Panas

1123 Kata
“Udah, nggak papa, Bu. Kasian Sabna kalau harus pulang sendiri. Orang tua kamu ke mana?” Hana menengahi, berusaha agar ibu mertuanya itu tak lagi emosi. “Orang tua ... udah nggak ada,” jawab Sabna dengan nada lemah. Menunduk. “Tuh, kan, Bu. Kasian. Aku kan masih ada Ibu dan Papah. Kalau Sabna? Dia sendiri. Takut di jalan kenapa-napa. Jadi, biarkan Mas Hanan yang antar.” “Huh! Ya sudah, sana pergi. Awas!” usir Maya secara terang-terangan, menyingkirkan tangan Hanan dari pegangan kursi roda, beralih dia yang mendorong Hana. “Eh, sebelum itu, gendong Hana sampai parkiran!” Hanan berniat protes, tetapi sudah lebih dulu mendapatkan tatapan tajam dari sang ibunda. “Apa kamu mau, membiarkan ibu dan papahmu yang gendong Hana? Tega sekali kamu kalau begitu.” Sabna terkejut, menatap Hana yang ada di kursi roda itu, lalu beralih menatap Hanan yang mengangguk. Apa-apaan ini, dia harus menonton ini semua, begitu? Lelaki itu berjalan ke arah sang istri, menatap lurus ke depan walau jantungnya seperti tengah berolah raga. Semakin jarak terkikir, semakin dia akan sampai pada posisi Hana, semakin cepat pula jantungnya berdetak. Sementara Hana, gadis itu hanya menunduk dalam. Membiarkan lelaki itu terus mendekat. Maya dan Arya saling pandang, tersenyum lebar. Bukankah itu hal lumrah yang dilakukan sepasang suami istri? Berbeda dengan mereka, Sabna justru tengah mengepalkan tangan di atas paha. Meremas dengan kuat, dadanya terasa bergemuruh, darahnya terasa mendidih. Sialan, dia harus melihat adegan romantis di depan mata. Bukan ini yang dia inginkan. Namun, dia bisa berbuat apa? Semakin Hanan mendekat, semakin membuat darahnya mendidih sampai ke ubun-ubun. Kaki Sabna terus menekan penyanggah kursi roda, pandangannya tetap pada Hanan dan wanita di atas kursi roda itu. Tanpa disadari, kakinya yang terus menekan penyanggah, membuat kursi roda yang dia tumpangi semakin maju ke depan. Kehilangan keseimbangan dan .... “Aaaaaa, Hanan!” peliknya kemudian tersungkur ke depan, terkejut bukan kepalang. Semua orang yang ada di sekitar teras rumah sakit, langsung menoleh ke sumber suara jeritan. Tampak seorang gadis sudah terjatuh dari kursi roda, sontak mereka langsung berlarian menghampiri. Hanan yang berniat menggendong Hana, melihat Sabna tersungkur mendongak, terkejut. Hendak menolong gadis itu, tetapi langsung dicegah oleh sang ibunda dengan tatapan tajam. “Mau ke mana kamu?” Maya memegang lengan sang putra, menoleh sesaat pada gadis yang tengah merintih kesakitan itu. “Mas, Sabna!” seru Hana, hendak berdiri dan berlari ke sana, tetapi hampir jatuh karena kondisi tubuh yang masih lemah. “Hana!” pekik Maya dan Hanan secara bersamaan. Beruntung, dengan sigap Hanan menopang tubuh sang istri dan membawanya ke dalam pelukan. “Kamu mau ke mana, sih?” tanya Hanan, menunduk menatap sang istri. Hana langsung menoleh ke arah Sabna, diikuti Hanan. “Sabna kasian, Mas.” “Udah, jangan pikirin dia. Sabna sudah ada yang nolong, tuh, orang-orang ramai bantu dia buat naik ke kursi roda. Hanan mengangguk, benar apa yang dikatakan ibunya itu. Lagi pula, sudah ada tenaga kesehatan yang membantu gadis itu. “Cepat, bawa Hana ke dalam mobil.” Maya memberikan instruksi, mengingatkan Hanan agar segera membawa Hana masuk. “Tapi, Mas ... kalau sudah bawa aku ke dalam mobil, kamu bantu Sabna, ya. Antar pulang.” “Tanpa kamu suruh pun, saya pasti melakukannya.” Tanpa ba-bi-bu lagi, Hanan langsung mengangkat tubuh Hana ala pria. Menggendongnya dengan mesra. Refleks, tangan Hana juga melingkar di lehernya. Menyandarkan kepala pada d**a bidang Hanan. “Nggak usah takut, saya hanya bawa kamu sampai ke mobil, bukan buat lari.” Hanan melangkah perlahan, tak ada percakapan lagi setelah itu. Diikuti Maya dan Arya dari belakang dengan membawa barang-barang. Semua orang yang sudah menolong Sabna, memperhatikan aksi lelaki yang menggendong istrinya. Begitu romantisnya sepasang suami istri itu. Manis sekali walau di depan umum. “Aaaa, manis banget, ya, mereka.” “Romantis sekali. Yang satu cantik dan yang satu ganteng!” celetuk beberapa orang, juga pujian-pujian lainnya. Siapa, sih, yang tidak merasa kagum saat melihat lelaki berpakaian formal, setelan jas hitam menggendong istrinya dengan begitu mesra? Terlebih, istrinya memakai gamis dan jilbab. Sudah romantis, manis, halal pula. Akan tetapi, hal itu malah membuat Sabna semakin mengeratkan kepalan tangan. Mereka mengatakan itu tepat di sekelilingnya. Menyebalkan! Dia mendengkus kesal, menatap punggung Hanan yang sudah sampai di kendaraan beroda empat itu. Membantu wanita tersebut masuk ke dalam mobil. Sementara dirinya? Masih di atas kursi, mendengarkan pujian untuk mereka! Awas saja! Mereka akan membayar semua apa yang terjadi hari ini. Dari rasa malu yang dia tanggung, rasa marah dan kesal. Darahnya terasa mendidih sekali. Namun, dia tidak boleh gegabah. Dia harus tetap terlihat anggun. “Sabar, Sab ... sabar ...,” gumammya pelan. Menarik napas panjang, mengembuskannya secara perlahan. Walau sudah berkali-kali membuang napas dengan kasar, rasa kesal itu masih tetap bersemayam dalam d**a. Bibirnya tertutup rapat, giginya saling beradu dengan kuat. Kepalanya juga semakin keras. “Huh!” gerutunya sambil memukul kursi roda dengan keras. Beruntung semua orang sudah bubar sejak tadi. Dia bisa melampiaskan emosi sesuka hati. Lihat saja, dia akan membayar semua ini dengan yang jauh lebih menyakitkan. Hana ... wanita berjilbab itu akan segera merasakan pembalasan darinya. Sabna memperhatikan setiap gerak-gerik Hanan, tanpa lepas sedikit pun. Lelaki itu menutup pintu mobil, melambaikan tangan dengan senyum merekah menghiasi wajah. Membiarkan mobil hitam mengkilap itu meninggalkan area parkiran. Lantas, Hanan menoleh ke arah Sabna. Gadis itu tengah menatapnya dengan tatapan tak biasa. Dia mencoba bersikap seperti biasa. Menghela napas pelan, lalu melangkah menghampiri gadis tersebut. Setiap langkah Hanan tak luput dari perhatian Sabna. Gadis itu tetap setia memperhatikan Hanan sampai ada di depannya. Keduanya bergeming, hanya angin berembus memecah keheningan di antara mereka. Hanan berjongkok, tersenyum. Menatap gadis itu dengan lekat. “Mau pulang sekarang?” Sabna masih saja bergeming, lalu memalingkan wajah dengan raut jelas terlihat menahan kekesalan. “Ojolnya masih lama? Biar saya antara saja, ya.” Hanan mencoba tetap ramah, membujuk Sabna agar mau bicara padanya. Dia tahu, gadis itu merasa tersinggung dengan ucapan Maya tadi. “Gue mau balik, sekarang.” Hanya ucapan itu yang keluar dari mulut Sabna. Hanan mengangguk, mendorong kursi roda Sabna sampai ke parkiran. Menghiraukan tatapan orang-orang yang mungkin, tengah keheranan. Karena tadi menggendong Hana dan sekarang, mendorong gadis lain lagi. Dia mengedarkan pandangan, mencari siapa yang bisa membantunya. Tampak dua lelaki memakai seragam tenaga kesehatan sedang melintas. Buru-buru dia memanggil mereka. “Mas ... Mas!” Dua lelaki tenaga kesehatan itu menoleh padanya, dia segera melambaikan tangan, pertanda meminta mereka untuk menghampirinya. Mereka mengangguk, melangkah menghampiri Hanan. Hanan langsung menyambut kedatangan mereka dengan senyuman. “Apa ada yang bisa kami bantu, Pak?” tanya salah seorang tenaga kesehatan. “Iya, ada. Tolong kalian bantu gadis ini masuk ke dalam mobil, ya. Bisa, kan?” Hanan menunjuk ke samping, tepat di mana Sabna duduk di atas kursi roda.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN