Kesal

1112 Kata
“Hah?” Sabna menoleh, mendongak menatap Hanan tak percaya. Apa yang tadi dia dengar tidak salah. Hanan meminta mereka untuk membantunya masuk ke dalam mobil? Yang benar saja! Dua perawat itu langsung menghampiri kursi roda Sabna, membopong gadis itu untuk masuk ke dalam mobil yang tadi sempat dipesan Sabna. Sementara Hanan, lelaki itu tetap bergeming di tempat, memperhatikan dua perawat itu sampai Sabna duduk di jok belakang. Beruntung, sopir ojek online sudah sampai dari tadi, membuat dia dan Sabna tidak harus menunggu lagi. “Terima kasih, Mas,” ujar Hanan, tersenyum. Menatap dua perawat itu dengan riang. Kemudian, ditanggai senyuman juga oleh mereka dan lekas berpamitan. Sesaat Hanan menatap kepergian mereka sebelum akhirnya menyusul Sabna dan duduk tepat di samping gadis itu, kursi roda sudah aman di bagasi. Kemudian, meminta sang sopir untuk segera jalan menuju arah tujuan yang sudah diberikan di aplikasi. Roda mulai berputar, kendaraan beroda empat itu menyusuri jalanan. Embusan angin terasa dari celah jendela kaca. Memecah hening yang terjadi di antara Hanan dan Sabna. Dua manusia itu sibuk dengan pikiran masing-masing atau mungkin, Sabna sedang meredam emosi karena insiden tadi. Tampak wajah gadis itu tak biasa. Hanan melirik Sabna dari sudut matanya, terlihat jelas sekali gadis itu merajuk. Mengyilangkan tangan di d**a dan menekuk wajah. “Kamu kenapa, marah?” Hanan bersuara, memecah keheningan di antara mereka. Tidak mungkin selama perjalanan terus menerus saling diam, bukan? Sabna tak menggubris pertanyaan lelaki itu, dia sudah terlanjur marah. Kemudian, memalingkan wajah ke lawan arah. Tak berniat untuk menoleh pada Hanan sedikit pun. Terdengar jelas helaan napas kasar dari Sabna, menandakan benar-benar sedang menahan emosi tak terkira. Biarlah, Hanan juga tak sepenuhnya salah. Toh, dia hanya ingin membantu mengantarkan gadis itu pulang. Setelah semuanya selesai, dia juga akan segera pulang. Merasa tak ada suara lagi, Hanan tak membujuknya kembali, Sabna menoleh. Berdecak kesal. “Ish! Lo kok, diem aja, sih?” Hanan menoleh, menatap gadis bermata belo itu dengan heran. “Memangnya kenapa? Saya harus apa? Bukannya tadi kamu, yang nggak mau bicara sama saya?” “Lo itu ... ish!” Sabna meremas tangannya sendiri, kesal. Mendelik pada lelaki tak merasa berdosa itu. “Ngapain, sih, pake minta orang lain segala buat angkat tubuh gue? Seberat itu ya, gue? Apa lo udah nggak mau deket-deket gue lagi?” “Bukan gitu, Sab. Kamu tau, kan, saya sudah punya istri. Apa kata orang nanti, kalau lihat saya yang sudah memiliki istri malah gendong gadis lain?” Sabna bergeming, mendadak matanya terasa panas saat mendengar Hanan benar-benar mengakui segalanya. Pelupuknya dipenuhi embun, tetapi tak dia pedulikan. Sabna justru malah lebih memilih untuk membuang pandangan ke sembarang arah, menghindari tatapan Hanan. “Lo ... lo jahat, Han. Lo jahat!” ungkap Sabna dengan suara bergetar, sontak membuat Hanan langsung menoleh. “Hei, kenapa kamu menangis?” Hanan mencoba meraih tangan gadis itu, tetapi langsung mendapat tepisan kasar. “Jangan sentuh gue! Lo bilang kemarin, nggak akan ada yang marah saat gue tanya baik-baik. Nyatanya apa? Lo udah punya istri dan gue nggak tau sama sekali tentang itu!” jelas Sabna sambil terisak, tak bisa lagi menyembunyikan sesak dalam d**a. Dia sesenggukan. Hanan bingung, memang apa masalahnya? Kenapa Sabna sampai menangis seperti ini? “Lho, saya jawab apa adanya, Sab. Hana memang tidak pernah marah soal hal sepele seperti ini. Dia gadis yang, baik, lembut, dan sabar. Saya yakin, dia tidak akan marah saat tau kita pernah jalan. Itu pun, karena kamu sedang sakit. Dia pasti paham. Makanya saya jawab tidak ada yang marah, benar, kan? Di mana letak salahnya?” jelas Hanan, mencoba memaparkan semua apa yang ada dalam otaknya. Gadis itu bergeming, masih dalam posisi yang sama, memalingkan wajah dari Hanan. Terisak pelan mendengarkan penjelasan lelaki itu. “Tapi, lo harusnya jujur, Han, kalau lo udah punya istri!” ketus Sabna, tanpa menatap pada sahabat masa kecilnya itu. Hanan mendengkus pelan, rumit sekali jika sudah berhubungan dengan perasaan perempuan. Selalu saja serba salah dan lelaki yang selalu disalahkan. “Oke, oke, saya salah dan saya minta maaf. Sudah, jangan menangis lagi,” putus Hanan pada akhirnya dia yang harus mengalah juga. Tak ada jawaban, dia menyerah. Sedikit memberi jarak dengan Sabna, merapat ke arah pintu mobil, menikmati perjalanan mungkin lebih baik dari pada harus berdebat seperti itu. Tanpa mereka ketahui, sang sopir justru tengah menahan tawa. Perdebatan antara sepasang kekasih memang sudah biasa. Ah, anak zaman sekarang semuanya serba karena cinta. Mobil terus melaju membelah jalanan, menapaki jalan yang semakin ramai dipadati pengendara. Sang surya juga semakin meninggi, terik menusuk kulit dari atas langit. Tak ingin berdebat lagi, Sabna menghapus jejak air mata dengan kasar. Kemudian, menyandarkan kepala pada kursi. Terasa empuk dan nyaman. Ditambah jendela yang sengaja dibuka sedikit agar ada pertukaran angin untuk kesegaran napas. Tiba-tiba kantuk menyerang, dia menguap pelan. Matanya perlahan terpejam, membawa dia pada mimpi indah dibumbui beberapa kenangan. Hanan masih tetap melihat ke luar, meredam amarah karena perdebatan tadi. Dia paling tidak suka jika harus dipojokkan. Dia merasa tidak bersalah, kenapa harus disalahkan? Namun, mau bagaimana lagi, wanita memang selalu merasa paling benar sendiri saja. Jarka dari rumah sakit menju rumah Sabna memang cukup memakan waktu lama. Namun, hal itu tak membuat Hanan merasa keberatan sedikit pun. Tak pula merasa menyesal karnea membantu mengantar gadis itu pulang. Lagi pula, dulu dia dan Sabna bersahabat. Jadi, sudah sepatutnya dia melindungi gadis itu walau kini, semuanya sudah banyak yang berubah. Dulu, Sabna memang banyak membantunya perihal pelajaran. Istilahnya, belajar bersama. Sering sekali setiap pulang sekolah, pergi ke danau hanya untuk mengerjakan tugas. Selain karena udaranya yang terasa sejuk, membuat pikiran menjadi fresh, juga setelah belajar bisa bermain sebentar. Dia dan Sabna bisa dikatakan banyak memiliki kesamaan. Dari mulai makanan favorit, warna, hal mana yang sangat disukai, hobi, dan beberapa hal lainnya termasuk ketidak begitu sukanya dengan bermain. Mereka memang lebih suka menghabiskan waktu untuk belajar bersama ketimbang main biasa. Dengan kata lain, belajar sambil bermain. Itu lebih membuat mereka bersemangat. Tak heran, jika saat SMP dulu keduanya dijuluki King dan Queen, karena sering menjadi juara kelas. Decitan rem terdengar, membuat Hanan terkesiap. Terasa pundaknya berat, dia menoleh. Tampak Sabna tertidur pulas. Ternyata sejak tadi gadis itu sudah pergi ke alam mimpi. “Sudah sampai, Mas,” papar sang sopir. Hanan langsung menoleh ke luar, rumah sederhana dengan desain minimalis, terletak di komplek elit. Apa rumah biru putih itu adalah rumah Sabna yang sekarang? “Oh, iya, Pak. Berapa totalnya?” “Sudah dibayar via aplikasi, Mas.” Hanan ber-oh ria, mengangguk paham. Dia menoleh ke samping, hendak membangunkan Sabna dan memberi tahu gadis itu untuk segera bangun karena mereka sudah sampai. Namun, melihat wajah Sabna yang terlihat lelah, dia mengurungkan niat, merasa tidak tega jika harus membangunkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN