Sang surya telah kembali, menyinari bumi setelah sang fajar hilang. Tampak ceria menyambut pagi hari. Namun, berbeda dengan orang-orang yang berada di kamar rawat ruang melati. Mereka tengah sibuk merapikan barang-barang.
Hana menatap tiga orang yang tengah sibuk mempersiapkan kepulangannya. Arya, sang ayah mertua baru saja kembali setelah mempersiapkan mobil. Maya, sang ibu mertua masih memasukkan beberapa pakaian ke dalam tas jinjing.
Sementara Hanan, suaminya itu tengah menghubungi sekertarisnya agar menghandle pekerjaan pagi ini. Karena mungkin, dia akan bisa kembali ke kantor siang nanti setelah memastikan Hana sampai di rumah.
“Sudah selesai semuanya, Pah? Mobil, gimana?” tanya Maya setelah menarik resleting, menutup tas dengan rapat.
“Mobil sudah siap, Bu.”
“Hanan, administrasi sudah kamu bayar, kan?”
Hanan menoleh, mengakhiri panggilannya dengan Alex. Mengangguk. “Sudah, Bu.”
Maya tersenyum, lalu menatap sang menantu. Mengusap kepala Hana dengan penuh kasih sayang. “Kita akan pulang ke rumah. Kamu pasti sudah bosan, ya, di sini terus?”
Hana tersenyum malu. Memang benar, dia merasa bosan terus berada di ruangan ini. Dengan infus dan obat-obatan yang harus dia konsumsi. Apa enaknya terus tidur tetapi terus juga memakan pil pahit?
Terdengar bunyi ketukan pintu tiga kali, Maya mempersilakan masuk. Tampak seorang suster yang menyembul di balik pintu, mendorong kursi roda dan menghampiri ranjang Hana.
“Ini kursi rodanya, Bu. Silakan,” ucap suster berperawakan tinggi dan putih itu disertai senyuman, sopan sekali.
“Terima kasih, Sus.” Maya membalas senyumannya, membiarkan suster itu pergi meninggalkan ruangan setelah berpamitan. Kemudian, menatap Hanan yang masih berkutat dengan ponsel. “Hanan ....”
Merasa namanya disebut, Hanan mendongak dengan wajah malas.
“Gendong Hana ke kursi roda.”
“Hah?”
“Hah, heh, hoh. Gendong! Masa Hana harus jalan sendiri ke kursi roda? Atau ibu dan papahmu yang menggendong istrimu, hum?”
Hanan menggaruk tengkuk yang tak gatal. Benar juga, masa iya kedua orang tuanya yang harus menggendong Hana. Namun, haruskah dia yang menggendong Hana ke kursi roda?
“Cepetan! Keburu siang nih, nanti macet jalanan. Kasian Hana, kepanasan.” Maya gemas sendiri karena putranya tak kunjung beranjak dari kursi.
“Iyaiyaaa.” Hanan mendengkus kesal, memasukkan benda pipi itu ke dalam saku celana. Berjalan menghampiri sang istri yang masih bersandar pada bantal di atas ranjang.
Gadis itu menunduk, meremas tangan sendiri yang disembunyikan di balik jilbab. Detak jantungnya seketika bertalu jauh lebih cepat. Apalagi, saat tangan Hanan sudah menyentuh kulitnya, terasa hangat desiran dalam d**a.
Maya dan Arya tersenyum, menatap putra dan sang menantu. Tampak serasi sekali mereka, ganteng dan cantik.
Dengan hati-hati, Hanan merebahkan tubuh sang istri di atas kursi roda dengan pelan. Sesaat matanya bertemu dengan mata Hana. Saling menatap beberapa saat sebelum akhirnya suara dehaman begitu kerasa membuat mereka langsung membuang pandangan.
“Ehem ... ehem. Kami masih ada di sini, lho.” Maya menahan tawa saat memperagakan dehaman sang suami yang membuat momen putra dan menantunya menjadi rusak.
“Apaan sih, Ibu sama Papah.” Hanan mendengkus kesal, memasang wajah datar kembali.
Sementara Hana, gadis itu sudah menunduk menahan malu sembari tersenyum. Baru kali ini, dia melihat mata Hanan secara dekat. Lelaki itu seperti salah tingkah saat terkena candaan sang ibu mertua.
Tak ingin terus merasa terpojokkan, Hanan segera mendorong kursi roda Hana ke luar. Membuat kedua orang tuanya hanya terkekeh menanggapi sikapnya itu.
Pasalnya, semalam dia sudah begadang menunggu dan menemani Hana. Pulang nanti, berniat untuk tidur satu atau dua jam sebelum pergi ke kantor. Matanya terasa begitu berat, Hanan tak bisa lagi menahan kantuk. Beruntung, Mang Eman-sang sopir sudah datang. Disa bisa istirahat mengemudi nanti.
Di belakang Hanan, sang ibunda sudah bergelut manja di lengan Arya-sang suami. Menatap putranya dengan senyum yang terus mengembang menghiasi wajah. Bersyukur dalam hati, berharap putranya itu terus akan baik dan lembut seper itu.
Ibu mana pun pasti akan bersedih jika melihat putranya terluka. Juga akan senang tatkala melihat putra mereka bahagia. Hal itu tengah dirasakan Maya. Semoga dengan adanya Hana, bisa membuat Hanan lupa akan masa lalu, sedikit demi sedikit.
Tak bisa dipungkiri, jantung Hanan bertalu lebih cepat. Apalagi, saat menatap kepala Hana yang terbungkus jilbab pashmina merah muda. Mengapa perutnya seperti terdapat ribuan kupu-kupu, menggelitik membuat senyumnya hadir menghiasi wajah?
Dadanya bak dipenuhi bunga-bunga bermekaran. Euforia kebahagiaan terasa sekali. Sebenarnya, apa yang terjadi padanya? Apa karena terlalu banyak minum kopi semalam? Ah, mungkin, bisa jadi karena itu.
Cahaya mulai menyapa, angin berembus menenangkan, menembus pori-pori dengan begitu lembutnya. Akhirnya, Hana bisa juga menikmati udara segar pagi hari, setelah dua hari terus dikurung di dalam ruangan.
“Hanan!” panggil seseorang tatkala sudah sampai di teras rumah sakit, tampak lelaki yang dia panggil tengah mendorong kursi roda yang ditumpangi seorang wanita. Jadi benar, Hanan sudah memiliki istri?
Hanan menoleh, terkejut saat melihat gadis berambut pirang berada di atas kursi roda. Sendiri.
“Lho, Sabna? Kamu ngapain di sini? Kenapa keluar dari ruangan?” tanya Hanan, berbondong-bondong, menandakan rasa khawatir pada gadis itu.
Mendengar suaminya berbicara dengan seseorang, Hana menoleh ke samping. Mendapati sosok gadis tanpa jilbab juga tengah dalam kondisi yang sama dengan dirinya, di atas kursi roda.
“Siapa, Mas?” tanyanya, mendongak, menatap sang suami.
“Ini Sabna, sahabat SMP saya dulu.” Hanan menjawab seadanya, menatap Hana yang sudah ber-oh ria.
“Hai, gue Sabna,” ucap gadis itu sembari mengulurkan tangan, tersenyum manis memperkenalkan diri.
Hana langsung menyambutnya dengan hangat, menjabat tangan Sabna dengan lembut. “Hana, istrinya Mas Hanan.”
“Kalau gitu ... gue pulang dulu, ya.”
“Hanan, kenapa berhenti?” tanya Maya yang menyadari putranya berhenti di tengah jalan. Kemudian, menoleh pada gadis di samping yang juga sama dengan Hana, duduk di atas kursi roda.
“Kamu bukannya belum sehat betul? Kenapa pulang? Terus, kamu pulang sama siapa?” Wajah Hanan terlihat amat cemas saat menanyakan hal itu.
“Gue baik-baik aja, kok. Gue pulang sama taksi online, udah pesen tadi.”
“Hanan, siapa?” Maya yang sejak tadi memperhatikan, ingin tahu siapa gadis yang berbicara dengan putranya itu. Sementara Arya, tetap setia memperhatikan.
“Ini Sabna, Bu. Teman SMP dulu. Masih ingat?”
“Sabna?” Maya mencoba mengingat nama itu. “Ohh! Iyaiya, ibu ingat. Wah, sekarang sudah besar, ya. Cantik lagi. Yaaa, walau pun tetap lebih cantik Hana menantu ibu. Iya kan, Hanan?”
“Apaan, sih, Ibu. Kenapa malah bahas hal lain.” Hanan menggeleng pelan, menatap Sabna yang menunduk. “Kalau gitu, saya antar saja. Kasian kalau harus pulang sendiri. Kamu kan belum sehat betul.”
“Betul, Mas. Kasian Sabna. Lebih baik Mas antar saja, biar Ibu dan Papah yang antar aku. Lagian, ada Mang Eman yang jadi supir.” Hana menimpali, sedangkan Maya tampak tak terima.
“Enggak! Hanan! Istrimu kan Hana, bukan Sabna! Kok, kamu malah lebih memilih anterin Sabna, sih?” protes Maya. Sementara Arya hanya menggeleng saja, sudah bisa ditebak pasti akan terjadi perdebatan lagi.