Lantas, dia membuka pintu lebar-lebar. Menggendong Sabna dan ke luar dengan hati-hati. Mengucapkan terima kasih, lalu melangkah ke arah rumah sederhana tetapi elit itu.
Dengan hati-hati dia mendudukkan tubuh Sabna di atas kursi setelah sampai di teras rumah. Beruntung rumah ini ada sofa di luar. Jika tidak, dia tidak tahu harus berbuat apa.
Mata Hanan mengedar, rumah ini terlihat kecil, tetapi saat sudah dekat terlihat mewah sekali. Sembari menunggu Sabna bangun, dia ikut duduk di seberang tempat duduk gadis itu, hanya terhalang oleh satu meja saja.
Mobil yang semula mereka tumpangi, sudah pergi meninggalkan mereka berdua. Membiarkan hanya embusan angin yang menemani.
Merasa jenuh, Hanan berdiri, mondar mandir ke sana kemari. Sabna belum juga bangun sejak tadi, padahal mereka sudah sampai sepuluh menit yang lalu. Kapan gadis itu bangun? Dia bisa terlambat pulang ke rumah jika seperti ini.
Saat melewati tubuh Sabna hendak berjalan-jalan mencari angin, mendadak tangan Hanan ada yang memegang. Membuat lelaki itu langsung menoleh ke samping.
Sabna sudah bangun, gadis itu tersenyum merekah. Menatap Hanan dengan dalam. Namun, tidak dengan Hanan, dia justru memalingkan wajah.
“Kamu sudah bangun?”
“Dari tadi,” jawab Sabna dengan enteng, tanpa merasa bersalah.
Hanan berdesis sembari membuang pandangan. Marah pun tak bisa. Akhirnya, hanya helaan napas kasar yang keluar dari mulutnya.
“Kamu sudah sampai dengan selamat, itu kursi roda kamu. Saya mau pulang!” ujar Hanan menunjuk pada kursi hitam dengan dua roda besar dan dua roda kecil, berada di depan pintu.
“Gue nggak butuh kursi roda, gue butuhnya ....” Sabna mendekat ke arah Hanan, tersenyum manis. “Lo,” lanjutnya sambil menempelkan kepala di pundak Hanan, bergelayut manja pada lengan lelaki itu.
Hanan terkejut, menatap Sabna lekat. “Lepas, saya sudah punya istri.”
Sabna mengempaskan lengan Hanan sembari berdecak kesal. Merajuk, duduk di kursi kembali dan mengyilangkan tangan di d**a.
“Aduh, duh, duh ... awww ...,” ringisnya sambil memegang kepala, membuat Hanan langsung berjongkok.
“Sab, nggak papa, kan?”
Sabna bergeming, menunduk dalam. “Aww ... sakit kepala gue, Han. Lo ... lo jangan pergi, ya. Temenin gue sebentar aja, sampai rasa sakitnya ilang. Nggak papa, kan? Gue tinggal sendiri di sini.”
“Mamah sama Papah ke mana?” Hanan celingukan, tangannya menggenggam tangan kanan gadis itu.
“Mamah sama Papah ... udah nggak ada. Mereka kecelakaan pesawat pas mau ke Jerman.” Sabna meringis kembali, lalu melirik sesaat pada Hanan. Tampak lelaki itu menampilkan raut yang cemas sekali.
“Oke, oke. Saya akan temenin kamu di sini, sebentar. Ayok, saya antar pakai kursi roda.” Hanan berdiri setelah Sabna mengangguk, menyetujui ucapannya.
Lantas, gegas dia menarik kursi roda dan membawanya ke hadapan Sabna. Membantu gadis itu untuk duduk dan mendorongnya masuk ke dalam rumah setelah Sabna membuka kunci pintu rumah.
Aroma jeruk seketika menyeruak memenuhi indra penciuman tatkala masuk ke dalam ruangan, rapi dan bersih. Dua kata itu yang mewakili ruangan ini. Hanan tersenyum, mengedarkan pandangan.
“Gue ... ke dapur dulu, ya. Siapin minuman buat lo. Lo pasti haus, kan?”
“Eh, jangan. Nggak perlu. Saya bisa ambil sendiri, kamu tunggu saja di sini. Di mana dapurnya?”
“Lurus aja, nanti juga keliatan,” ujar Sabna, menunjuk ke arah berlawanan dengannya. Menatap Hanan yang mengangguk paham, membiarkan lelaki itu untuk mengambil minuman sesuka hati.
Sementara dia, masuk ke dalam kamar sebentar bersama kursi roda yang sejak tadi menemani.
Mengingat bukan di rumah sendiri, Hanan bergegas mengambil teko yang sudah terisi dengan air, juga dua gelas. Kemudian, melangkah kembali ke ruang utama.
Melihat tidak ada Sabna di sana, dia panik. Memanggil gadis itu dengan pelan seraya meletakkan teko dan dua gelas di atas meja.
“Sab ... Sabna!”
Hening, tak ada jawaban. Dia kembali mengulang panggilan, kali ini sedikit keras. Mencari ke luar, tidak ada. Kemudian, masuk kembali. Melihat ada dua ruangan pintunya terbuka, dia memberanikan diri untuk mencari Sabna di sana.
Tidak ada, kosong. Hanya ruang yang rapi dengan tempat tidur yang bersih. Ruangan kedua juga sama. Hanya tersisa satu ruangan saja, pintunya tertutup. Hanan melangkah ke sana dengan jantung yang berdegup kencang. Takut, khawatir. Antara cemas terjadi apa-apa pada Sabna dan disangka yang tidak-tidak.
Akhirnya, pertama dia mengetuk pintu dahulu beberapa kali, memanggil nama gadis itu lagi dengan nada sedikit keras sembari menempelkan daun telinga pada pintu.
“Sab ...,” ulangnya, lalu mengetuk pintu lagi.
Tak ada jawaban. Sesaat berpikir, apa yang harus dia lakukan. Tak ada pilihan lain selain membuka pintu ini. Dia akan menerima apapun resikonya.
Perlahan, Hanan mengulurkan tangan, memutar knop pintu. Ternyata tidak dikunci, dia bisa masuk dengan mudah.
Akan tetapi, setelah pintu terbuka, matanya membulat dengan sempurna saat melihat gadis yang sejak tadi dia cari sudah terkulai lemas di lantai dengan darah mengalir segar dari hidung.
“Sabna!” pekiknya, langsung berhambur menghampiri gadis itu. Bersimpuh tepat di hadapan Sabna.
“Sab ... Sabna! Ini saya, Hanan. Bangun, Sab!” panggilnya seraya menepuk pelan pipi Sabna. Berharap ada keajaiban, gadis itu sadar.
Seketika senyumnya terbit tatkala melihat mata Sabna berkedip, doanya terkabulkan. Gadis itu membuka mata secara perlahan.
“Han-nan ....”
Hanan mengangguk dengan cepatn “Iya, ini saya! Kita ke rumah sakit, ya?”
Sabna menggeleng lemah. “Tidak usah, tolong bawa gue ke atas kasur saja, Han.”
Hanan langsung mengangguk, membopong tubuh gadis itu secepat kilat dan membaringkannya di atas kasur.
“Kamu ini kenapa tiba-tibi bisa pingsan seperti tadi? Kalau terjadi apa-apa dan tidak ada orang yang menolong, bagaimana?” cerocos Hanan dengan mata terus mengedar, mencari tisu.
Lembaran putih yang sangat tipis itu ada di atas meja rias, dia segera bangkit dan memgambilnya. Mengusap darah Sabna dengan lembut, membersihkannya.
Sementara Sabna, dia hanya bergeming. Membiarkan Hanan melakukan itu semua. “Lo bukannya harus segera balik ke rumah? Gih, pulang. Nanti dicariin istri lagi. Gue nggak papa kok, di sini.”
Perkataan Sabna menghentikan aktivitas Hanan, lelaki itu menatap Sabna sekilas. Kemudian, membuang tisu yang sudah berlumur darah ke tong sampah yang terletak di pojok ruangan.
“Saya akan temani kamu di sini sampai sore. Akan pulang setelah memastikan kamu tidur.” Setelah mengatakan itu, Hanan ke luar mengambil air yang dia bawa tadi. Kemudian, memberikannya pads Sabna. “Minum, terus minum obat,” ucapnya, menyodorkan beberapa pil yang dia ambil dari atas nakas bersama segelas air putih tadi.
Sabna mengangguk, meminumnya dengan cepat, pandangannya tetap terarah pada lelaki itu. Dia tersenyum tipis, hampir tak terlihat.
“Ahh .... udah,” ucap Sabna, mengembalikan gelas yang isinya tinggal setengah itu pada Hanan.
“Ya sudah, istirahat. Kalau butuh apa-apa, saya ada di ruang tamu, ya.” Hanan tersenyum, mengusap kepala Sabna dengan lembut.
Sejak dulu, dia memang sudah menganggap Sabna seperti adik sendiri. Mengingat dia hanya seorang anak tunggal yang tak mempunyai saudara. Jadilah kasih sayangnya dia letakkan pada gadis itu.
“Han, makasih.”
Hanan menoleh, tersenyum, mengangguk. Meninggalkan ruangan dan duduk termenung di ruang tamu. Membiarkan gadis itu istirahat.