tua Sabna atau Sabna sendiri tidak pernah mengatakan apapun. “Namun, mendadak mereka pergi begitu saja. Tanpa pamitan, tanpa sepatah kata. Mereka pergi saat semua orang belum bangun.” Maya menghela napas pelan, mengingat kejadian itu membuat d**a terasa sesak. “Ibu tidak mempermasalahkan kepergian mereka. Tapi ... sejak hari itu, banyak perubahan dalam diri Hanan.” Mendengar kata perubahan, membuat Hana terkejut dan menoleh pada sang ibu mertua. “Kok, gitu. Maksudnya perubahan, Bu?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN